PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Menanam padi Secara Gotong Royong (Mu’au)

2 Comments

Mu’au
Mu’au adalah sebuah kegiatan yang bernilai filosofis dan unsur budaya yang tinggi. Mu’au merupakan kegiatan menanam padi di ladang tadah hujan yang dilakukan secara gotong royong. Mekanismenya kalau saat kita mu’au di bantu oleh dua orang dari satu keluarga, maka saat keluarga tersebut mu’au kita juga wajib membayarnya dengan dua orang juga. Saat kita membantu orang mu’au tapi giliran kita belum, sebutannya adalah ngandrau, sementara kalau giliran kita sudah dan membayar utang, namanya nahur andrau.
Mu’au dalam masyarakat tradisional dayak Maanyan biasanya dilakukan pada ahir September sampai ahir Nopember, musim menanam ini dalam istilah Maanyan disebut “masa mu’au”. Biasanya dalam satu desa yang kecil hanya ada 1-2 keluarga saja yang mu’au per harinya. Dalam hal ini luas ladang dan jauhnya ladang bukan jadi bahan pertimbangan, semuanya suka rela dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Benih padi yang akan di tanam adalah benih dari tahun panen sebelumnya, artinya masih belum sampai satu tahun di simpan. Benih ini dalam bahasa maanyan di sebut winni. Biasanya satu bidang ladang akan di tanam 3 jenis padi, yaitu ketan atau dite, padi yang masa panennya lebih pendek di sebut parei gilai, dan gogo rancah disebut parei lungkung. Jika ada bagian yang tergenang air (biasanya jarang), akan ditanam jenis padi sawah atau “parei Reden”
Prosesi mu’au di awali dengan ngilau winni, sebuah prosesi “memberkati” benih menurut ajaran Kaharingan, benih dikumpulkan di tengah ladang, yang di tandai dengan satu tonggak kayu putih mulus, yang disebut “panaan winni”. Dekat tonggak kayu ini ditanam kencur/sakur dan daun lawang hijau/rirung kakuring, dipecahkan telor ayam kampung dan dipasang sedikit (na palit) darah ayam kampung, untuk memohon kesuburan bagi benih yang di tanam. Namun prosesi ini sekarang mulai terancam punah, suku dayak Maanyan Benua Lima yang menganut agama Kristen dan Katolik mengganti prosesi ini dengan do’a yang dipimpin oleh diakon/ketua jemaat (Kristen) atau ketua umat/dewan gereja (Katolik).
Pelaksanaan mu’au dipimpin oleh seorang yang berpengalaman, disebut dengan “makas”. Dia lah yang akan menentukan berapa kali bolak balik (1 bekas) hingga semua ladang selesai ditanami. Kegiatan mu’au dibagi menjadi dua baris, baris depan biasanya adalah laki laki yang membawa kayu runcing untuk membuat lubang yang di sebut dengan “ehek”, saat membuat lubang disebut “maehek”, sementara barisan belakang biasanya di isi wanita yang akan memasukkan benih ke dalam lubang yang telah ditugal. Pemimpin mu’au atau yang makas akan berada di sisi paling luar dari deretan yang membuat lubang atau ma’ehek, dia akan mengatur tempo dan irama mu’au berlangsung.
Mu’au biasanya dimulai sekitar pukul tujuh atau delapan waktu setempat, jam 10 ada rehat sejenak di isi dengan minum dan snack, jaman dulu snacknya adalah “wadai kiping”, kue dari ketan yang dibentuk bulat2 kecil di masak dalam kuah kental gula merah dan santan plus daun pandan. Kue ini secara ilmiah mengandung kadar kalori yang tinggi untuk mencegah kelelahan, namun sekarang untuk lebih praktis kadang diganti dengan minum teh manis dan kue donat atau pisang goreng. Biasanya muau akan selesai setengah hari atau sekitar jam 12 lewat, namun ada juga yang harus dilanjutkan lagi sampai sore, tergantung luas ladang dan jumlah orang yang ikut mu’au. Jam satu siang adalah jam makan siang, jaman dulu makanan khasnya adalah opor ayam kampung di campur dengan labu kuning dimasak dengan santan kental dengan taburan bawang goreng, dalam bahasa Maanyan di sebut “luen manu baya baluh”. Nah yang memimpin prosesi muau tadi atau yang makas dikasih bonus paha ayam kampung utuh pada jam makan siangnya. Namun sekarang menu sudah mulai bervariasi dan cenderung modern, artinya menu makan siang khas mu’au ini bukanlah sesuatu yang wajib.
Saat mu’au juga diisi dengan pembicaraan serius, santai maupun senda gurau, di bagian lain ada terlibat topik serius masalah perladangan, di deretan ibu ibu yang di belakang jauh lebih ribut dan heboh, dengan gosipnya semakin siang semakin panas, sehingga mu’au tidak terasa melelahkan, konon jaman dulu masa mu’au adalah masa yang ditunggu pemuda dan pemudi untuk melirik kiri kanan mencari pujaan hati
Mudah-mudahanan kegiatan mu’au ini tidak akan hilang ditelan kemajuan jaman, minimal nilai filosofis dan budayanya tetap mengakar kuat dalam kita semua sebagai umpu kakah kaleluan itak.Semoga. Amin

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

2 thoughts on “Menanam padi Secara Gotong Royong (Mu’au)

  1. Menanam padi (mu’au) secara gotong royong disebut ‘NGANYUH”, Pangandrau…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s