PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta


Leave a comment

Matei Mitu (sajak Bahasa Maanyan tentang dunia sesudah bunuh diri)

Gambut rusakMatei Mitu

Aku puang batenga daging lagi

Pada aku puang kaiyuh kakihi diwi’

Rimutku haut wawai hang penah lasi

Puang kaiyuh lagi ma umme lepuh masi

Aku yena haut tawang ma dunia adiau

Ammirueku tawang jalah wuah dinna’ kariyau

Aku mintu ngu’ut racun tuwe pahiyau

Aku nanan dunia puang iyuh lagi na herau

Antuh ulun tumpuk aku matei mitu

Puang kaule nahan hanang atei situ

Ganna sarak andri darangan isa na kalelu tu’u

Asalni daya ulun matueh pulaksanaiku puang katuju

Aku itati jari amirue ekat

Kujuk kujuk takiya ngume buntat

Teka dunia ma tumpuk adiau natat

Nyabarang mareh hungei pampatei upak

Pitu andrau pitu malem aku takiya’

Hampe tumpuk adiau pulau ramania

Kawan kayu kaya jari kakuring kariya

Erang katumpukan ulun arai ngararia

Aku nadap kapala pangulu tumpuk amirue

Sa manuwu maharung hang tuhi hungei mareh iwure’

Ngaranni hi KAKAH GANTAR TANE BALULE

Babaju baling balunsar jalah kenah sule

Pakat tumpuk adiau aku na unnur

Daya matei mitu huan hampe umur

Baya kawan adiau matei puang iyuh sampur

Na huyu tulak itah padang tampupur

Aku ulek kalekuk puang kahaba akal

Hang atei ekat kainam sasal

Jari ulun hang dunia isa puang baakal

Na uring mitu nawan kakal

Ekat aku itati jari amirue panasaran

Puang na tarime hang tumpuk tangkuraran

Raerai ngulah punuk ngulah lalan

Higa hungai hang kutuan Lanan

Ma naun kawan isa lagi welum hang yari

Biar kalaawe weat masalah hang dunia iri

Ada hampe mitu jalah aku yari

Jari amirue samiding jalah rawen ampiri


12 Comments

Seri Kuliner Dayak Maanyan ( Mengenal jenis jenis sambal khas Dayak Maanyan)

Seri Kuliner Dayak Maanyan

Mengenal Berbagai jenis Sambal Khas Dayak Maanyan

Sambal merupakan hidangan pelengkap yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Kalau suku Jawa mengindentifikasi sambal adalah hidangan pelengkap dengan rasa pedas, maka suku Dayak terutama Dayak Maanyan secara umum mengidentifikasi bahwa rasa sambal adalah perpaduan serasi antara rasa pedas dan asam dengan aroma terasi. Oleh karena itu bahan dasar pembuatan sambal bagi orang Dayak Maanyan selain Lombok /cabe, bawang dan terasi juga berbagai bahan yang mempunyai rasa asam. Masyarakat Dayak Maanyan Benua Lima menyebut “sambal” bila berbentuk padat, namun bila berkuah cair, sambal tersebut disebut “pansuk”.

Berikut ini beberapa jenis sambal khas Dayak Maanyan ( sangat mungkin jenisnya serupa dengan Dayak Dayak yang lain), yang pernah saya makan dan saya tanyakan resepnya, bahkan hampir semuanya saya pernah membuatnya :

  1. Sambal Ramania

Sambal ini berbahan dasar buah ramania yang masih muda tau mentah. Ramania adalah sejenis tumbuhan yang berbuah asam yang bisa dimakan dengan kulit kulitnya.  Buah ini bila masih mentah berwarna hijau, kalau matang berwarna kuning jingga ranum, dengan biji dalam berwarna ungu.  Cara membuat sambal ini cukup sederhana, yaitu dengan menghaluskan bahan mentah berupa cabe rawit, bawang merah, garam, gula atau MSG sedikit, dan terasi bakar. Bila bahan tersebut sudah halus masukan buah ramania mentah yang diiris dan dimemarkan, aduk sampai merata, siap dihidangkan. Jenis sambal ini dibuat untuk sekali makan. Sambal ini cocok dikombinasikan dengan sayur rebus, lalapan, ikan bakar, ikan goreng, daging maupun sayur berkuah.

  1. Sambal Mangga Muda

Samabal ini berbahan dasar mangga muda, cara membuatnya sama dengan membuat sambal ramania, hanya bahan asamnya diganti dengan mangga musa diserut halus, dan diaduk rata. Sambal ini sangat cocok sebagai cocolan ikan panggang atau ikan goreng, mantan para pembaca!

  1. Sambal sarai baya kenah

Samabal ini oleh masyarakat Dayak Ngaju disebut sambal kandas sarai, biasanya sambal ini bukan sebagi hidangan pelengkap tapi hidangan utama, seperti layaknya otak-otak atau semur daging giling. Hidangan utama ini bahan dasarnya adalah serai (pilih yang mudah, besar dan gemuk gemuk agar mudah diiris setipis mungkin). Serai terlebih dahulu dibakar di atas bara untuk mengeluarkan aromanya, kemudian diiris setipis mungkin, haluskan dengan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, yang telah digoreng bulat bulat plus terasi bakar sedikit, tambahkan garam dan gula atau sedikit MSG (ingat kalo pake MSG sedikitttttt aja ya?), setelah halus campur bahan tersbut dengan daging ikan panggang atau goreng yang telah dibuang tulangnya dengan perbandingan 1:1, aduk rata menggunakan dua sendok kecil. Lebih enak menggunakan ikan dari jenis yang tidak bersisik seperti ikan Baung, Tapah/tampahas, Lais, Patin sungai atau ikan lele. Sambal ini rasanya luar biasa…silakan buat sendiri pembaca he he>

  1. Sambal Tampuyak Ruyan

Bahan dasar sambal ini adalah tempoyak atau tampuyak yaitu daging durian yang diawetkan dengan sedikit garam dan disimpan dalam stoples atau botol tertutup dalam jangka waktu tertentu.  Cara membuat sambal tampuyak sangat mudah, yaitu tampuyak digoreng dengan sedikit minyak goreng bersama irisan tipis bawang merah, cabe rawit, bawang putih sedikit, terasi sedikit, dan diberi garam (jangan diberi gula atau MSG karena rasanya sudah manis). Menggoreng sambal ini harus sambil terus diaduk sampai matang.

  1. Sambal ihem muda

Bahan dasarnya adalah ihem atau sejenis mangga hutan yang baunya khas yang masih muda, cara membuatnya sama dengan membuat sambal tmpuyak ruyan, namun tempuyaknya dig anti dengan ihem yang diparut halus, dan pada saat menggorengnya diberi terasi lebih banyak, garam dan gula atau MSG sedikit.

  1. Sambal teung asem

Bahan dasarnya adalah terung asam atau teung asem yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut rimbang. Namun untuk bahan sambal terung asam yang dipakai adalah dari jenis yang kecil atau berbuah kecil yang mempunya rasa dan aroma yang lebih tajam. Cara membuat sama dengan membuat sambal ihem muda, hanya parutan ihem muda dig anti dengan teung asem yang diiris tipis tipis. Menggorengnya juga harus lebih lama samapi teung asemnya empuk.

  1. Sambal Binjai atau wennu’

ini adalah sambal favorit saya, bahan dasarnya adalah binjai atau wennu’ yang sudah matang. Binjai adalah sejenis poho asam dengan batang yang besar dan tinggi, mempunyai buah lonjong besar dengan kulit berwarna off white sampai coklat, dagingya lunak menyerupai daging buah durian dengan warna putih susu.  Cara membuat sambalnya persis sama dengan membuat sambal tempuyak ruyan namun kompisisi terasinya lebih banyak dan diberi MSG sedikit (sedikit sekali ya?!). Perpaduan rasa pedas cabe rawit dengan rasa kecut binjau dan aroma terasi menimbulkan sensasi yang luar biasa di lidah. Perbanyak stok nasi anda jika makan dengan sambal ini,karena akan sangat membangkitkan selera..makan jadi lebih bergairah…

  1. Sambal tomat

Sambal ini sudah dikenal penduduk sedunia, namun masyarakat tradisional dayak Maanyan yang masih berladang menggunakan jenis tomat local yang buahnya kecil seperti buh cerry, aromanya sangat tajam dan rasanya lebih manis.

  1. Dadahan Acan atau terasi serai bakar

Bahannya adalah terasi dicampur dengan irisan tipis serai, Lombok dan garam. Dibuat adonan dan ditekan pelan2 pada cobek kayu. Kemudian di panggang di atas bara, di mana cobek dalam posisi terbalik kea rah bara api. Baunya harum dan enak sekali.

10. Pansuk

Pansuk adalah jenis sambal yang berkuah untuk cocolan sayur rebus. Bahan yang sering di pakai adalah asam kandis atau kandris dibakar atau direbus, garam, terasi bakar, sedikit MSG,bawang merah iris, masukan dalam mangkok kecil dicampur air matang satu gelas, haluskan dengan menggunakan sendok kecil panjang, campur dengan daging ikan goreng atau panggang atau panggang kalok/na upuh (ikan dibakar dengan sisik sisiknya), aduk rata dan siap dihidangkan. Selain asam kandis juga bisa menggunakan sama ramania yang dibakar atau buah rotan manau yang matang dipohonnya.

Karena saya jadi lapar, cukup sekian pembaca….selamat menikamati………


6 Comments

Pengalaman terapi Lintah (Dalam Bahasa Malay Sabah)…he he masih belajar

Lewat waktu minggu  semalam, selepas waktu pulang gereja, saya mengajak Thomas, rakan setugas yang bertugas sebagai tangan kanan pembatu di Urusan Kasihatan province Borneo Timur pusing pusing bandar samarinda tak terang tujuan kami ke mana..ahirnya kami setubuh ke kumpulan citra niaga..tengah bandar Samarinda

Tujuan kami ke sana adalah untuk melegakan urat-urat saraf yang ternyata tegang kerana khusyuk berkerja kebelakangan ini. Maklumlah, musim peperiksaan ni memang agak sibuk sedikit walaupun tiada kelas.

Sempat juga berbual-bual dengan Paman asli bumiputra Dayak yang tlah lama praktek Bekam Lintah, Cakap-cakap saya yang pelat memancing tawa juga antara kami.

Kami nak coba  perkhidmatan bekam Lintah, tapi banyak giliran menanti.saya mau mencoba perkhimatan ini kerana , saya terbaca sebuah paparan mengenai  ‘bekam lintah’ yang disiarkan di suratkhabar Kaltim Pos. Terdetik di dalam hati, “Rasa-rasa macam menariklah!”

Awalnya saya berasa macam takutlah sikit. Rasa macam dalam rancangan ‘Fear Factor’. tapi ternyata tak lah sakit, 5 ekor Lintah boleh isap kaki kita sampai tak berasa lapar lagi, dan jatuh sendiri. Kesan langsung adalah kepala kita jadi tak lah berat dan badan boleh menjadi segar

Puji Tuhan, sekurang-kurangnya saya ada pengalaman berbekam lintah. ternyata Seronok  juga. siapa rasa macam nak coba?


5 Comments

Berbagai Upacara Adat Kematian Dayak Maanyan

Dayakkkk KoeDayak Maanyan sebagaimana Dayak Lainnya di Kalimantan Tengah pada awalnya menganut kepercayaan (Agama) Kaharingan yang sampai  saat ini sangat mempengaruhi kebudayaan yang diwariskan kepada generasi baru yang menganut Agama Samawi (kebanyakan Kristen dan katolik).
Sepegetahuan saya ada, di banyak daerah misionaris Kristen dan Katolik baru mencapai desa dan dusun pedalaman tahun 1970, otomatis sebelum   kebanyakan Masyarakat dayak Maanyan Benua Lima di daerah terpencil menganut kepercayaan (sekarang Agama) Kaharingan, yang oleh pemerintah waktu itu “dipaksa” menjadi Hindu Kaharingan.
Oleh karena itu beberapa upacara adat kematian Dayak Maanyan adalah warisan budaya yang dijiwai Agama Kaharingan yang dipeluk oleh leluhur Dayak Maanyan.
Pada dasarnya, secara hukun adat Dayak Maanyan terbagi  tiga wilayah hukum adat yaitu  wilayah Banua Lima, Paju Empat dan Paju Sepuluh  (kampung sepuluh) terdapat bentuk-bentuk upacara kematian yang beragam. namun karena pengetahuan saya terbatas, maka saya hanya akan menjelaskan yang masuk hukum Adat Benua Lima :
Masyarakat Dayak Maanyan dulu menggambarkan bahwa kematian adalah sebuah awal perpindahan atau perjalanan roh (adiau atau amirue) ke kemuliaan dunia baru (tumpuk adiau) yang subur, damai, tentram, kaya raya dimana di sana ada kesempurnaan, kesehatan, awet muda dan kehidupan yang abadi. seorang Belian orang mati (wadian matei) yang saya interview menggambarkan amirue/adiau akan diantar ke tumpuk janang jari, kawan nyiui pinang kakuring, wahai kawan intan amas, parei jari, kuta maharuh, welum sanang, puang mekum maringin, arai hewu (Roh yang meninggal kan di bimbing perjalanannya oleh belian menuju tempat/perkampungan yang subur, kelapa dan pinang menghijau indah, bertaburkan intan dan emas, padi yang subur, makanan yang enak, hidup sejahtera, selalu sehat dan gembira)

Pada dasarnya Upacara (adat) kematian merupakan berbagai jenis upacara (serangkaian) dari kematian sampai beberapa upacara untuk mengantar adiau/roh ke tumpuk adiau/dunia akhirat’

Berikut beberapa upacara yang pernah saya hadiri :

  1. Ijambe, (baca : Ijamme’) yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tulang mati. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam. dan membutuhkan biaya yang sangat besar, dengan hewan korban kerbau, Babi dan Ayam. Karena mahal Upacara ini dilakukan oleh keluarga besar dan untuk beberapa Orang (tulang yang udah meninggal) atau untuk beberapa Nama, dulu sering dilakukan di desa nenek saya di desa Warukin, kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan
  2. Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.
  3. Miya, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam. kuburan dihiasi dan lewat upacara ini keluarga masih hidup dapat “mengirim” makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya kepada “adiau” yang sudah meninggal.
  4. Bontang, adalah level tertinggi dan “termewah” bentuk penghormatan keluarga yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, upacara ini cukup lama 5 hari lima malam, dengan biaya luar bisa, “memakan korban “puluhan ekor Babi jumbo dan ratusan ekor ayam kampung esensinya adalah memberi/mengirim “kesejahteraan dan kemapanan” untuk roh/adiau yang di”bontang”, upacar ini bukan termasuk upacara duka, tapi sudah berbentuk upacara sukacita.
  5. Nuang Panuk, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Miya, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam. Dan kuburan si mati pun hanya dibuat batur satu tingkat saja, di antar kue sesajen khas dayak yaitu tumpi wayu dan lapat wayu dan berbagai jenis kue lainnya  dalam jumlah serba tujuh dan susunan yang cukup rumit
  6. Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Mia yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Mia untuk menjadi pangantu pangantuhu, atau “sahabat” bagi keluarga yang belum meninggal

Yang menarik dari upacara tersebut adalah banyak unsur seninya, baik tumet leut (sajak yang dilantunkan dengan nada indah tapi tetap, dan tarian tarian khas jaman dulu misalnya giring2 atau nampak maupun nandrik

Upacara tersebut di atas mulai terancam punah, karena keturunan selanjutnya dari Dayak Maanyan Benua Lima kebanyakan menganut Agama Kristen dan Katolik,  lucunya ada bebrapa yang di”modifikasi” misalnya upacara miya di ganti dengan kebaktian mambatur versi kristen dan Katolik.

Harapan kita semua, kalapun bukan dalam bentuk kepercayaan, minimal beberapa budaya dalam bentuk syair, tarian, dll dapat dilestarikan.

Salam

Umpu Kakah

David S


Leave a comment

MENGENAL SAYUR KHAS DAYAK MAANYAN (BAG I)

Mengenal keragaman sayuran Khas Dayak (seri I)

Umbut/Uwut

Berbicara tentang sayuran khas Dayak , dalam hal ini adalah Dayak Maanyan (dayak lain setali 3 uang), maka yang pertama dibicarakan adalah sayur umbut , dalam bahasa Maanyan disebut “uwut”.

Uwut adalah bagian yang lunak dan muda dari batang palmae atau rotan, atau dari tumbuhan perdu sejenis jahe jahean. Umbut dahulu dikenal masyarakat dayak karena mudah memperolehnya, sebab tidak perlu di tanam, hanya mengambil yang tersedia di hutan. Ada beberapa jenis Uwut yang sering di Konsumsi masyarakat Dayak Maanyan

  1. Uwut dari jenis Palmae : terdiri dari uwut sawit, uwut kelapa, uwut rumbia, uwut pinang, uwut wulang, uwut damuran. Uwut uwut dari golongan palmae ini biasanya cara memasaknya di campur dengan daging, tulang atau ayam,  dengan bumbu kuning atau merah, kadang kadang di kasih santan juga.

Uwut sawit (kelapa sawit) adalah uwut yang paling terkenal dan hampir dikenal berbagai suku bangsa di Indonesia, uwut ini biasanya jadi sayur pada acara acara besar seperti syukuran, pernikahan, dan acara lainnya

Uwut Kelapa/uwut Nyiui hampir sama dengan uwut sawit, tapi seratnya lebih halus dan rasanya lebih manis, paling enak di masak dengan ayam kampung dengan bumbu kuning atau opor dan diberi santan. Uwut ini jarang diperoleh, karena siempunya pohon kelapa terlanjur sayang dengan pohon kelapanya kalau diambil umbutnya,kelapa pasti mati dan tidak akan berbuah lagi. Seringkali uwut kelapa ini di ambil pada acara acara insidental, misalnya pada saat orang meninggal dunia.

Uwut Rumbia atau biasa disebut uwut amiye’, adalah uwut yang diambil dari pohon rumbia. Uwut ini seratnya agak kasar, dan bergetah, jadi harus lebih hati hati dan bersih dalam pengolahannya. Dayak Maanyan mengenal 2 jenis rumbia, yaitu rumbia/amiye sagu yaitu rumbia yang habitusnya besar, dan tujuannya penananamnya adalah untuk mendapatkan sagu, jenis kedua adalah rumbia/amiye dariyangau, jenis rumbia kecil, dan tidak bisa menjulang tinggi, karena batangnya biasa melingkar. Rumbia ini ditanam untuk diambil umbutnya dan daunnya yang akan diolah menjadi atap.

Uwut Wulang adalah uwut yang diambil dari sejenis palmae yang cukup tinggi, yang hidup di daerah hutan dataran tinggi atau hutan dipterocarpacea, sepengatahuan saya jenis palmae ini hidup di hutan dipterokarpae (hutan yang didominasi oleh kayu dari Fam Dipterocarpaceae, atau jenis meranti) di Kalimantan. Uwut ini rasanya persis uwut kelapa, juga enak dibuat sayur bening.

Uwut damuran adalah uwut yang didapat dari sejenis salak hutan yang tumbuh di rawa rawa non gambut di Kalimantan, uwut ini sangat susah mengambilnya karena duri duri damuran sangat panjang, tajam dan berbahaya. Namun hasilnya sebanding dengan perjuangan, umbutnya enaknya luar biasa.

2.Dari Jenis Rotan

    Umbut Rotan merupakan kekayaan bersama semua sun suku Dayak, oleh karena itu saya hanya menyampaikan yang dikenal masyarakat dayak Maanyan saja

    Masyarakat tradisional dayak Maanyan mengenal bebarapa jenis Umbut Rotan atau uwut (saja), yiatu uwut nange, uwut sakulu, uwut gamis, dan uwut manau, uwut Ra’anan (kalau dayak Ngaju daftar uwut rotannya 3 kali lebih panjang)

    Semua jenis uwut ini merupakan bagian yang muda dan lunak (bakal batang rotan yang belum keras) yang terdapat pada bagian dekat pucuk dari berbagai jenis rotan.

    Uwut Nange atau rotan merah merupakan uwut yang paling terkenal, rotan ini memang ditakdirkan untuk diambil umbutnya(uwutnya) karena batang rotannya tidak komersil. Rotan ini tumbuh berbentuk rumpun di daerah yang berawa atau dataran rendah yang selalu basah atau dipinggiran sungai. Uwut ini bisa dimasak dengan bumbu minimalis (bahasa dayak Ngaju di juhu, atau bahasa maanyan na papahak) dicampur dengan (maaf) Babi tau Babi hutan, namun bisa juga di masak dengan bumbu kuning dengan campuran tulang kambing, tulang sapi, tulang babi, atau tulang rusa (asal jangan Tulang Batak aja ha ha ha). Namun enak juga dimasak dengan campuran ikan sungai (bukan ikan budidaya atau ikan laut). Di beberapa tempat/desa umbut ini diiris miring tipis lalu dioseng dengan terasi atau ebi, enak sekali.

    Uwut Sakulu, merupakan jenis umbut  yang rasanya pahit, namun sangat disukai masyarakat Dayak Maanyan, semua Dayak di Kasel dan Kaltim. Sakulu jenis rotan yang batangnya non komersil biasanya tumbuh di tanah kering.  Ada dua jenis sakulu, yang pertama sakulu Kutuan adalah sakulu yang tumbuh subur di hutan hutan, batangnya lebih besar dan rasanya lebih pahit, yang kedua adalah sakulu lasi, adalah sakulu yang tumbuh di areal yang masih mengalami suksesi untuk menjadi hutan sekunder, sakulu jenis ini biasanya pendek dan terpapar sinar matahari langsug akibat karena tidak ada kayu besar di sekitarnya. Umbut sakulu ini rasanya jauh lebih enak, dan biasanya di makan mentah (seperti Lalapan orang Sunda). Uwut sakulu selain bisa di oseng seperti uwut nange, juga sangat enak dimasak dengan wadi, baik wadi daging (maaf lagi..) Babi maupun wadi ikan.

    Uwut Gamis adalah jenis uwut yang diambil dari rotan yang kecil, buah rotan ini sangat enak di makan, berwarna kuning, dan dagingnya seperti lendir (he he he). Rasanya sangat manis, enak di makan sebagai lalapan dengan sambal atau wadi (lagi lagi)

    Uwut manau dan ra’anan adalah jenis uwut yang diambil dari rotan jenis manau dan ra’anan, rotan jenis ini adalah rotan yang komersil dan laku dijual sebagai bahan baku pembuatan lemari kursi bahkan tempat tidur, hanya saja rasa uwutnya kurang enak di bandingkan dengan jenis lain

    3.Uwut tumbuhan perdu (jahe jahean)

      Masyarakat dayak Maanyan hanya mengenal 2 jenis yaitu umbut lauah atau lengkuas dan uwut pu,ai (sejenis jahe jahean hutan yang besar dan panjang). Umbut didapatkan dari bagian lunak dalam batang muda jenis jahe jahean ini. Biasanya di sayur sendiri, walaupun sering juga di campur dengan ikan air tawar. Sementara Dayak Ngaju jauh lebih kaya dengan jenis jenis umbut jahe jahean, yang paling fonemenal  adalah jenis jahe2an yang saya lupa namanya (mirip lengkuas, ada yang berdaun merah maupun hijau), yang umbutnya diambil, lalu di haluskan mentah dengan daging ikan yang sudah dipanggang atau digoreng, baunya sangat khas dan harum, dan konon bagi penggemarnya, hidangan ini bikin yang makan tidak sadar akan kehadiran mertua lagi yang lalu lalang sambil ngomel, saking enaknya (makanya saya bilang fonemenal he he

      Saudara Pembaca, silakandi tambahkan…


      2 Comments

      Menanam padi Secara Gotong Royong (Mu’au)

      Mu’au
      Mu’au adalah sebuah kegiatan yang bernilai filosofis dan unsur budaya yang tinggi. Mu’au merupakan kegiatan menanam padi di ladang tadah hujan yang dilakukan secara gotong royong. Mekanismenya kalau saat kita mu’au di bantu oleh dua orang dari satu keluarga, maka saat keluarga tersebut mu’au kita juga wajib membayarnya dengan dua orang juga. Saat kita membantu orang mu’au tapi giliran kita belum, sebutannya adalah ngandrau, sementara kalau giliran kita sudah dan membayar utang, namanya nahur andrau.
      Mu’au dalam masyarakat tradisional dayak Maanyan biasanya dilakukan pada ahir September sampai ahir Nopember, musim menanam ini dalam istilah Maanyan disebut “masa mu’au”. Biasanya dalam satu desa yang kecil hanya ada 1-2 keluarga saja yang mu’au per harinya. Dalam hal ini luas ladang dan jauhnya ladang bukan jadi bahan pertimbangan, semuanya suka rela dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Benih padi yang akan di tanam adalah benih dari tahun panen sebelumnya, artinya masih belum sampai satu tahun di simpan. Benih ini dalam bahasa maanyan di sebut winni. Biasanya satu bidang ladang akan di tanam 3 jenis padi, yaitu ketan atau dite, padi yang masa panennya lebih pendek di sebut parei gilai, dan gogo rancah disebut parei lungkung. Jika ada bagian yang tergenang air (biasanya jarang), akan ditanam jenis padi sawah atau “parei Reden”
      Prosesi mu’au di awali dengan ngilau winni, sebuah prosesi “memberkati” benih menurut ajaran Kaharingan, benih dikumpulkan di tengah ladang, yang di tandai dengan satu tonggak kayu putih mulus, yang disebut “panaan winni”. Dekat tonggak kayu ini ditanam kencur/sakur dan daun lawang hijau/rirung kakuring, dipecahkan telor ayam kampung dan dipasang sedikit (na palit) darah ayam kampung, untuk memohon kesuburan bagi benih yang di tanam. Namun prosesi ini sekarang mulai terancam punah, suku dayak Maanyan Benua Lima yang menganut agama Kristen dan Katolik mengganti prosesi ini dengan do’a yang dipimpin oleh diakon/ketua jemaat (Kristen) atau ketua umat/dewan gereja (Katolik).
      Pelaksanaan mu’au dipimpin oleh seorang yang berpengalaman, disebut dengan “makas”. Dia lah yang akan menentukan berapa kali bolak balik (1 bekas) hingga semua ladang selesai ditanami. Kegiatan mu’au dibagi menjadi dua baris, baris depan biasanya adalah laki laki yang membawa kayu runcing untuk membuat lubang yang di sebut dengan “ehek”, saat membuat lubang disebut “maehek”, sementara barisan belakang biasanya di isi wanita yang akan memasukkan benih ke dalam lubang yang telah ditugal. Pemimpin mu’au atau yang makas akan berada di sisi paling luar dari deretan yang membuat lubang atau ma’ehek, dia akan mengatur tempo dan irama mu’au berlangsung.
      Mu’au biasanya dimulai sekitar pukul tujuh atau delapan waktu setempat, jam 10 ada rehat sejenak di isi dengan minum dan snack, jaman dulu snacknya adalah “wadai kiping”, kue dari ketan yang dibentuk bulat2 kecil di masak dalam kuah kental gula merah dan santan plus daun pandan. Kue ini secara ilmiah mengandung kadar kalori yang tinggi untuk mencegah kelelahan, namun sekarang untuk lebih praktis kadang diganti dengan minum teh manis dan kue donat atau pisang goreng. Biasanya muau akan selesai setengah hari atau sekitar jam 12 lewat, namun ada juga yang harus dilanjutkan lagi sampai sore, tergantung luas ladang dan jumlah orang yang ikut mu’au. Jam satu siang adalah jam makan siang, jaman dulu makanan khasnya adalah opor ayam kampung di campur dengan labu kuning dimasak dengan santan kental dengan taburan bawang goreng, dalam bahasa Maanyan di sebut “luen manu baya baluh”. Nah yang memimpin prosesi muau tadi atau yang makas dikasih bonus paha ayam kampung utuh pada jam makan siangnya. Namun sekarang menu sudah mulai bervariasi dan cenderung modern, artinya menu makan siang khas mu’au ini bukanlah sesuatu yang wajib.
      Saat mu’au juga diisi dengan pembicaraan serius, santai maupun senda gurau, di bagian lain ada terlibat topik serius masalah perladangan, di deretan ibu ibu yang di belakang jauh lebih ribut dan heboh, dengan gosipnya semakin siang semakin panas, sehingga mu’au tidak terasa melelahkan, konon jaman dulu masa mu’au adalah masa yang ditunggu pemuda dan pemudi untuk melirik kiri kanan mencari pujaan hati
      Mudah-mudahanan kegiatan mu’au ini tidak akan hilang ditelan kemajuan jaman, minimal nilai filosofis dan budayanya tetap mengakar kuat dalam kita semua sebagai umpu kakah kaleluan itak.Semoga. Amin


      24 Comments

      Kuliner Dayak Maanyan

      P6290281Makanan Dayak berbahan Dasar Daun Singkong

      SUNGKAI

      Makanan Dayak ini dalam bahasa Maanyan disebut Sungkai, rungkai, Karuang, Kalumpe, di kampong saya sering disebut sebagai Sungkai. Sayur ini terbuat dari daun singkong yang ditumbuk halus, biasanya saat ditumbuk juga dicampur dengan terong kecil yang disebut dengan teung pipit atau teung tangurit. Secara tradisional saat menumbuk juga ditambah dengan daun tertentu yang disebut “rawen rungkai/rawen sungkai” yang akan menghasilkan rasa manis dan gurih, sebagai pengganti MSG yang alami dan tanpa efek samping.

      Tumbukan tersebut diberi bumbu bawang merah, bawang putih, lengkuas, serai dan kalau mau di tambah sedikit kayu manis dan Lombok, bumbu yang dihaluskan dicampur dengan tumbukan daun singkong di masak dengan api kecil dengan menggunakan santan encer, setelah mendidih lebih enak di campur lagi dengan lantar/sulur kaladi yang telah dikupas, dipotong dan dicuci bersih, setelah lantar/atau sulur keladi lunak, segera masukan santan kental sambil di aduk-aduk, angkat dan hidangkan.

      Lucunya hidangan ini akan lebih enak dihidangkan dingin ketimbang  hangat. Biasanya dihidangkan dengan sambal terasi pedas dan ikan asin (pundang) lais yang di goreng..enak sekali pemirsa…

      Bila saya pulang kampung, mama saya (saya biasa manggil “ineh”) pasti membuat sayur ini spesial untuk saya. Sayur ini selalu saya rindukan di kota manapun saya berada.

      Makanan Dayak Maanyan memang Maknyus

      Ada tanggapan??