PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Tulisan Widyaiswara

Leave a comment

MEMBANGUN KEMAMPUAN BERPERILAKU ASERTIF  SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL WIDYAISWARA

Oleh :

David Suwito, S.Hut dan Dra. Nurmini Hasyim

PENDAHULUAN

Dalam sebuah organisasi, kualitas dan kompetensi para sumber daya manusia (SDM)  merupakan  asset organisasi yang paling penting, termasuk SDM organisasi pemeritah yaitu PNS perlu terus ditingkatkan. Lembaga diklat merupakan salah satu pintu utama untuk memasukinya. Human investment melalui diklat bermutu, akan melahirkan SDM aparatur bermutu yang pada akhirnya diharapkan akan membawa Indonesia untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Salah satu komponen diklat yang mempunyai peranan penting adalah pengajar atau widyaiswara. Widyaiswara memiliki tugas pokok, sebagaimana tercantum dalam Peraturan MENPAN No. PER/66/M.PAN/6/2005, yaitu mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS. Hal ini berarti bahwa selain pada peserta pelatihan itu sendiri, keberhasilan peserta pelatihan dalam menyerap, mengerti dan memahami materi yang disampaikan dalam sebuah kegiatan pelatihan sebagian besar terletak di pundak widyaiswara.

Semua profesi dituntut profesionalis di bidangnya. Artinya bekerja menurut kaidah profesi. Tuntutan tersebut merupakan sebuah keniscayaan dalam birokrasi ketika tuntutan pelayan birokrasi semakin meningkat dalam kerangka good governance (Fanggidae, 2008). Dengan demikian, kesuksesan suatu program pengajaran diklat juga akan sangat ditentukan oleh profesionalisme yang dimiliki oleh widyaiswara. Widyaiswara yang profesional akan memiliki kompetensi atau kemampuan mengajar dan kemampuan memfasilitasi yang unggul dalam suatu proses pembelajaran/pelatihan. Widyaiswara yang kompeten akan lebih mampu membawa dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif serta akan lebih mampu mengelola kelasnya dan membawa peserta diklat pada pencapaian hasil belajar yang optimal.

Peraturan Kepala Lembaga Adiministrasi Negara No. 5 Tahun 2008 tentang standar kompetensi widyaiswara menyebutkan bahwa kompetensi widyaiswara terdiri dari Kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi social dan kompetensi subtansif. Dalam penilaian kompetensi widyaiswara bobot penilaian untuk masing masing kompetensi adalah : pengelolaan pembelajaran (40%), Kepribadian (10%), Sosial (10%), Subtansif (40%).

Walaupun dengan bobot yang lebih rendah kompetensi kepribadian dan social mempunyai peranan yan penting, karena widyaiswara yang secara kodrati adalah makhluk social, juga dalam tugasnya pasti berhadapan dengan fihak lain baik penyelenggara diklat, peserta, maupun sesama widyaiswara. Artinya widyaiswara juga seperti layaknya pemilihan Miss Universe, juga harus mempunya modal 3B (Brain, Beauty, Behavior) yang baik. Dalam menjalankan tugas tentunya widyaiswara dituntut untuk mampu menjalin hubungan yang baik  dengan semua fihak sekaligus menampilkan pribadi yang patut dan layak untuk diteladani.

Mengenal Perilaku Submisif, Agresif, dan Asertif

Dalam hubungan interpersonal, perilaku seseorang terhadap orang lain dapat dikelompokkan menjadi perilaku asertif, perilaku submisif, dan perilaku agresif.

Pada saat kita menampilkan perilaku “manis”, “tidak menimbulkan masalah bagi orang lain”, lemah, pasif, mengorbankan diri sendiri, tidak bisa menolak, membiarkan kebutuhan, pendapat, pikiran, penilaian orang lain mendominasi kebutuhan, pendapat, pikiran, dan penilaian diri kita sendiri, maka kita sudah menampilkan perilaku submisif. Sebagai contoh: seorang Kepala Sekolah cenderung menghindari memberi tugas yang cukup rumit kepada salah seorang guru karena guru tersebut seringkali mengajukan keberatan bila diberi tugas seperti itu.

Perilaku submisif ini cepat atau lambat akan menimbulkan rasa terancam dan tersakiti, tidak puas, depresi, penyakit fisik, serta akan mengukuhkan keberadaan perilaku agresif orang lain.

Perilaku submisif muncul karena didorong oleh adanya keyakinan sumbisif, yaitu keyakinan bahwa:

  • Orang lain lebih penting, lebih cerdas, atau apapun, yang semuanya lebih baik daripada saya.
  • Orang lain tidak menyukai saya karena saya tidak layak disukai
  • Pendapat saya tidak berharga dan tidak akan dihargai
  • Saya harus sempurna dalam melakukan apa pun, jika tidak, sempurnalah kegagalan saya
  • Lebih baik aman dan tak mengatakan apa pun daripada saya mengatakan apa yang saya pikirkan.

Perilaku agresif adalah perilaku yang self-centered (hanya mengutamakan hak, kepentingan, pendapat, kebutuhan, dan perasaan sendiri), mengabaikan hak orang lain. Orang-orang yang agresif berasumsi bahwa hanya dirinyalah yang benar, sehingga perilakunya berisi permusuhan dan kesombongan. Mereka sering menggunakan kemarahan dan bahasa tubuh yang agresif serta perilaku mengancam lain untuk menggertak, menaklukkan, dan mendominasi orang lain. Mereka akan menggunakan bahasa yang menyakiti orang lain untuk menyimpulkan bahwa seseorang bersalah serta mempermalukannya. Sebagai contoh, saat seorang guru tidak bisa melaksanakan tugas seperti yang diharapkannya, seorang kepala sekolah berkata “Masa yang begini saja tidak bisa. Saya kan sudah bilang, kerjakan saja seperti petunjuk saya, tidak perlu cari-cari cara lain”.

Orang-orang yang agresif biasanya mengambil keuntungan dari orang-orang yang submisif. Dari orang-orang agresif ini pulalah munculnya chauvinisme.Munculnya perilaku agresif didorong oleh adanya keyakinan bahwa:Saya lebih pandai dan lebih memiliki kekuatan dibandingkan dengan orang lain

Orang lain tidak bisa dipercaya mampu melaksanakan apa yang mereka katakanIni adalah dunia “jeruk makan jeruk”. Saya harus bertindak kepada orang lain daripada orang lain bertindak kepada saya.Satu-satunya cara agar sesuatu terlaksana adalah menyuruh orang lain. Meminta merupakan tanda kelemahan.Orang harus bertarung dengan keras (fight hard) untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan

Perilaku asertif adalah perilaku yang merupakan ekspresi/pernyataan dari minat, kebutuhan, pendapat, pikiran, dan perasaan, yang dilakukan secara bijaksana, adil, dan efektif, sehingga hak-hak kita bisa dipertahankan dengan tetap memperhatikan penghargaan atas kesetaraan dan hak orang lain.

Perilaku asertif berarti: adanya sikap tegas yang dikembangkan dalam berhubungan dengan banyak orang dalam berbagai aktivitas kehidupan. Dalam artian, ia dapat mengambil keputusan atau melakukan tindakan tertentu berdasarkan hasil pemikiran sendiri, tanpa sikap emosional,meledak-ledak, atau berperilaku buruk lainnya. Ia menegakkan kemandiriannya tanpa bermaksud menyakiti hati orang lain.
Ketegasannya penuh kelembutan, ketegasannya tanpa arogansi, itulah ciri-ciri asertif.

Lebih jauh lagi, perilaku asertif membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannyasendiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan, dan perasaan secara terbuka sambil tetap memperhatikan juga pendapat orang lain. Citra dirinya akan terlihat sebagai sosok yang berpendirian, dan tidak terjebak pada eksploitasi yang merugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan timbul rasa hormat dan penghargaan orang lain yang berpengaruh besar terhadap pemantapan eksistensinya di tengah-tengah khalayak luas.

Perilaku asertif membuat seseorang menjadi lebih percaya diri dan merasa berharga, memiliki konsep diri yang tepat, meningkatkan pengendalian diri (self-control) dalam kehidupan sehari-hari, serta memperoleh hubungan yang adil dengan orang lain. Perilaku asertif ini merupakan penangkal terhadap perilaku submisif dan perilaku agresif.

Fensterheim dan Baer, (1980) berpendapat sesorang dikatakan mempunyai sikap asertif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan.
  2. Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
  3. Mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik.
  4. Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, tanpa    menyinggungnya.
  5. Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan.
  6. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak  menyenangkan
  7. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
  8. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk memperbaikinya.

Munculnya perilaku asertif didorong oleh keyakinan bahwa:

  1. Saya sederajat/setara dengan orang lain, dengan hak dasar yang sama
  2. Saya bebas untuk berpikir, memilih, dan membuat keputusan untuk diri saya sendiri
  3. Saya mampu untuk mencoba sesuatu, membuat kesalahan, belajar, dan mengembangkan diri.
  4. Saya bertanggung jawab atas tindakan saya dan respons saya terhadap orang lain
  5. Saya tidak perlu minta ijin untuk mengambil tindakan
  6. Tidak masalah bila tidak setuju dengan orang lain. Persetujuan tidak selalu diperlukan dan tidak selalu tepat.

Bila dibandingkan, maka karakteristik ketiga jenis perilaku tersebut adalah sebagaimana diuraikan dalam tabel di bawah ini:

Perbedaan Karakteristik Perilaku Submisif, Agresif dan Asertif

Sifat Perilaku Submisif Perilaku Agresif Perilaku Asertif
Penghargaan kepada orang lain Tinggi Rendah Tinggi
Penghargaan kepada diri sendiri Rendah (Biasanya) tinggi Tinggi
Tindakan utama Tunduk kepada orang lain

Saya yang terakhir

Kelemahan tampak

Kekuatan jadi kurang penting

Selalu menyerah

Menyerang orang lain

Saya yang pertama

Kelemahan di sembunyikan

Kekuatan dibesar-besarkan

Tidak tunduk

Menghargai orang lain

Saya dan Anda sederajat

Terbuka mengenai kelemahan dan kekuatan

Pertukaran yang adil

Keuntungan yang dirasakan Tidak diganggu

Resiko pribadi rendah

Akan disukai

Mendapatkan apa yang diinginkan

Tidak diganggu

Akan dihargai

Banyak mendapatkan apa yang diinginkan

Akan dihargai

Hubungan yang adil/wajar

Kerugian yang mungkin didapat Hubungan buruk

Diabaikan

Orang lain mengambil keuntungan

Hubungan buruk

Ada balas dendam tersembunyi

Kehilangan komunikasi

Tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan

Membingungkan/ membuat cemburu orang lain

C. Membangun Sikap Asertif

Ada beberapa asumsi yang mendasari, mengapa kita perlu melatih diri untuk berperilaku asertif. Pertama, setiap orang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kedua, setiap orang memiliki hak yang sama. Ketiga, setiap orang bisa memberikan kontribusi terhadap apa yang dibicarakan. Selain itu, perilaku asertif juga berguna sebagai penangkal terhadap rasa takut, malu, kepasifan, bahkan kemarahan.

Berdasarkan penelitian, Schimmel (1976) menyatakan bahwa beberapa jenis perilaku asertif yang perlu dilatihkan terutama adalah:

  1. Berani mengemukakan pendapat, permintaan, kesukaan, dsb, yang menjadikan seseorang dihargai sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain.
  2. Mengekspresikan emosi-emosi negatif (keluhan, kebencian, kritik, ketidaksetujuan, rasa tertekan, kebutuhan untuk dibiarkan sendirian) dan menolak permintaan.
  3. Memperlihatkan emosi-emosi positif (senang, menghargai, menyukai seseorang, merasa tertarik), memberikan pujian, dan menerima pujian dengan mengucapkan “terima kasih”.
  4. Memulai, melaksanakan, mengubah, atau menghentikan percakapan secara menyenangkan, berbagi perasaan, pendapat, dan pengalaman dengan orang lain.
  5. Mengatasi ketersinggungan sebelum kemarahan makin meningkat dan meledak menjadi agresi.

Dalam membangun assertivitas terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah Formula 3 A, yang terangkai dari tiga kata Appreciation, Acceptance  dan  Accommodating.
Appreciation berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka pun, seperti
kita, tetap membutuhkan perhatian orang lain. Dengan demikian, agar mereka mau memperhatikan, memahami, dan menghargai kita, maka sebaiknya kita mulai dengan terlebih dulu menunjukkan perhatian, pemahaman dan penghargaan yang tulus dan tanpa pamrih kepada orang lain.

Acceptance adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana
keberadaan diri mereka masing-masing. Dalam hal ini, kita tidak memiliki tuntutan berlebihan terhadap perubahan sikap atau perilaku orang lain (kecuali yang negatif) agar ia mau berhubungan dengan
mereka. Tidak memilih-milih orang dalam berhubungan, dengan tidak membatasi diri hanya pada keselarasan tingkat pendidikan, status sosial, suku, agama, keturunan, dan latar belakang lainnya.

Terakhir adalah accomodating. Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan senantiasa memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada semua orang yang kita jumpai. Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri. Dalam artian, kita dapat memperlihatkan toleransi dengan penuh rasa hormat, namun bukan berarti kita jadi ikut lebur dalam pandangan orang lain, apalagi  dengan hal-hal yang bertentangan dengan diri kita. Hal ini penting sekali untuk diperhatikan agar kita mampu menempatkan diri secara benar di tengah khalayak luas, sekaligus membina saling pengertian dengan banyak orang

PENUTUP

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kompetensi widyaiswara khususnya kompetensi kepribadian dan social, salah satunya adalah bersikap asertif. Selain itu widyaiswara dituntuk untuk terus belajar dan berusaha, membuat besok selalu lebih lebih baik dari hari ini.

Semoga dengan terus meningkatkan kompetensi diri, widyaiswara mampu menjadi “terang” bagi PNS Indonesia, dan mampu menjadi tongkat bagi pembangunan aparatur pemerintah yang professional dan berakhlak mulia

DAFTAR PUSTAKA

Kuswara, H. 2008. Jadilah Pribadi yang Asertif. Trinada Personal homepage.

Lloyd, Sam R. 2007. How Assertive Are You?. Tersedia: http://www.tgasso- ciates.com.

Perera, Karl. Self Esteem Test. 1999. Tersedia: http://www.more-selfes- teem.com.

Perme, Cathy., dan Glenda Eoyang. 1992. Empowering Others, dalam buletin CM Perme and Associates, vol. 2, issue 1. Bloomington: Briar Circle.

Purwanto, Yadi., dan Rachmat Mulyono. 2006. Psikologi Marah. Bandung: Refika Aditama.

Raudsepp, Eugene. 2007. Strong Self-Esteem Can Help You Advance. Tersedia: www.careerjournal.com.

Rohm, Robert A. 2004. Knowing Personality Style Helps You To Understand Yourself…And Others!. Tersedia: www.personalityinsight.com.

Sudjana, Nana., dkk. 2007. Naskah Akademik Pengembangan Pengawas Satuan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas.

Susanto, AB.2008. Memilih Asertif, bukan Agresif. Jakarta Consulting Group. www. Indonesianshcollibrarian.com

The Counseling & Mental Health Center. 1999. Better Self-Esteem. The University of Texas at Austin. Tersedia: www.utexas.edu.

http://changingminds.org/techniques/assertiveness. 05 April 2007

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s