Category Archives: 1

Rumah besar..Lewu hante peninggalan Kakah

Lewu Hante Saat itu saya masih ingat betul, tanggal 16 juli 1989 saat liburan panjang, kami sekeluarga besar kumpul dirumah Kakek/Kakah. Rumah tempat kami berkumpul adalah sebuah rumah besar yang terletak di tengah hutan, di dekat ladang Kakah. Hutan Hujan tropis dekat perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Saat itu saya masih kelas 3 naik ke kelas 4 SD. Kami kumpul disini karena ada hajat besar, Kakah dan Itak/Nenek saya menyelerenggarakan-katakanlah pesta panen- sekaligus miwit alah jumpun atau memberi sesajen Roh Nenek Moyang kami. Konon Roh Roh Nenek moyang kami bisa menjumpai kami dari alam lain dengan muncul di sebuah pohon Nyatoh di lereng bukit keramat, kami biasa menyebutkan Wungkur Natu. Kami sebagai penganut Katolik ikut memeriahkan ini (sekedar datang, tidak jadi belian), karena Ayah saya menghormati undangan Kakah. Kakah adalah penganut Katolik yang pada saat itu-menurut saya-hanya katolik KTP, karena kehidupan beliau masih sangat percaya pada hal hal yang bersifat mistik,punya banyak “pegangan”, dan mempunyai banyak indera.

Dari segala tetek bengek persiapan pembuatan sejajen mulai berbagai jenis kue kue khas sesajen Dayak Maanyan seperti Pasike, katupat wurung, katupat jagau, katupat urang, bubur putih-bubur habang, tangkurak batu, wajik, nahi dite, nahi lungkung, gula bulat, niyui bulat, dilengkapi dengan telor,limun merah, beras baru, nasi, nasi ketan, nasi ketan hitam, wajik, cucur merah, kapur sirih, daun sirih, pinang, bunga pinang, bunga kelapa, air kelapa muda, ayam kampung panggang, darah ayam dalam mangkok, lengkap dengan daun rirung-kamat dan rawen patei (daun mati dari tumbuhan genus Artocarpus yang berdaun majemuk). Semua disusun dengan jumlah dan aturan tertentu yang susah saya fahami dengan otak seorang anak SD baik naik ke kelas IV. Pembuatan sesajen ini memakan waktu satu hari penuh. Saya sendiri lebih tertarik pada kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga besar kami dari Ayah. Ayah merupakan anak Sulung dengan 7 orang adik. Adik adik Ayah semuanya beranak banyak, ditambah kami 7 bersaudara, jadinya saya nyaris tidak hafal saudara sepupu sekali atau sahindraan, belum lagi sepupu dua kali atau 3 kali yang kami sebut sebagai sanruehan dan santeluan. Rumah tempat kami kumpul adalah rumah besar atau lewu dedeh, milik kakek saya, yang berdiri di tengah hutan hujan tropis dekat perbatasan Kalteng dan Kalsel. Ayah dan adik adiknya walaupun pun punya rumah masing masing di Kampung, juga punya “rumah kedua” atau pondok dekat rumah besar milik Kakah. Rumah ini berukuran besar sekali dan nyaris tidak berkamar kecuali dinding pemisah antara rumah dan dapur. Rumah terbagi menjadi empat bagian yaitu rumah utama, dapur, lumbung padi, beranda belakang. Di belakang rumah terdapat kandang ayam, kandang iwek, kolam ikan (ikannya hasil tangkapan, dikarantina sebelum masuk periuk kami), kebun tebu, kebun sayur, kabun cempedak, durian dan banyak sekali jenis buah buahan. Kakah adalah tuan tanah dengan puluhan hektar tanah milik sendiri di hutan ini. Saat keluarga ini berkumpul, kami tidur dalam kelambu yang dipasang berbaris rapi dalam rumah induk, mungkin sekitar puluhan kelambu dibaris aneka warna, bentuk dan bau (he he he) dipasang. Saya dan abang saya bersama sama dengan sepupu laki laki lainnya biasanya mendapat jatah kelambu dekat dengan pintu, dengan alasan Kakah supaya kelak kami akan menjadi pemuda pemberani dan gagah perkasa mempertahankan tanah ulayat ini.

Rumah besar atau lewu hante ini juga ada TVnya lho, Televisi hitam putih ukuran 14 inci yang kami stel tiap malam minggu, setelah paman saya pergi ke Pasar Panas naik sepeda ontel untuk nyetrum accu, seingat saya malam minggu ada acara berita nusantara, berita nasional, aneka ria safari, dunia dalam berita dan –ini dia acara favorit itak dan ineh-Filem cerita Akhir pekan, dengan artis seperti Meriam Bellina masih muda, Rano Karno, Sophan Sophian, Widyawati, kadang kadang ada Rhoma Irama dan Yati Octavia. Amah dan Paman paman saya suka berita-semua berita TVRI waktu itu, tentu saja setelah disensor habis oleh Menpen- selalu menceritakan betapa pemerintah terus membangun negeri, betapa hebatnya Soeharto, keluarganya, dan menteri menterinya, betapa rukunnya anggota DPR/MPR dst , dengan cameramen TVRI yang selalu mengambil gambar pejabat dengan angle dari depan, lengkap dengan konco konconya dibelakang saat diwawancara. Tidak pernah terdengar berita Korupsi, semua berita bagus bagus terdengar. Didapur ada deretan kusi atau guci yang berisi wadi, pakasem, atau pajaan baik wawui maupun ikan, termasuk pajaan papai, sementara di dekat perapian kadang banyak dendeng wawui, rusa, kijang atau ikan arungan yang besar. Pokoknya pojok ini adalah gudang logistik protein kami tanpa harus membeli, pantas kami cucu cucunya pintar pintar semua (he he he udah narsis dari kecil), di SD saya selalu juara kelas, bukan karena pintar, tapi karena tingkat ketidakpintaran saya paling kurang parah dibandingkan dengan teman teman sekelas he he.

Ayah saya punya Pondok yang –menurut saya- sangat besar berjarak sekitar 1 km dari rumah dedeh kakah. Kami sering bermalam di pondok ini bila libur sekolah, karena dekat dengan ladang, kebun, kebun karet. Pondok kami terletak ditengah tengah ladang padi yang menghijau, dekat dengan sungai nan jernih, sebuah tempat yang strategis untuk “bermain main”-begitulah fikiran saya. Tinggal di ladang memang membuat sibuk, penuh kegiatan khas anak anak. Saat itu alam masih baik, ikan berlimpah, banyak binatan buruan. Tentu saja hal yang paling kami sukai adalah menangkap ikan, apalagi pada musim kemarau, dimana sungai-sungai menjadi hampir kering, sehingga kami dengan leluasa menangkap ikan dengan tangguk/ansiding, bila musim hujan kami bisa menangkap ikan dengan memancing/mintan, mambanyur, marengge, atau memasang bubu atau tangkala. Banyak ikan baung, waan, kehung, tawelen, kadiki, saluang, pasi, sangaringan, pait, tangara, kadiki, lampuk, lier, patung dan si ikan bodoh atau ugum. Ikan Ugum kami sebut ikan bodoh karena sebelum ditangkap dia tidak pernah berkeinginan untuk melawan atau meyelamatkan diri,namun berdiam diri berharap dengan warna tubuhnya yang persis sama dengan dedaunan busuk dalam air, dia tidak terlihat dan bisa melanjutkan sisa hidupnya. Kami bersama sepupu sepupu setiap sore akan berkumpul di danau tamun, sebuah danau yang besar, gelap dan dangkal-yang konon-menurut Nenek/Itak yang sering menakuti kami- merupakan habitat ular pyton asia yang besar- untuk mandi dan main perang perangan dalam air, sebuah tempat yang sempurna untuk main main. Saya waktu bukanlah yang tergesit, karena itu sering menjadi “bajat” alias pecundangnya, menjadi penjaga atau pengejar sepupu sepupu saya yang gesit, tangkas dan cepat. Tetapi saya tidak pernah bosan, tidak pernah menyerah dan selalu ikut bermain. Sebenarnya kami dilarang orang tua untuk main di danau dangkal nan luas ini, karena konon ada ular besar yang disebut tamun. Tapi kami anak anak yang keras kepala dan bandel saat orang tua, kakah, itak, busu, yaya ke ladang kami dengan sigap menyelinap menuju danau yang ramai ini. Danau ini berair jernih kemerahan karena jenis tanahnya adalah tanah bergambut tipis. Hingga suatu sore, saat kami yang berjumlah 9 orang sedang mandi-tentunya seperti biasa kami telanjang bulat- melihat sesuatu yang membuat kami shock luar biasa. Saat segerombolan babi hutan minum air danau bagian yang berumput, tiba tiba dua ekor ular sebesar batang kelapa, dengan panjang kira kira 20 meter-yang entah muncul dari mana- menyambar dan membelit masing masing 1 ekor babi hutan, suara gaduh dan raungan dari rombongan babi hutan membuat kami terkejut. Seumur umur kami belum pernah lihat ular panganen sebesar ini, dan anehnya betapa “baik hatinya” ular ular raksasa ini, tidak memangsa kami yang saban hari mengacak ngacak habitat mereka. Sejak itu kami tidak pernah menginjak kaki di danau ini lagi, cukup sudah.

24 Desember 2008

Dalam bus perjalanan dari Bogor ke Jakarta, aku teringat kembali dengan kenangan masa kecil kami, dengan rumah besar di tengah hutan, sudah hampir 20 tahun saya tidak ke sana. Saya bertekad untuk ke kampung Kakah, sebelum kembali ke “habitat” asli saya di Samarinda. Saya mau melihat tanah Ulayat kami, rumah besar dulu dan ingin kembali mengenang semua kenangan kenangan indah itu. Dengan wajah yang lelah, setelah kemarin berhadapan dengan 2 orang professor di LAN Jakarta dalam proses ujian untuk menjadi seorang “Raja Ilmu” alias Widyaiswara.Puji Tuhan 2 orang professor ini-satu professor ekonomi makro- satu professor teknologi pendidikan-bukan professor dari rumpun ilmu Kehutanan yang saya takuti dengan “penuh belas kasihan” meluluskan saya-diantara banyak yang belum lulus-. Rasa sedih juga muncul ketika berpisah dengan bapak bapak, ibu ibu dan abang abang dari Pematang Siantar, Bengkulu dan Pekan Baru saat harus turun di terminal IA Bandara Soekarno Hatta-mereka ke terminal lain karena menumpang maskapai yang berbeda-dengan haru saya peluk dan salami paman dan kanda melayu ini. Tekadku sudah bulat, hari ini menuju Bandara Syamsudin Noor, Banjar Baru, dan melanjutkan perjalanan darat menuju tanah ulayat milik kakah, setelah merayakan Natal bersama orang tua dulu.

26 Desember 2008

Setelah merayakan Natal bersama keluarga besar-Natal terahir saya berstatus lajang- dengan acara seperti tahun tahun biasa penuh dengan hidangan iwek dan manu khas keluarga Kristiani berdarah asli Dayak Maanyan, dengan motor saya pergi menyusuri jalan kenangan, hari ini saya harus sampai disana. Tanpa ditemani sepupu saya-awalnya sepupu perempuan saya berniat menemani, namun tugas mendadaknya sebagai bidan desa sehingga saya pergi sendiri-dengan penuh percaya diri, toh saya bukan seorang anak kecil nan dekil dengan sandal jepit dua sehari sembilan belas tahun yang silam. Saya adalah pemuda dengan penuh energi, percaya diri, penuh gairah kehidupan, penuh idealisme dan kadang saking merasa pintarnya ikut ikutan jadi pengamat politik amatiran he he he. Dengan susah payah, setelah menembus jalan kecil dengan motor, dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh 2 km saya sampai di tempat penuh kenangan dulu, dan Duh Gusti..Ya Tuhan..semua telah berubah, yang tersisa hanya pondok kecil milik paman saya, rumah besar dulu sudah tak ada lagi, sejak Kakah meninggal tahun 2002 silam, semua tidak terurus, sementara harta benda sudah diungsikan ke kampung. Bukan masalah rumah yang membuat saya terhenyak, terpukul dan terluka…tapi lihatlah, kebun nan penuh kenangan dulu sudah berubah menjadi tanah terbuka lebar, bekas kerukan alat berat untuk mengambil batu bara dari perut bumi. Hanya Kebun Karet milik Ayah saya dan kebun buah buahan dibelakangnya yang tersisa, hijau, tenang, sepi, merana, sendirian di dekat lokasi tambang. Sementara tanah yang lain sudah dijual oleh keluarga besar yang lain, mereka lebih tertarik dengan tawaran harga sampai ratusan juta. Hanya Ayah yang bertahan, itupun karena kebun tersebut memang “diakukan” ke saya. Artinya penjualan dengan alasan apapun harus seijin saya selaku owner yang sah secara adat keluarga saya. Danau habitat ular pyton asia dulu sudah tertutup, entah kemana ular ular dulu, sungai sungai tempat kami mencari ikan sudah dangkal karena sendimentasi berlebihan, dengan air keruh kuning keputihan. Hutan tempat kami mencari buah damuran, amiwunut, kamisi, pitaruk, tampupur, amusisin, sudah hilang musnah, ada camp panjang milik kuasa pertambangan di sana. Ada sebuah padang yang yang sukai dulu, yang penuh tumbuhan amukakang atau karamunting yang berbunga ungu bagaikan hamparan bunga  lavender, sudah hilang musnah berganti dengan tamah rata tempat truk truk mengangkut emas hitam.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, saya merasa gagal, merasa tidak berdaya dan parahnya lagi merasa tidak berguna, saya gagal menjaga tanah ulayat saya, gagal menjaga nilai nilai filosofis yang terkandung dalam rumah besar Kakah. Selama 4 tahun lebih bekerja di lembaga Konservasi, mana ilmu konservasi kawasan, community empowerment, comdev, economic development, yang saya dapatkan dengan susah payah tak pernah saya gunakan untuk menyelamatkan tanah ulayatku sendiri. Betapa tidak bergunanya saya yang sering dengan sangat apik dan sistematis menjelaskan bagaimana melakukan valuasi sebuah kawasan, bagaimana menilai valuasi ekonomi sebuah kawasan hutan, dengan garangnya saya mengatakan bahwa dengan sudut pandang manapun usaha pertambangan jangka pendek mempunyai nilai ekonomi jauh lebih rendah dari diusahakan dengan cara lain. Saya sosok tak berguna, hanya hebat di teori tanpa sempat menyelamatkan natat sendiri, sementara dulu dengan giat melakukan upaya upaya konservasi terhadap hutan gambut dan satwa liar, menyusuri sungai Kapuas Kalteng dan Barito, bertemu dengan masyarakat lokal,mengajak mereka menyelamatkan tanah dan hutan mereka. Tak henti saya mengutuk diri, terpaku di bawah pohon karet menatap hampa aktivitas KP, yang konon dilakukan untuk menyejahterakan masyarakat. Kini, di penghujung jalan kenangan ini, saya berdiri sendiri, betul betul sendiri, sepupu sepupu yang dulu selalu bersamaku, kini sudah hidup “berkecukupan” menjadi karyawan tambang ini mulai dari sekelas geolog, sopir, accounting, sampai kelas satpam, sementara yang lain menjadi guru, pendeta, eksekutif perusahaan juga tak pernah pulang menengok tanah ulayat ini. Tidak!..saya tidak boleh menyerah, saya tidak mau serakah, sisa tanah yang belum terjual (tak akan dijual tanpa seijin ayah saya sebagai anak sulung keturunan Kakah) ini akan saya pertahankan, tidak utuh memang, tapi ini tetap jadi kebun buah buahan dan kebuh karet sampai terhenti nafas ini, akan saya pertahankan. Saya akan membangun kesadaran akan pentingnya tanah Ulayat ini kepada keluaraga yang lain. Apapun caranya saya tidak akan menyerah, saya tidak tergiur tawaran para pengusaha tambang nan serakah itu, saya tidak akan berpaling lagi mempertahankan tanah air milik almarhum Kakah ini dengan cara apapun, bukan untuk saya, tapi untuk keturunan kami kelak, biarkan mereka masih bisa menikmati kebun buah buahan nan luas ini, menikmati sungai dan danau yang jernih, menikmati sejuknya embun pagi di tanah leluhur. Kuayunkan langkah langkah yang goyang dengan emosi yang tak pasti. Aku harus menebus kelalaian ini. Aku harus jadi umpu Kakah yang bertanggung jawab. Perlahan titik titik bening tanpa saya sadari menetes membasahi pusara almarhum Kakah dan Datu yang berada di bawah pohonn rambai yang rindang. Kakah dan Datu, inilah saya sekarang, merasa pintar namun tak berdaya. Namun mampukan kaki kaki yang goyah ini menopang ideliasme yang bersemi dalam sanubari ini?? Seekor burung suit berbunyi seakan mengejekku

Tewah Pupuh, Desember 2008

Umpu Kakah

Seri Kuliner Dayak Maanyan : Paing…

PAING…KULINER SUKU DAYAK MAAYAN

Paing dalam bahasa Maanyan adalah sebutan untuk kelelawar besar pemakan buah, dalam bahasa Indonesia di sebut Kalong. Sementara Dayak Ngaju menyebut paing dengan bangamet/bangamat. Apa itu Paing?

Secara klasifikasi taksonomi, paing atau Kelalawar Besar/Kalong (Pteropus vampyrus) termasuk dalam kelas mammalian ordo chiroptera. Paing yang bisa di Konsumsi adalah dari family pteopodidae yang merupakan jenis terbesar dan pamakan buah dan nectar bunga.  Selain paing ada juga jenis yang bisa di makan yaitu kekek (lebih kecil dan pamakan buah, namun baunya kurang khas) dan juris yaitu jenis kelalawar kecil yang bersarang/bersembunyi dalam buku bamboo di hutan. Intinya jenis kelawar yang bisa di makan adalah kelelawar pemakan buah dan bunga. Sementara jenis pemakan serangga bahkan pengisap darah adalah jenis yang tidak boleh dimakan.

Kelelawar memiliki spesies yang banyak, menempati urutan kedua setelah mamalia binatang pengerat. Dari 4.000 spesies mamalia, 1000 diantaranya merupakan spesies kelelawar. Untuk mengelompokkannya, kelelawar dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu diberi nama “Megachiroptera” dan “Microchiroptera”. Selain itu dapat dikelompokkan berdasarkan makanan dan kapasitasnya. Kelelawar dengan bentangan sayap 2 meter dan berat mencapai 1,5 Kg dimasukkan dalam kelompok Megachiroptera atau terkenal dengan sebutan “Kalong”. Ciri-ciri kalong atau paing adalah matanya besar, karena tidak mempunyai sistem ekolokasi. Menemukan makanan berupa buah-buahan dan bunga-bungaan dengan mengandalkan penglihatan dan penciuman. Kelelawar yang tinggal di daerah Asia dan Afrika bertubuh kecil, memakan serbuk sari, lebar dua sayapnya 30 cm dengan berat 15 gr. Kelelawar ini termasuk dalam kelompok Microchiroptera dengan sistem ekolokasi yang lebih baik tetapi penglihatannya kurang jelas.

Orang-orang di kawasan timur Indonesia menyebutnya paniki, niki atau lawa. Orang Sunda menyebutnya lalay, kalong atau kampret. Orang Jawa Tengah menyebutnya lowo, codot, lawa, atau kampret. Sedangkan suku Dayak malah menyebutnya sebagai hawa, prok, cecadu, kusing tayo, paing atau bangamet/bangamat.

Walaupun paing dikenal dan dikonsumsi di beberapa daerah, Dayak maanyan punya ciri khas dalam memasaknya. Paing yang akan dimasak hanya dibuang kuku, bulu kasar di tekuk dan punggung, serta ususnya. Sementara sayap, bulu serta dagingnya juga di masak, karena rasanya akan lebih enak dan khas.

Memasak paing ala Dayak Maanyan menggunakan bumbu minimalis, yaitu hanya serai dan daun asam pikauk/ sejenis daun yang rasanya asam. Kalau tidak ada bisa diganti dengan asam jawa sedikit dan kalau suka bisa ditambahkan irisan bawang merah. Penggunaan bumbu yang minimalis ini adalah untuk mempertahankan rasa dan aroma asli dari paing atau kalong tersebut.

Ada 3 jenis masakan paing yang paling umum bagi masyarakat dayak Maanyan, yang pertama adalah di masak seperti sop tanpa sayur dengan bumbu minimalis seperti tersebut di atas. Versi kedua adalah dicampur dengan sayur hati batang pisang atau siwak yang diiris tipis dan diremas remas terlabih dahulu. Namun ingat hati batang pisang yang digunakan adalah dari jenis pisang yang “netral” yaitu pisang kapas/pisang pinang atau pisang manurun. Pisang jenis lain cenderung mempunyai rasa yang sepet/pahit. Selanjutnya versi ke tiga adalah dicampur dengan sulur keladi/lantar keladi yang telah dikupas dan dipotong potong. Tentu saja menggunakan bumbu yang minimalis untuk mempertahankan rasa asli yang khas dari paing tersebut. Saya sendiri paling menyukai yang dicampur sayur sulur keladi.

Sementara Dayak Ngaju dalam memasak bangamat/paing menggunakan bumbu yang banyak agar baunya hilang. Paing sebelum dimasak dikuliti terlebih dahulu, hanya dagingnya yang diambil dan dimasak baik dengan bumbu opor maupun kari.

Anda panasaran? Silakan mencoba….Paing atau Kalong Pemakan Buah

Kisah Itak ma Takam katuluh

Ini cerita yang diceritakan oleh seorang nenek(itak) kepada saya dengan gaya bertutur, saya diminta menulisnya, kelak untuk diberi kepada cucu dan cicitnya. Namun banyak hak yang bisa kita ambil hikmahnya. Cerita ini dituturkan itak selama 3 jam nonstop dari tempat tidurnya, 3 hari sesudah kematian anak bungsunya. Saya sudah lama dicari cari beliau, katanya saya keturunan orang pintar (apa iya ya?), Selamat membaca..!

Itak lahir tahun 1919 bulan saat panen padi gunung di ladang (kira bulan Maret),  entah tanggal berapa, tak seorangpun ingat dan mau mengingatkannya, karena memang tak begitu penting. Itak lahir di  sebuah pondok yang bediri kokoh, di pinggir Umme/Ladang padi.

Itak dilahirkan sebagai anak ke – 4 dari 9 bersaudara-2 diantaranya meninggal dunia karena buyuk-, sebagai anak peladang yang miskin, tak ada yang istimewa dalam hidup Itak.

Masa kecil itak seperti anak anak pada jaman itu yang tumbuh alami di daerah  perladangan di hutan belantara Kalimantan. Itak hidup pada jaman Walanna (Belanda), semua serba susah, yang penting pada waktu itu adalah bagaimana bisa punya ladang yang luas untuk mendapatkan padi yang sebanyak mungkin.

Sejak kecil, Itak sangat takut kematian, bagi itak kematian adalah malapetaka terbesar. Betapa menakutkannya jadi mayat yang ditutupi matanya pakai uang logam, yang diburat tubuhnya dengan kapui, diikat daun rirung kamat dengan diiringi tangisan anggota keluarga  yang meraung raung dan bersyair sebagai “kiak badiki”. Dikuburkan dengan iringan kata kata dari belian atau huyung wadian matei, ditambah bunyi gong yang membaha. Bunyi yang paling menakutkan pada waktu Itak masih kecil. Pokoknya Itak takut pada kematian, Itak akan berhati hati, menghindari bahaya, menghindari hal hal yang menjadi pamali atau pamadi orang Dayak jaman dulu, Itak tidak mau mati.

Masa kecil Itak berjalan seperti orang biasa pada tahun 1920 di pedalaman belantara Kalimantan, satu satunya Pulau yang Itak Ketahui. Itak tidak pernah tahu ada pulau Jawa, Pulau Sulawesi dan lain lain. Itak hanya tahu Kalimantan, tempat ladang kami nan luas tergelar menghijau.

Itak tidak pernah sekolah, hanya kakak kakak Itak laki laki yang sekolah, sejenis sekolah rendah dengan tujuan pemberantasan buta huruf. Itak tidak ikut sekolah ke kampung  yang harus ditempuh dengan  berjalan kaki selama 2 jam menembus hutan. Namun bukan berarti Itak tidak belajar. Itak belajar membersihkan Ladang, memasak,nikep/menangkap ikan, mintan/mincing, mengecek  alat alat penangkap binatang buruan (jipah, tampaleng, dadung, tinyak, pusi, tanaep termasuk perangkap ikan wulu, tulung dan tangkala).

Itak terampil dengan pekerjaaan Ladang dari muau, ipandruk, nyawah, masi. Termasuk membersihkan padi dalam kegiatan maureh , maitap dan mutu . Itak biasa membantu kakak kakak Itak menumbuk padi (Muthu), biasanya itak kebagian tugas maitap dan midi ata (membersihkan hasil tumbukan padi hingga menjadi beras yang betul betul bersih).

Sampai masa remaja, Itak sangat takut kematian. Apalagi di kampung sana sering orang mati, Itak berfikir  betapa menderitanya orang orang mati tersebut, apalagi yang masih muda.

Masa Kanak Kanak Itak berjalan begitu cepat, umur 13  tahun itak sudah disebut “wawei bujang” karena sudah mendapat  “ire bere”  atau “darah kotor”. Kata Ibunya Itak itu berarti Itak harus siap menikah kalau ada laki laki yang melamar. Itak  diam saja, karena Itak fikir memang begitulah kehidupan. Anak anak tumbuh, kalau sudah “berdarah kotor” bisa kawin, punya anak, dan hidup seperti Ayah dan Ibu Itak.

Pada umur 14 tahun, itak sering membantu orang lain menanam padi atau pangandrau muau, kata ineh iya saya (tante), yang sudah bujang diwajibkan pangandrau muau supaya bisa “dilihat”dan bertemu pandang dengan para pemuda atau upu manuwu yang maehek (membuat  lubang tanam padi dengan tongkat kayu runcing yang disebut ehek).

Beberapa kali pangandrau Muau, Itak sering dilirik oleh seorang upu manuwu atau pemuda yang lumayan tampan. Itak anehnya merasa malu bila di pandang, namun sepanjang hari itak juga berusaha mencuri pandang, o lihatlah betapa menariknya dia, tangan kekarnya lincah mengayunkan ehek, betapa gagahnya dengan selipan Mandau di pinggangnya. Namun itak tidak mengerti apa itu cinta. Yang itak tahu pemuda itu sangat menarik, jauh lebih menarik dari hijaunya padi di ladang, dari besarnya ikan saluang hasil Itak memancing, atau dari besar besarnya buah langsat di dekat pondok itak. Itak tidak bisa menggambarkan betapa menariknya Upu manuwu itu.

Tak lama kemudian Itak di”antane” atau di lamar oleh pemuda yang menarik itu, dengan membawa orang tuanya dan usbahnya (wali) pemuda datang membawa sehelai bahalai warna merah wunge papaken dan uang logam entah berapa jumlahnya. Singkat cerita di usia 14 tahun Itak menjadi seorang istri, punya suami, punya ladang sendiri dan punya pondok sendiri. Itak bangga dengan “prestasi” itak tersebut. Itak merasa betapa beruntungnya Itak.

Lima bulan kemudian itak hamil, sebuah pengalaman baru bagi itak yang masih muda. Itak sering ngidam udang besar atau urang galah.Suami Itak selalu mencarinya untuk Itak yang lagi ngidam. Pada usia hamil kira 8 bulan (ini kata dukun beranak), Ayah itak meninggal dunia karena sakit yang misterius, sakit yang tidak lama menyerang, sehingga kami tidak sempat batatamba (mengobati) dengan Iraharen,wadian,iwuras atau apapun sesuai dengan sangsara yang didiagnosa oleh dukun terkenal di kampung  kami. Sekali lagi Itak benci dan takut dengan namanya K.E.M.A.T.I.A.N. apalagi sebagai wanita hamil tua Itak dilarang naik ke rumah dan melihat jenazah Ayah Itak untuk terahir kalinya, karena itu Pamali atau paddy, akan berakibat buruk pada janin yang Itak kandung atau disebut orang dulu “sawuh”.

Tiga Hari berselang sehabis kematian Ayah, Itak merasakan namanya melahirkan atau “bagena”, sakit yang luar biasa, dengan bantuan dukun beranak yang sangat terkenal lengkap dengan sembilu dari bambu yang sangat tajam, sesajen bersusun dan bau kemanyan menambah sakitnya melahirkan. Itak berfikir kalau benar  kata “wadian matei”  sesudah kematian itu tidak ada lagi sakit penyakit maka Itak mulai detik saat melahirkan ini, Itak tidak takut lagi pada kematian. Itak sudah pasrah dan berdamai dengan namanya kematian. Setelah sakit tak terkatakan dan terperikan Itak melahirkan dengan selamat bayi laki laki yang sangat tampan, dan diberi nama yang sama dengan sungai nan jernih yang mengalir di dekat ladang  kami.

Tiga tahun kemudian Itak kembali didera kesakitan yang sama ketika melahirkan bayi perempuan  yang cantik, sekali lagi dia kami beri nama sama dengan nama danau nan jernih dan tenang di dekat ladang. Nama yang pendek dan simple. Itak tidak tahu bagaimana cara menulisnya. Tapi Suami itak menulis nama anak kami pada sebuah batu sungai dengan memakai pulpen dari biji labu.

Rupanya Itak tidak sadar bahwa manusia adalah insan yang mengenal suka dan duka, untung dan malang, Itak tidak tahu kalau manusia ada takdirnya. Hingga pada suatu hari ketika anak perempuan saya berumur  2 tahun, melapetaka datang lagi bagi Itak.  Suami itak yang baik dan tampan itu meninggal dunia karena dipatuk ular berbisa sejenis kobra/Tedung saat mengambil rotan di hutan untuk dijadikannya tali pengikat jendela pondok kami. Itak merasa dunia Itak telah berahir sampai di sini, kebahagian, kegembiraan dan kebanggaan Itak hilang tak berbekas. Itak tidak tahu bagaimana hidup seterusnya. Itak sangat mengharapkan ular berbisa atau minimal istrinya ular berbisa itu mematuk Itak juga. Itak tidak takut lagi kematian, Itak mengharapkan kematian. Kata wadian matei itu saat mati kita akan berjalan ke sebuah kampung baru yang subur dan sejahtera (tumpuk jari janang). Itak mau ke sana sekarang!!.

Butuh waktu lama Itak untuk bangkit kembali, itupun setelah upacara “nuang panuk”, sebuah upacara untuk menyejahterakan almarhum suami itak di alam baka sana atau “hang tumpuk adiau”. Itak sadar walaupun itak tidak takut mati dan terkadang menentang kematian, Itak masih punya dua orang anak, yang harus diberi makan, karena kelak kalau itak meninggal merekalah yang mengurus Itak agar dihantar dengan benar menuju kampung atau “tumpuk adiau sa jari kawan kakau pinang niyui” seperti huyung atau nyanyian getir wadian matei saat kematian suami Itak.

Waktu terus berjalan, hingga 4 tahun kemudian itak kembali dilamar dan menikah dengan seorang duda beranak 2, Itak tidak tahu apakah itak mencintainya, namun Itak fikir lebih baik punya teman untuk memberi makan 2 anak saya ditambah 2 anaknya. Singkat kata Itak menikah untuk kedua kalinya. Ternyata suami itak yang kedua ini sangat baik dan bertanggung jawab. Hari demi hari kami jalani dengan anak yang terus bertambah, seolah itak tidak pernah jera untuk merasakan sakit yang tak terperikan saat melahirkan. Itak merasa sakit itu adalah takdir seorang perempuan, tak seorangpun perempuan bersuami yang bisa menolak keadaan tersebut.

Singkat kata Itak melahirkan 8 anak lagi, dengan jarak yang dekat dekat. Itak tak pernah mengeluh dengan keadaan ini, itak mengira hidup ini memang repot. Suka duka itak alami, hari demi hari tak jauh berbeda, pergi ke ladang, mencari lauk dan sayuran. Kadang kadang pulang ke kampung jika ada acara keluarga, sisanya Itak tinggal di pondok di ladang. Sewaktu waktu pula berkumpul dengan keluarga besar, dimana saudara saudara kandung itak juga punya anak yang banyak-kami biasanya akan bikin kue kiping-baayak atau bikin pais punsi- Itak menjalani semuanya  sebagai sebuah keharusan dari kehidupan, Itak tak pernah mengeluh.

Dengan suami yang bertanggung jawab ini, Itak merasa “sejahtera” untuk ukuran pada masa itu, pun pada saat musim paceklik dan kemarau panjang, serta penjajahan Jepang kami bebas dari kelaparan,pada masih banyak tersimpan dalam lumbung atau karangking parei, ladang Itak penuh dengan ubi ubian (suku dengkut, gambili, upi upah), sayur itak banyak, ikan dan binatang buruan banyak. Kadang kadang suami Itak (suami ke-dua ini itak dipanggil Kakah)-pergi berjualan ikan atau binatang buruan ke pasar Tanjung (sekarang ibukota kabupaten Tabalong, Kalsel) agar bisa membeli “rangi minyakgas” atau garam dan minyak tanah. Kalau beruntung Kakah akan membeli kue wadai tarang bulan, atau sadincis (sarden) makanan kesukaan anak anak kami. Itak tidak pernah ke pasar, selain  perjalanannya jauh yang ditempuh 6 jam perjalanan jalan kaki (berarti PP nya 12 jam), Itak tidak mengerti uang sagubang sasuku, itak tidak bisa berhitung dan itak fikir itu tidak penting, yang penting ladang itak subur, padi banyak, anak anak bisa makan sepanjang tahun. Lebih penting itak mampu mengingat di mana lubuk penuh ikan tempat nikep yang potensial, dimana tempat mancing, dimana mencari buah buahan hutan,dimana menemukan sayur, penting bagi nenek untuk terampil mengambil sayur pike, uwut, puka, dan kulat. Kalau ke pasar dan urusan jual beli itu sudah ada Kakah cukup lah.

Waktu terus berputar, semua berjalan seperti biasa, kadang itak merasa sebagai ibu yang paling beruntung, dengan anak 12 orang yang hidup semua-angka kematian ibu dan bayi waktu itu sangat tinggi-, punya suami yang yang baik dan setia (entah kalau ke Pasar tanjung dan bermalam malam baru pulang, Itak fikir itu wajar wajar saja, selama pulang ke pondok dengan tak kurang satu apa). Itak tak pernah melarang Kakah pergi mencari hiburan,menghadiri kenduri kenduri orang jaman dulu, karena Itak fikir itu wajar, dan memang laki laki harus begitu. Kalau seandainya- ini seandainya lho, Itak tidak pernah menuduh-Kakah saat acara acara “sosialisasi”nya sempat bergembira dengan wanita lain, dengan janda lain, Itak tak akan marah, toh kembalinya kakah masih  utuh. Itak tahu diri harus sering di pondok, mengurus anak yang masih kecil, tidak tidak pernah stress, karena itak tak pernah memikirkan yang diluar jangkauan fikiran itak.

Hari hari pun berlalu, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dekade demi kedake berlalu, Itak menjalani kehidupan itak dengan iklas, ketika anak anak itak pergi berkeluarga, pergi jauh. Itak Pasrah melihat ada rumah tangga anak Itak dan kakah berantakan, namun Itak berusaha bijak, itulah kehidupan, tidak selalu sesuai dengan rencana.

Pada tahun 1983 Itak dan kakah di”paksa” anak anak untuk di baptis, oleh seorang-yang katanya Pastor Polandia dari Tamiang Layang-, namun yang Itak dan Kakah lihat adalah seorang berkulit putih, berhidung mancung, rambut berwarna seperti jerami dengan bahasa Indonesia yang aneh. Itak fikir Pastor ini sama seperti itak, tak pernah sekolah, buktinya  bahasa Indonesia kami sama jeleknya, dan itak yakin bahasa Maanyan itak jauh lebih baik dari bahasa maanyan Pastor aneh itu, buktinya saat itak ajak mampir dalam bahasa dayak Maanyan, pastor itu cuma masem masem tidak menjawab.

Itak dibaptis bukan karena panggilan, itak hanya ikut orang banyak, ikut anak anak itak yang banyak sekolah tinggi, dan itak anggap pintar dari itak. Lagian Itak dan kakah sekarang sudah punya rumah besar di kampung, harus ikut “gaya” orang kampung.

Itak sering dikunjungi cucu cucu dan cicit cicit yang –menurut itak- saking pintarnya bisa menjelaskan ajaran Agama baru ini jauh lebih pintar dari Pastor aneh kemarin. Itak dijelaskan bagaimana konsep sorga (itak dulu menyebutnya tumpuk adiau), bagaimana saling mengasihi, bagaimana berbuat baik, bagaimana keselamatan sesudah kematian, dan siapa itu juru selamat. Bagaimana berdoa dalam nama Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Itak jadi percaya-bukan langsung percaya pada ajaran agama baru ini, itak percaya karena yang mengajarkannya adalah cucu cucu Itak, yang Itak yakini sangat pintar dan Jujur.

Itak dan kakah semakin tua-kata cucu itak semakin dekat dengan kematian-, Itak sering sakit, bermacam macam penyakit, tapi itak masih bersyukur, karena nyaris semua teman Itak yang seumuran sudah meninggal, tidak pernah lihat TV warna yang besar, tidak pernah makan kue kue  aneh dibeli cucu cucu dari kota, tidak pernah lihat HP, tidak pernah melihat mesin aneh bisa mengeluarkan uang. Itak dan Kakah beruntung, dengan rambut yang memutih, masih melihat keanehan keanehan dunia.

Tahun 2009 adalah tahun paling menyakitkan bagi Itak, Kakah meninggalkan Itak untuk selama lamanya, setelah nyaris 70 tahun bersama. Itak yang sambil terbaring lemah karena sakit hanya bisa menangis dalam diam. Itak merasa kematian itak sudah dekat. Namun tak cukup demikian, 3 hari berselang anak bungsu Itak meninggal dunia dengan usia 30 an tahun menyusul bapaknya. Itak tak kuasa menahan sedih, itak menjerit  diantara ketidakrelaan dan kepasrahan akan sebuah takdir. Seandainya Tuhan-boleh- Itak mau ditukar nyawa dengan anak bungsu Itak, dia masih punya anak anak kecil, dia masih punya jalan yang panjang, biarkan itak saja yang “pergi”, Itak sudah tua, sudah penuh  penyakit, itak sudah berumur panjang, sudah menikmati semuanya, itak sudah dipenghujung jalan kehidupan, itak seakan sudah didepan lorong kematian-dan menurut Itak-Itak sudah puas dengan apa yang itak alami semasa Hidup.

Sampai saat ini Itak hanya berada dalam kepasrahan total, itak tidak takut kematian, itak percaya sama cucu itak, kalau itak berbuat baik maka itak akan diselamatkan

Cucuku (itak memanggil saya Umpuku-karena beliau sepupu dari Itak kandungku ari ibu), itak bahagia bisa bercerita dengan kamu, saat terahir hidup itak, itak ingin kamu bisa menulis cerita itak ini, biar cucu dan cicit Itak bisa mengetahui kehidupan itak hingga pada saat renta dan didera penyakit. Itak Yakin umpu itak yang satu ini pandai menyusun kata kata Itak. Itak mendoakan semoga Kamu berumur panjang seperti Itak

Terima Kasih Itak.

Seri Kuliner Dayak Maanyan (Papai, pakasem dan gaguduh nanakan)

Makanan berikut ini memang tidk bisa diklaim khas dayak Maanyan, namun sudah dikenal oleh masyarakat dayak Maanyan sejak jaman dahulu.

  1. Papai

Papai dikenal juga oleh Dayak Dayak yang lain, maupun suku bangsa yang lain. Dayak Ngaju menyebutnya sebagai mandai. Sebagian menyebutnya dame atau  dami. Makanan ini terbuat dari kulit cempedak yang telah dibuang kulit luarnya yang tipis. Kulit yang sudah dikupas diberi garam secukupnya. Papai ini enaknya digoreng saja, baik kering maupun dioseng basah. Kalau menginginkan rasa papai yang manis dan lunak, maka segera sesudah dikupas dan diberi garam sedikit langsung digoreng, kalau menginginkan papai yang agak kecut dan dagingnya sedikit keras rendam dulu dalam air garam 1-2 malam, lebih dari 1-2 malam papai kecut tapi lunak. Saya sendiri suka papai yang asam diiris tipis tipis digoreng kering dengan irisan bawang Bombay yang banyak dan irisan cabe rawit plus sedikit MSG, enak sekali.

Dahulu orang menyimpan papai dalam guci atau stoples selama berbulan bulan, sebagai persediaan. Karena papai bukan dianggap sebagai sayur namun juga pengganti daging sebagaimana tempe dan tahu.

2.Gaguduh Nanakan

Nanakan atau cempedak (Artocarpus cempeden) juga enak digoreng sebagaimana membuat pisang goreng, namun yang paling enak digoreng di atas api kecil dan agak lama, sehingga biji di dalamnya betul betul matang, sehingga selain daging cempedak , bijinya juga bisa dinikmati. Biji cempedak juga enak direbus, sampai kulitnya terkelupas, biji ini mengandung karbohidrat yang tinggi.

3.Pakasem

Sebagaian daerah menyebutnya pakasam, namun di Malaysia Timur (Kalimantan) pakasam sama dengan “wadi”. Jadi bukan pakasem. Pembuatan pakasem hampir sama dengan wadi, namun yang menjadi pengawetnya adalah garam dan nasi dingin. Penyimpanannya sama dengan pembuatan wadi (lihat tulisan saya terdahulu), namun dalam waktu tiga hari sudah “jadi”, semakin lama pakasem, daging dan tulang ikan atau daging yang dipakasem menjadi lunak. Sangat enak pembaca…seperti rasa wadi, namun lebih asam.

Terima Kasih Pulaksanai

Anri Arai Atei, Aku wahai Ngantuh Tarima Kasih

Huat erang taun blogku sa ba alamat www.tumpuknatat.wordpress.com na ulah, aku puang menyangka sambutanni maeh tu,u. Itah yena aku ngantuh hormatku ma Itak Kakah, Ineh Tueh, Amah Tueh, Ineh Iya, Amay Iya, Busu, Tutu, Mama, Pulaksanai, Duwari, Tawari wanga sa haut ganta ma blogku sa sederhana yena, termasuk saran, tanggapan, kritik andri masukan  baik isa na tahampe langsung itah komentar hang blog per  posting, maupun itah E mailku, itah Facebook, Itah Twitter maupun na sampaikan langsung. Kehormatan bagi aku suah hamper 90 pengunjung per hari.

Blogku yena lawit teka sempurna saraba maeh, ngaranni lagi paajar. Kude aku arai mihewu tatuu daya kawan pulaksanai sa lawit teka tumpuk ngeau mambasa blogku yena ngulah kaware kasungu here ma tumpuk natat. Aku puang menyangka takam umpu kakah tersebar hang berbagai Negara, sa rasaku daya membaca blogku, naan nganak Narangan hang Amerika, Belanda, Australia,Singapore, Malaysia, Jerman,  , Swiss andri Thailand. Aku salut andri nawat tuu kaeh bauntung barajaki naun, kaeh pintar baakal naun kaiyuh bagawi tamam, welum tatau marauh hang uneng ulun isa lain buadaya, lain wangun, lain hebu,lain basa andri takam hang tumpuk natat. Aku ekat wie wie lelew iwey sambil mahayal tamiyan aku kaiyuh jalah naun.

Terima Kasih pada ma kawan umpu kakah sa tersebar hang kota kota besar jalah Jakarta, Bogor, Bekasi, Jogyakarta, Solo, Surabaya, Pontianak, Sanggau, Ketapang, Banjar Masin, Palangka Raya (pengunjung terbanyak), Sampit, Nanga Bulik, Buntok,  Kuala Kapuas, Marabahan, Samarinda, Sangatta-Bengalon (kampung Maanyan ternyata), Tarakan, Balikpapan (I Love You all), Manado, Makassar andri Lampung. Salamku ma naun katuluh sa sukses hang tumpuk ulun, mohon dukunganni numpan takam katuluh melestarikan  budaya itak kakah datu nini takam.

Terahir ma pengunjung tumpuknatat Jaar, Tamiang Layang, Jaweten, Tampa, Ampah, Bambulung,Pasar Panas, Taniran, Bamban, tewah Pupuh, Bentot, Warukin, Tanta, Tanjung, Betang Nalong, Hayaping, Bundar, tabak Kanilan, Sababilah, Dorong, Simpang bangkuang andri kawa tumpuk lain sa aku puang ngantuh. Tabe ma naun katuluh.

Aku na puang hiye hiye, puang ulun paling pintar baakal marahati, puang ulun manuwu sampuraka, aku ulun biasa biasa saja, anak pamantat, itati jari buruh hang Kementerian Kehutanan Republik Indonesia ngantara pakai na kuta, ngisi belek weah andri kawan panuk kusi.

Aku laku mun kawan pulaksanai katuluh naan pengetahuan niba budaya, tumpuk natat, kunliner adnri kehutanan khas Maanyan tau ngirim ma aku, pakai na ampasuk pada ma Blogku andri ngaran penulis aslini, walaupun itah tahap editing dulu

Tulisan, masukan andri saran aku ngandrei teka Itak Kakah, Tutu Mama, Ineh Amah, Pulaksanai katuluh ma aku itah

1. Email : david_suwito@yahoo.com

david_manuwu@yahoo.com

2. Facebook : david_suwito@yahoo.com (David S. Suwito)

3. Langsung ke my blog : http://www.tumpuknatat.wordpress.com

Tabe,

Umpu Kakah keleluan Itak

David Suwito

Maharati…

1987 di pedalaman Kalimantan
Dengan bergegas lelaki kecil itu berjalan, menyusuri jalan setapak, menebus hutan karet na lebat. Di pinggangnya terselip sebuah golok dalam lunannya, di punggungnya bertengger sebuah lampuyut, sebuah “ransel” yang terbuat dari anyaman rotan. Dalam lampunyutnya ada berpuluh batu batu kerikil, dan di lehernya tergantung senjata andalannya, ketapel yang karetnya berwarna merah menyala, dengan tangkai berbentuk huruf Y dari cabang pohon ipuhu.
Kemana kah sang pangeran kecil yang tampan dengan kulit kuning langsat dan rambut kemerahan itu pergi? Mari kita ikutinya….. Setelah menembus hutan karet yang lebat, kini dia menembus padang ilalang nan luas, padang ilalang yang akrab di matanya, akrab di hidungnya, hamparan bunga amukakang yang ungu bagaikan bunga lavender di pedalaman Kalimantan, di tingkah kicau burung suit dan karuwang yang seakan memancing hasrat berburunya. Ingin rasanya dia mengeluarkan ketapelnya, memburu burung dan tupai tupai liar penghuni ilalang ini. Namun saat ini dia tidak punya waktu, tadi pagi Ammahnya/ Ayah menyuruh agar seusai sekolah agar segera ke ladang, menjaga ladang yang terancam serangan monyet monyet kelaparan yang sangat jahil itu. Ayah tidak bisa ke ladang karena hari ini harus mengikuti Pemilu. Kemarin perangkat desa di”arahkan” tim dari kecamatan untuk memilih partai eh golongan kuning, kalau tidak salah dengar, masyarakat yang mencoblos partai merah atau hijau adalah pemberotak, tidak mendukung pembangunan, tidak mendukung pemerintah dan akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Dia yakin ayahnya yang lugu dan jujur pasti memilih partai eh golongan kuning, walau dia sempat berfikir kalau partai merah dan hijau di larang di coblos, mengapa tidak dibubarkan sekalian? Ah peduli amat pikirnya, itu bukan tugas saya, anak kelas 3 SD Inpres di desa terpencil, tugas saya jelas, menjaga ladang dari serbuan warik warik yang tidak punya etika dan kepribadian itu. Dia yakin warik warik ini tidak pernah belajar PMP apalagi ikut penataran P4 seperti kakaknya yang masuk SMP swasta di kampung sebelah.
Tak terasa dia sampai ladang atau umme, dengan nikmat dia menghirup aroma tanaman pagi yang sudah berbuah, matanya awas meneliti pinggir pinggir ladang atau ruyu alah untuk memastikan bahwa jenis jenis warik, weruk, peut, talampiau tidak datang dan merusak pagi, dengan bunyi kaleng2 bekas dia mengusir ratusan burung pipit merah yang datang dan pergi bagai pesawat tempu Amerika, membuat manuver manuver yang gagah dan indah. Duduk di beranda pondok dia tetap awas menjaga umme yang luas ini. Kata amah ini adalah tanggung jawab, menjaga ladang untuk keluarga, sudah sepantasnya jadi anak laki laki harus jadi pemberani, biarpun umur dia baru 9 tahun, dia tahu tugasnya. Toh teman teman seumuran juga punya tugas dan tanggung jawab yang sama. Tapi nanti sore, dia sudah berjanji dengan teman-temannya : kasiuhan, madituen, belo, bedi, yanto, erik, dudu, dan utuh. Setelah tugas menjaga ladang masing masing berahir, sekalian pulang ke kampung, kami akan mandi di sungai besar yang kami sebut dengan sungai “Buntar” sepuas puasnya, main babajatan, main perang perangan, sampai badan bugil kami menggigil kedinginan, gigi gigi kami gemeretuk dan mata yang memerah, barulah mereka menghentikan kesenangan mandi di sungai.
Sore telah tiba, dia tergopoh gopoh memakai sandal jepit buram, sekali lagi mengelilingi ladang, memeriksa dengan sangat teliti setiap sisi dan sudut, memastikan rumpun rumpun padi ini aman di tinggal sampai besok pagi, mencoba mengintimidasi koloni monyet ekor panjang nan jahil dengan menghujani mereka dengan peluru peluru kerikil, agar jangan merusak ladang. Di hutan yang lebat sudut ladang, jerat milik ayahnya ternyata berhasil “menjebak” seekor kancil, dengan terampil dia menangkap, mengikat mulut an kaki pelanduk itu, dia senang, makan malam nanti ada hidangan daging. Dia bangga pada diri sendiri bahwa walaupun masih muda, dia sudah terampil jadi pemburu.
“Putut…!” teriak sesorang memanggil, dia menoleh dan tersenyum dengan anak sebaya yang menghampirinya, penampilannya khas anak dayak pedalaman, membawa parang dengan sarungnya, di punggungnya membawa “buntat” yang terisi sayur mayor, ubi jalar, buah semangka yang diambilnya dari ladang. Namanya Dudu, tapi nama lengkapnya Dudu Hermawan, entah dari mana Ayahnya nama yang keren dan bagus itu, tidak seperti namanya PUTUT KAKAU PIPAKATAN, namanya yang sangat Dayak Maanyan. Namun dia tahu, tak ada gunanya protes, toh dia nyaman dengan nama “aneh” tersebut.
Mereka berdua bersiap pulang, tentu saja harus menepati janji untuk mandi sepuas puasnya di sungai. Kemudian hanya terdengar gelak tawa mereka, kembai menembus hutan karet na rimbun.
2007
Dengan langkah gontai, dia kembali ke meja kerjanya, di mejanya tertulis Putut Daya Pipakatan, S.H, M.Hum. sejenak dia menyandarkan diri, setelah tadi di ruang rapat DPRD menyampaikan pandangan fraksi. Dia yang dulu lugu dan menjaga ladang, kini menjadi anggotan dewan mewakili daerahnya sendiri, dia sudah punya 1 orang istri yang berprofesi bidan, lengkap dengan anak kembar lelaki kesayangannya.
Dia sadar, perjuangannya masih panjang, dia berusaha menjadi waki rakyat yang jujur, terutama menjaga lingkungan hidup dan membela masyarakat miskin di pedalaman. Banyak yang sinis dan meragukan tekadnya. Namun dia terus berjuang, dia punya niat dan keyakinan. Berusaha mnjadi terang di sebuah institusi yang sangat haus uang dan kehormatan tidak mudah. Amplop berseliweran, tawaran kenikmatan duniawi terus menggempurnya. Namun dia tetap dalam pendirian, dia memang bukan anak kecil 20 tahun silam, dia lulusan S2 cumlaude dari Universitas terkemuka, dia tidak menjaga ladang. Namun satu yang dia jaga, dia ingin menjaga hati sebersih dan setulus waktu dia menjaga ladang 20 tahun silam. Dia tidak silai oleh harta duniawi, baginya dia sudah sangat berkecukupan, sangat diberkati dan sangat bahagia….
Adakah Anggota dewan yang lain punya hati seputih dia sekarang ini?

KIta berharap ada….

Humor takam ikakisuh

NASIB UPU MURUN

Catatan : tulisan ini murni Humor, tidak ada maksud merendahkan seseorang atau gender tertentu..just joke, supaya Umpu kakah tidak stress…

Amun Upu Manuwu babuat jahat

Eau kawan wawei : nobody’s perfect….

Amun  Upu Murun babuat jahat

Eau kawan wawei : samulani..teka parawaan haut kriminal

Amun Upu Manuwu Ngarawah wawei na buhau preman

Eau kawan wawei : wayo lah..jantan jalah hang pilem

Amun Upu Murun ngarawah wawei buhau preman

Eau kawan wawei : Himat preman ru hengauni…!
Amun Upu Manuwu masuni

Eau kawan wawei : Woow…Cool Banget, manuwu kude masuni

Amun Upu Murun masuni

Eau kawan wawei : himat kuper upu yiri, hampe puang panai paner

Amun Upu Manuwu lagi Jumblo

Eau kawan wawei : himat daya pamidian tuu, maklum eh manuwu

Amun Upu Murun lagi jumblo

Eau kawan wawei : Samulani..puang payu..!
Amun Upu kaiyuh wawei mawiney

Eau kawan wawei : Klop. Cocok tuu…

Amun Upu Murun kaiyuh wawei mawiney

Eau kawan wawei : Himat ba alimu upu yiri…
Amun Upu Manuwu na tamputus wawei

Eau kawan wawei : ada mahanang atei, magun naan aku..

Amun Upu Murun na tamputus wawei

Eau kawan wawei : (suni ai, kude kuit kuit kingking teka amau ma ime, dinung dulu sa potongan)

Amun Upu manuwu ngaku Indo

Eau kawan wawei : memang mirip indo pang patengaan..

Amun Upu murun ngaku Indo

Eau kawan wawei : Tangguhku inehni Maanyan, Amahni Robot he he

Amun Upu manuwu penyayang satwa

Eau kawan wawei : Perasaanni halus, penu kasih sayang

Amun Upu Murun penyayang satwa

Eau kawan wawei : mun itawari memang harus saling menyayangi
Amun Upu Manuwu ngenei mobil BMW

Eau kawan wawei : cocok tuu…manuwu hang luar hang wuang

Amun Upu Murun ngenei mobil BMW

Eau kawan wawei : Oo..Upu hang awe majikannu?

Amun Upu Manuwu puang hakun na foto

Eau kawan wawei : pasti puang he’ey fotoni tersebar rmaaru maati

Amun Upu Murun puang hakun na foto

Eau kawan wawei :  Nyata ai, hanye puang purun kadinung hasil cetakanni

Amun Upu Manuwu ngisi ranu ma galas wawei

Eau kawan wawei : hiyah upu yena haut manuwu, gentlemen lagi….

Amun Upu Murun ngisi ranu ma galas wawei

Eau kawan wawei : Samulani…Naluri pembantu dasar kayiri
Amun Upu Manuwu lagi metak riu mate

Eau kawan wawei : let me be your shoulder to cry on…

Amun Upu Murun lagi metak rie mate

Eau kawan wawei : Huh hureh!!…Makiak matan, upu sa puang??

Dami Upu Manuwu paham kuman

Eau kawan wawei : hanye daya menghargai undangan anri tuan rumah

Dami Upu murun paham kuman

Eau kawan wawei : puang ule hudu upu yiri…..!

Amun Upu Manuwu penuh areng daya udi ipandruk

Eau kawan wawei : nelang gagah nelang manuwu….

Amun Upu Murun penu areng daya udi ipandruk

Eau kawan wawei : (suni..papura puang kadinung…)

Amun Upu Manuwu katuju lepuh ulun

Eau kawan wawei : Ulun manuwu memang gaul…

Amun Upu Murun katuju lepuh ulun

Eau kawan wawei : Ada ada upu yiri, naket budas….

Amun Upu Manuwu lagi mandrus  hang hungei

Kawan wawei mendadak wahai tuhunan

Amun Upu Murun lagi mandrus hang hungei

Eau kawan wawei : lawah andrus matan..magun kurun…

Dami cowok manuwu mambaca tulisan yena
langsung basaramin nelang rimut rimut , lalu kaeau “life is
beautifull”
Dami Upun murun mambasa tulisan yena
Frustasi, ngutik tadi dadaiyan, lalu nantiak
“HIDUP INI KEJAAAAMMM.. ..!!!”

Ha ha ha ha…………

David S

(disadur dari berbagai sumber dalam bahasa Inggris dan Indonesia)

Mengenal Makhluk Halus Cerita Orang Dayak Maanyan jamn Dulu

Mengenal jenis jenis Makhluk Halus dan cara menangkal ala Dayak Maanyan Jaman Dulu

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai referensi bagi pembaca, hanya untuk berbagi pengetahuan dan bacaan ringan yang saya susun berdasarkan hasil wawancara non formal dengan belian disela sela “show” mereka. Percaya atau tidak dipersilakan kepada para pembaca yang budiman dan bijaksana. Penulis sendiri sampai saat ini tidak pernah diganggu oleh makhluk halus apapun, dan hanya mengandalkan doa kepada Allah Bapak di Sorga.

Penulis sebagai Putra Dayak Maanyan berdarah biru membuat tulisan ini dengan maksud untuk menjawab rasa panasaran kita terhadap cerita cerita mistis orang tua jaman dulu. Daripada menambah simpang siur saya mewawancara 2 orang belian ( 1 Itak Itak dan 1 Kakah kakah)-yang menolak namanya disebut. Selamat  membaca !

1. Palasit/Pulasit

Jenis makhluk  halus ini adalah pengganggu pada saat saat tertentu misalnya pada wanita nifas dan haid atau pada laki laki yang baru terluka dan mengeluarkan darah. Palasit sepertinya ikan hiu, dapat mencium bau darah dari jarak yang sangat jauh, makhluk ini sangat haus darah tapi idak bisa membuat luka, hanya mencari darah yang keluar.

Asala muasalnya Makhluk halus ini adalah dari daerah pegunungan keramat di daerah Kalimantan selatan, makanya bila “masuk” palasit, korban akan berteriak dengan bahasa Banjar tulen, bahasa banjar jaman dulu, walaupun kadang si korban tidak bisa berbahasa banjar sama sekali. Konon makhluk ini jaman dulu diusir oleh pangeran dari kerajaan Banjar yang sakti. Ada juga mengatakan makhluk halus ini merupakan peliharaan orang untuk pesugihan. Menurut beberapa orang yang “mampu” melihat (untung penulis tidak punya kemampuan ini, karena memang tidak punya nyali melihat macam macam fisik yang aneh dari makhluk halus), palasit berwujud seorang ibu ibu umur 50 tahunan, memakai baju putih, kerudung tipis putih yang hanya menutup bagian belakang kepala, dan rambutnya yang panjang dan indah disanggul dengan rapi.

Makluk ini sangat takut dengan benda benda yang berbau tajam, karena itu sering ditangkal dengan bawang putih, dariangau, dan kencur, untuk jenis palasit  kelas teri memang mudah ditakuti dengan benda benda ini, tapi ingat benda tersebut harus berjumlah ganjil, 1, 3, 5 atau 7. Konon jumlah ganjil menambah efek bau dari benda tersebut. Wanita haid dan pria yang baru mengalami luka berarah banyak yang tinggal di kawasan yang dicurigai banyak palasitnya agar memasukkan benda benda tersebut ke bawah bantal atau kasur.

Untuk wanita baru melahirkan, sangat disarankan untuk memasangkan sedikit air pelimbahan (air dari parit kotor aliran bekas mencuci piring), atau juga arang wajan yang dioleskan di belakang telinga, atau di bagian telapak kaki.Palasit ini menggunakan pakaian pakaian putih sangat bersih dengan kerudung (mirip selendang karena kecil) yang putih bersih, konon bila pakaiannya kotor oleh noda bukan darah, mahluk halus tersebut tidak bisa kembali ke “dunia”nya lagi.

Untuk palasit yang sudah menyerang, biasanya harus dilawan. Cara paling efektif adalah dengan mengambil batok kelapa, oleskan sedikit abu , bawa pisau yang tajam bilang ke Palasitnya “saya akan menggunduli kepalamu, hingga gundul dan tak cantik lagi” biasanya palasit segera meninggakan korbannya.

Palasit kelas tinggi hanya diusir dengan tatulak palasit sejenis mantera yang tidak terlalu panjang, yang ti tiup diubun ubun dan kaki “korban”, Belian yang saya wawancara memperingatkan saya untuk tidak menulis “tatulak Palasit” ini untuk umum.

2. Kamaaten/Kuyang

Jenis makhluk halus ini konon merupakan “endemik” Kalimantan tengah, jaman dulu pada daerah daerah daerah DAS Kapuas-Kahayan-Barito yang memang mempunyai penduduk yang punya garis keturunan “kuyang”. Masyarakat Maanyan benua lima menyebutnya “kamaaten”.

Jenis Makhluk halus ini memang khas, dia konon menggunakan orang hidup sebagai inangnya. Kamaaten secara fisik adalah wanita baik muda sampai tua, dengan rambut panjang tergerai, dan isi tubuh yang keluar, karena tubuhnya di tinggal, kamaaten hanya terbang  dengan membawa kepala dan organ tubuhnya tanpa terbungkus badan lagi.

Makluk halus ini hanya akan keluar malam hari dengan membawa sejenis lantera, ada beberapa orang sering melihat makhluk ini dengan kasat mata. Kamaaten biasanya keluar kalau ada mencium bau darah, baik dari orang sehabis melahirkan maupun karena luka parah, makhluk ini dipercaya mengisap darah korban dengan cara tidak kelihatan.

Menangkal makhluk halus ini dilakukan dengan menaruh cermin di lantai menghadap atas pada kamar seseorang yang berpotensi didatangi kamaaten, atau air dalam baskom yang besar karena kamaaten sangat ketakutan melihat bayangannya sendiri.

Pengusiran dilakukan dengan menabur dedak kasar/walenun dekat tempat tidur, dedak kasar sangat ditakuti kamaaten karena bisa lengket pada  organ tubuhnya yang berburai keluar. Cara ini sangat efektif, tak ada kamaaten atau kuyang yang berani dekat dekat dengan dedak.

Pengusiran cara lain dengan menggunakan sebuah akar yang biasa merayap di tanah yang dalam bahasa Maanyannya disebut “walayen”. Akar ini dicambuk ke udara dengan keras dan mengeluarkan bunyi berdesing.

3. Hantuen

Hantuen adalah jenis makhluk halus yang sulit didefinisikan, karena hantuen bukan merupakan “spesies” tapi “family” dari kelompok makhluk halus yang suka mengganggu manusia yang “lamah bulu’ atau sensitif terhadap gangguan makhluk halus.

Hantuen bisa jadi penghuni pohon keramat tertentu, goa tertentu, gunung tertentu, jurang tertentu atau rumah tua tertentu. Kelompok Jin, gendorowo, dan sebagainya merupakan kelompok Hantuen. Ada 3 karakter dari hantuen ini, yang pertama adalah hantuen yang cuek bebek dengan aktivitas manusia, konon mereka hanya akan “menegur” manusia jikamengganggu alam mereka. Karakter kedua adalah karakter jahil, suka menakut nakuti manusia dan bisa menampakkan diri walaupun tidak lama. Namun orang dengan Indera ke -6 dan Ke-7 dapat melihat jenis jenis hantuen ini. Karakter ketiga dalah karakter red/merah  adalah jenis yang kalau terganggu akan berbuat brutal dan konon bisa meminta tumbal nyawa.

Dalam dunia Belian, Hantuen Karakter 1 dan 2 kadang bisa dipanggil oleh “pawang” atau wadian untuk diminta tolong menyembuhkan sesuatu penyakit atau keluhan lainnya. Tempat tempat yang dihuni oleh Hantuen karakter 1 dan 2 ditandai dengan kain atau bendera kuning, biasa terdapat di muara sungai, tikungan sungai, pohon tua, kuburan tua tanpa nama, gunung, batu dan sebagainya.

Hantuen jenis Red atau merah atau karakter 3, adalah jenis makhluk halus yang sangat enggan diganggu manusia, dipanggil, atau diusik usik, karena “mereka” akan murka. Menurut Hikayat jenis merah adalah kasta tertinggi, dan  bisa memerintahkan, atau menghukum yang jenis kuning (karakter 1 dan 2). Pemanggilan Hantuen merah hanya bisa dilakukan dalam upacara besar sekelas “manyanggar” dalam bahasa Dayak Ngaju. “mereka” disediakan tempat sesajen atau “meja makan” tersendiri,  terpisah dan spesial, lengkap dengan kain merahnya, tidak boleh digabung dengan kategori kuning.

Seorang belian yang saya wawancara menolak keras untuk menjawab ketika saya tanya bagaimana cara “mengusir” jenis hantuen ini. Menurut  beliau keahlian ini hanya dimiliki oleh mereka yang berstatus wadian atau belaian atau orang pintar, yang hanya diperoleh dengan lelaku dan tapa/itampadi tertentu.

5. Bajat

Bajat kalau  didefinisikan ke dalam bahasa Indonesia adalah makhluk jadi jadian, yang bisa berbentuk binatang tertentu, yang paling lazim adalah bajat karewau (mirip kerbau), maupun bajat wuah (mirip Buaya). Mungkin di pulau Jawa ada yang disebut babi ngepet juga masuk kategori bajat.

Yang menjadi bajat dalah manusia biasa yang mempunyai awai bajat atau”kelainan tertentu”. Sebagian besar bajat  ini disinyalir adalah untuk pesugihan, namun seorang Kakah/Kakek mengatakan bahwa bajat awalnya muncul pada saat kelaparan hebat melanda Kalimantan pada saat musim kering sepanjang sekitar tahun 1800 an, menggunakan kesaktian bajat konon untuk survival di saat bencana kelaparan.

Bajat hanya hanya muncul pada petang atau malam hari, itupun tidak muncul setiap malam. Bajat hampir dipastikan muncul pada saat ada orang sekampung meninggal, hanya memang tidak muncul di tempat ramai dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.

Jika anda bertemu Bajat, hindari membelakanginya (kalau saya jangankan mikir menghadap atau membelakanginya, yang pasti saya akan terkencing kencing ambil langkah seribu he he), bajat sangat takut melihat mata manusia. Bajat juga sangat takut dengan abu dapur atau atau besi(parang atau sejenisnya) yang sudah dikasih abu

6. Alah datu

Jenis Makhluk halus ini biasanya penunggu hutan belantara yang lebat, mempunyai bobot yang berton ton tapi mampu hinggap di daun ilalang dengan sempurna. Makhluk ini akan menunjukan diri kalau  terganggu atau “terpanggil” oleh ulah manusia.

Konon makhluk ini hanya “menegur” atau  menakut nakut saja, tidak mengganggu secara brutal dan berakibat fatal. Adapun aktivitas2 yang ditabukan untu dilakukan di tengah hutan pada malam hari adalah membakar udang sungai,membakar ikan saluang, membakar terasi dan memotong ayam kampung jago berwarna merah. Aktivitas ini akan mengundang datu. Kehadiran datu ditandai dengan bunyi dentuman benda benda yang berat berjatuhan namun tidak kelihatan makluknya.

7. Kariyau

Kariyau adalah jenis makhluk halus yang jahil, dan biasa hanya ada di dalam hutan atau kalaupun masuk kampung pada malam hari. Kariyau biasa menyebabkan korban mengalami disorientasi  atau kehilangan akal dan arah, dalam hutan biasanya membuat korban tersesat dan sama sekali tidak menemukan jalan pulang, bisa sejauh jauhnya berjalan akan kembali ke tempat semula atau memang betul betul kehilangan jalan.

Menurut penuturan tua tua kampung, Kariyau tidak “mematikan”.  Setelah puas menyesatkan korbannya dia akan mengembalikan korbannya ke daerah dekat dekat dengan rumah atau pondok atau jalan yang ada penduduknya, sehingga akan korban akan ditemukan dalam keadaan bingung, kosong dan kehilangan akal sehat.

Ada 2 cara yang dapat dilakukan bila merasa sudah “disesatkan” atau sejauh jauhnya berjalan tetap kembali ke tempat semula, yaitu dengan membalik baju yang dipakai, bagian depan menjadi bagian belakang, konon Kariyau yang lengket di pakaian akan menerima efek balik sehingga kariyau tersebut akan tersesat. Cara kedua yang lebih efektif adalah dengan mencari akar-akaran an atau kayu yang bisa kita belah tanpa harus terputus, masuklah lewat tengah belahan tersebut. Konon Kariyau tidak bisa melewati kayu/tumbuhan hidup.

Mengapa Dayak sering dikira china? apa itu dayak Maanyan?

Mengapa Orang Dayak di kira orang China? Mengapa orang Dayak Maanyan cenderung lebih dekat dengan suku Banjar ketimbang dengan Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah? Saya mencoba menguraikan sedikit tentang suku Dayak Maanyan. Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber.

Suku Bangsa Dayak tersusun dari berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Padahal jika ditilik dari asal usulnya, Suku Bangsa Dayak awalnya berasal dari rumpun yang sama. Keadaan geografis dan proses penyesuaian alam, menjadi penyebab tercerai-berainya Suku Bangsa Dayak menjadi ratusan sub Suku Bangsa Dayak.

Dilihat dari asal usul, Suku Bangsa Dayak berasal dari daratan Asia yang bermigrasi secara besar-besaran sekitar tahun 3.000-1.500 SM. Para imigran tersebut berasal dari Propinsi Yunan, Cina Selatan. Mereka mengembara ke Tumasik (Singapura) dan Semanjung Melayu dan akhirnya di Borneo (Kalimantan), Indonesia. Sebagian imigran lain memilih “pintu masuk” melalui Hainan, Taiwan, dan Filipina. Pada “gelombang pertama” imigran yang masuk ke Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, atau lazim disebut Proto Melayu. Sedang “gelombang kedua” disebut Deutro Melayu. Kelompok ini menghuni wilayah pantai Kalimantan dan kini dikenal sebagai Suku Melayu (Widjono, 1998: 2-3).

Ketika sampai di Kalimantan, awalnya imigran “gelombang pertama” mendiami daerah pantai. Tapi kedatangan “gelombang kedua” membuat mereka terdesak sampai ke pedalaman sehingga menghuni daerah sekitar hulu sungai. Dari sinilah timbul ungkapan untuk menyebut orang-orang yang tinggal di hulu sungai. Mereka mendapat sebutan “orang hulu” yang kemudian disebut “Dayak” (Umberan, dkk., 1993: 32).

Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah “Dayak”. Menurut Lindblad, kata “Dayak” berasal dari sebuah kata “daya” dari Bahasa Kenyah (sebuah sub Suku Bangsa Dayak), yang berarti hulu (sungai) atau pedalaman (J. Thomas Lindblad, “Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan 1880-1942, 1988: 2 dalam Maunati, 2004: 8). Sedang King menduga bahwa istilah “Dayak” mungkin juga berasal dari kata “aja”, sebuah kata dari Bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi (Victor T. King, “The People of Borneo”, 1993: 30 dalam Ibid.). Pada perkembanganya kemudian, istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut “orang-orang asli non-muslim, non-Melayu yang tinggal di pedalaman pulau itu (Kalimantan)” (Victor T. King, 1993: 29 dalam Ibid.).

Terdesaknya Suku Bangsa Dayak ke pedalaman Kalimantan menjadi pemicu mulai tercerai berainya suku bangsa ini menjadi berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi kemudian muncul untuk mengelompokkan Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi tersebut, antara lain, versi pertama dikemukakan oleh H.J. Malinckrodt berdasarkan kesamaan hukum adat yang mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam enam rumpun suku yang dinamakan Stammenras. Pengelompokkan itu adalah: Stammenras Kenyah-Kayan-Bahau; Stammenras Ot Danum, meliputi Ot Danum, Ngaju, Maayan, Dusun, dan Luangan; Stammenras Iban; Stammenras Murut; Stammenras Klemantan; dan Stammenras Punan, meliputi Basap, Punan, Ot, dan Bukat (J. Mallinckrodt, “Adatrech van Borneo, 1928 dalam Widjono, 1998: 4).

Versi kedua dari W. Stohr yang bertolak dari segi ritus kematian, mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam 6 kelompok. Kelompok tersebut adalah: Kenyah-Kayan-Bahau; Ot Danum, yang terbagi menjadi Ot Danum-Ngaju, Maayan-Lawangan; Iban; Murut, meliputi Dusun-Murut-Kelabit; Klemantan, meliputi Klemantan, dan Dayak Barat; Punan. (W. Stohr, “Das Totenritual der Dajak, 1959 dalam Ibid.).

Versi ketiga dari Tjilik Riwut yang membuat pembagian sub Suku Bangsa Dayak menjadi 18 sub suku untuk seluruh Kalimantan. Sub suku bangsa ini masih terbagi lagi menjadi 403-450 sub suku bangsa yang lebih kecil. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:

1. Kelompok Ngaju yang terbagi atas 4 sub suku besar,

a. Ngaju: terdiri dari 53 sub suku kecil
b. Maayan: terdiri dari 8 sub suku kecil
c. Lawangan: terdiri dari 21 sub suku kecil
d. Dusun: terdiri dari 8 sub suku kecil

2. Kelompok Apau Kayan yang terbagi atas 3 sub suku besar,

a. Kenyah: terdiri dari 24 sub suku kecil
b. Kayan: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Bahau: terdiri dari 26 sub suku kecil

3. Kelompok Iban yang terdiri dari 11 sub suku kecil

4. Kelompok Klemantan yang terbagi atas 2 sub suku besar

a. Klemantan: terdiri dari 47 sub suku kecil
b. Ketungau: terdiri dari 39 sub suku kecil

5. Kelompok Murut yang terbagi atas 3 sub suku besar

a. Idaan (Dusun): terdiri dari 6 sub suku kecil
b. Tindung: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Murut: terdiri dari 28 sub suku kecil

6. Kelompok Punan yang terbagi atas 3 suku besar

a. Basap: terdiri dari 20 sub suku kecil
b. Punan: terdiri dari 24 sub suku kecil
c. At: terdiri dari 5 sub suku kecil

7. Kelompok Ot Danum yang terdiri dari 61 sub suku kecil (Tjlik Riwut, “Kalimantan Memanggil”, 1956 dalam Ibid, 4-5).

Maanyan adalah nama salah satu sub suku bangsa yang mendiami Pulau Kalimantan, yang sekarang bermukim di kawasan subur di antara sungai Barito dan Pegunungan Meratus, meliputi sebagian wilayah Utara Propinsi kalimantan Selatan dan daerah Timur Propinsi Kalimantan Tengah, tersebar di lebih dari 15 Kecamatan (walau ada pecahan dayak Maanyan yang mendiami wialyah Kalimantan timur di kabupaten Paser, perbatasan Kalselteng tim).  Pada umumnya orang Maanyan bertubuh sedang, berkulit putih sampai kecoklatan, rambut lurus berwarna hitam atau coklat kehitaman, dan beralis agak tebal. Sebagai suatu kelompok masyarakat, orang Maanyan memiliki beberapa ciri sosial budaya yang unik dan menarik.

Pertama, orang Maanyan memiliki bahasa daerah yang sangat dekat ke bahasa Kawi (Jawa Kuno). Dan Dalam bahasa maanyan ini, walaupun mereka kini bermukim jauh dari lautan, terdapat banyak kosa-kata tentang laut dan berhubungan dengan laut. Tokoh-tokoh mereka bergelar datu (sama dengan datuk dalam bahasa Melayu, yang artinya:bapak dari kakek), patis (bahasa Melayu patih), dan miharaja (sama dengan: maharaja). Mereka menyimpan benda-benda pusaka yang berusia ratusan tahun, berupa piring keramik ukuran besar yang bergambar, guci keramik dengan relief naga, tabak (nampan berbentuk bunga) dari kuningan, gong dan gelangdari gangsa, tombak dan keris, dan pakaian kebesaran mirip pakaian Jawa. Sedangkan dalam ritus kematian, mereka memiliki kesamaan dengan adat Bali, yaitu melakukan upacara pembakaran tulang-tulang orang mati untuk mengantarkan roh mereka ke tempat paling akhir, yang dalam bahasa maanyan disebut: Ijambe. (Ijambe berasal dari awalan I berkonotasi ‘sibuk’ dan kata kerja jambe yang berarti ‘menangani’.

Kedua, mereka mempunyai kebiasaan menuturkan ‘sejarah masa lalu dan adat-istiadat’ (bahasa Maanyan: taliwakas) mereka pada setiap upacara adat penting. Istiadat menceritakan kembali sejarah dan adat ini disebut orang Maanyan ngalakar, atau ngentang atau nutup entang, atau nutup tarung. Selain taliwakas, mereka juga mempunyai banyak cerita-cerita, berupa legenda, balada, dan lagu-lagu tentang kebesaran dan kemakmuran mereka di masa lalu, tentang tokoh-tokoh sejarah, disebuah ‘kerajaan’ (kecil) yang menurut mereka bernama Nansarunai.

Sekarang ini jumlah orang Maanyan yang masih mengaku Maanyan mungkin berkisar sekitar 250.000 juwa, tersebar di seluruh Indonesia, tetapi terutama di Kalimantan Tengah. Setelah Indonesia merdeka, dan orang Maanyan turut bergabung di dalamnya, wilayah permukiman orang Maanyan menjadi terbuka lebar kepada para pendatang, masyarakat non-Maanyan. Mereka pun berbaur dengan para pendatang itu sehingga perubahan-perubahan pada sifat-sifat dan tingkah laku mereka pun tidak terelakkan. Banyak yang sudah masuk Kristen atau Katolik maupun islam, dan ada yang pergi merantau dan kawin dengan orang non-Maanyan. Ternyata orang Maanyan cocok dan dapat bergaul dengan mudah dengan hampir semua macam corak budaya di Indonesia.

Literature lain menyebutkan Suku Maanyan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan. Suku-suku Dusun termasuk golongan sukubangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Suku Maanyan mendiami bagian timur Kalimantan Tengah terutama di kabupaten Barito Timur dan sebagian kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I. Suku Maanyan juga mendiami bagian utara Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Maanyan. Suku Maanyan di Kalimantan Selatan dikelompokkan sebagai Maanyan II. Menurut orang Maanyan, sebelum menempati kawasan tempat tinggalnya yang sekarang, mereka berasal dari hilir.

Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit (Majapahit) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa subetnis. Suku terbagi menjadi 7 subetnis, diantaranya :
Maanyan Paju Epat (murni)
Maanyan Dayu
Maanyan Paju Sapuluh (ada pengaruh Banjar)
Maanyan Benua Lima/Paju Lima (ada pengaruh Banjar)
Maanyan Tanta (ada pengaruh Banjar)
dan lain-lain, Namun  dalam perkembangannya, suku dayak Maanyan berdasarkan adat istiadatnya hanya terbagi menjadi 3 yaitu maanyan paju epat, Maanyan kampung sepuluh, dan maanyan Benua Lima
Bue Kuh

peribahasa dalam bahasa Maanyan

  • Apui Ngalulumang jewe galis
  • Jalah Manu wauken ete
  • Nikep hang ranu kadaya
  • Ngitap parei puang baape
  • Jalah panggang kehung kungkung using
  • Puang rengei simai lehung
  • Puang hawas pangawiwi
  • Amau erang kadungku lalan
  • Jalah rare’eh hang kapit buntat
  • Hante jalah teung garubak
  • Jalah using andri antahu
  • Kuman nanam ape, ranu jalah barunrui
  • Jalah jewe udi tutung
  • Maintem jalah para dikang
  • Giset giset kape ehu
  • Madi makasem puang barangi

Anak Dayakkk juaaa