PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta


19 Comments

Mengapa Dayak sering dikira china? apa itu dayak Maanyan?

Mengapa Orang Dayak di kira orang China? Mengapa orang Dayak Maanyan cenderung lebih dekat dengan suku Banjar ketimbang dengan Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah? Saya mencoba menguraikan sedikit tentang suku Dayak Maanyan. Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber.

Suku Bangsa Dayak tersusun dari berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Padahal jika ditilik dari asal usulnya, Suku Bangsa Dayak awalnya berasal dari rumpun yang sama. Keadaan geografis dan proses penyesuaian alam, menjadi penyebab tercerai-berainya Suku Bangsa Dayak menjadi ratusan sub Suku Bangsa Dayak.

Dilihat dari asal usul, Suku Bangsa Dayak berasal dari daratan Asia yang bermigrasi secara besar-besaran sekitar tahun 3.000-1.500 SM. Para imigran tersebut berasal dari Propinsi Yunan, Cina Selatan. Mereka mengembara ke Tumasik (Singapura) dan Semanjung Melayu dan akhirnya di Borneo (Kalimantan), Indonesia. Sebagian imigran lain memilih “pintu masuk” melalui Hainan, Taiwan, dan Filipina. Pada “gelombang pertama” imigran yang masuk ke Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, atau lazim disebut Proto Melayu. Sedang “gelombang kedua” disebut Deutro Melayu. Kelompok ini menghuni wilayah pantai Kalimantan dan kini dikenal sebagai Suku Melayu (Widjono, 1998: 2-3).

Ketika sampai di Kalimantan, awalnya imigran “gelombang pertama” mendiami daerah pantai. Tapi kedatangan “gelombang kedua” membuat mereka terdesak sampai ke pedalaman sehingga menghuni daerah sekitar hulu sungai. Dari sinilah timbul ungkapan untuk menyebut orang-orang yang tinggal di hulu sungai. Mereka mendapat sebutan “orang hulu” yang kemudian disebut “Dayak” (Umberan, dkk., 1993: 32).

Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah “Dayak”. Menurut Lindblad, kata “Dayak” berasal dari sebuah kata “daya” dari Bahasa Kenyah (sebuah sub Suku Bangsa Dayak), yang berarti hulu (sungai) atau pedalaman (J. Thomas Lindblad, “Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan 1880-1942, 1988: 2 dalam Maunati, 2004: 8). Sedang King menduga bahwa istilah “Dayak” mungkin juga berasal dari kata “aja”, sebuah kata dari Bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi (Victor T. King, “The People of Borneo”, 1993: 30 dalam Ibid.). Pada perkembanganya kemudian, istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut “orang-orang asli non-muslim, non-Melayu yang tinggal di pedalaman pulau itu (Kalimantan)” (Victor T. King, 1993: 29 dalam Ibid.).

Terdesaknya Suku Bangsa Dayak ke pedalaman Kalimantan menjadi pemicu mulai tercerai berainya suku bangsa ini menjadi berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi kemudian muncul untuk mengelompokkan Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi tersebut, antara lain, versi pertama dikemukakan oleh H.J. Malinckrodt berdasarkan kesamaan hukum adat yang mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam enam rumpun suku yang dinamakan Stammenras. Pengelompokkan itu adalah: Stammenras Kenyah-Kayan-Bahau; Stammenras Ot Danum, meliputi Ot Danum, Ngaju, Maayan, Dusun, dan Luangan; Stammenras Iban; Stammenras Murut; Stammenras Klemantan; dan Stammenras Punan, meliputi Basap, Punan, Ot, dan Bukat (J. Mallinckrodt, “Adatrech van Borneo, 1928 dalam Widjono, 1998: 4).

Versi kedua dari W. Stohr yang bertolak dari segi ritus kematian, mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam 6 kelompok. Kelompok tersebut adalah: Kenyah-Kayan-Bahau; Ot Danum, yang terbagi menjadi Ot Danum-Ngaju, Maayan-Lawangan; Iban; Murut, meliputi Dusun-Murut-Kelabit; Klemantan, meliputi Klemantan, dan Dayak Barat; Punan. (W. Stohr, “Das Totenritual der Dajak, 1959 dalam Ibid.).

Versi ketiga dari Tjilik Riwut yang membuat pembagian sub Suku Bangsa Dayak menjadi 18 sub suku untuk seluruh Kalimantan. Sub suku bangsa ini masih terbagi lagi menjadi 403-450 sub suku bangsa yang lebih kecil. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:

1. Kelompok Ngaju yang terbagi atas 4 sub suku besar,

a. Ngaju: terdiri dari 53 sub suku kecil
b. Maayan: terdiri dari 8 sub suku kecil
c. Lawangan: terdiri dari 21 sub suku kecil
d. Dusun: terdiri dari 8 sub suku kecil

2. Kelompok Apau Kayan yang terbagi atas 3 sub suku besar,

a. Kenyah: terdiri dari 24 sub suku kecil
b. Kayan: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Bahau: terdiri dari 26 sub suku kecil

3. Kelompok Iban yang terdiri dari 11 sub suku kecil

4. Kelompok Klemantan yang terbagi atas 2 sub suku besar

a. Klemantan: terdiri dari 47 sub suku kecil
b. Ketungau: terdiri dari 39 sub suku kecil

5. Kelompok Murut yang terbagi atas 3 sub suku besar

a. Idaan (Dusun): terdiri dari 6 sub suku kecil
b. Tindung: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Murut: terdiri dari 28 sub suku kecil

6. Kelompok Punan yang terbagi atas 3 suku besar

a. Basap: terdiri dari 20 sub suku kecil
b. Punan: terdiri dari 24 sub suku kecil
c. At: terdiri dari 5 sub suku kecil

7. Kelompok Ot Danum yang terdiri dari 61 sub suku kecil (Tjlik Riwut, “Kalimantan Memanggil”, 1956 dalam Ibid, 4-5).

Maanyan adalah nama salah satu sub suku bangsa yang mendiami Pulau Kalimantan, yang sekarang bermukim di kawasan subur di antara sungai Barito dan Pegunungan Meratus, meliputi sebagian wilayah Utara Propinsi kalimantan Selatan dan daerah Timur Propinsi Kalimantan Tengah, tersebar di lebih dari 15 Kecamatan (walau ada pecahan dayak Maanyan yang mendiami wialyah Kalimantan timur di kabupaten Paser, perbatasan Kalselteng tim).  Pada umumnya orang Maanyan bertubuh sedang, berkulit putih sampai kecoklatan, rambut lurus berwarna hitam atau coklat kehitaman, dan beralis agak tebal. Sebagai suatu kelompok masyarakat, orang Maanyan memiliki beberapa ciri sosial budaya yang unik dan menarik.

Pertama, orang Maanyan memiliki bahasa daerah yang sangat dekat ke bahasa Kawi (Jawa Kuno). Dan Dalam bahasa maanyan ini, walaupun mereka kini bermukim jauh dari lautan, terdapat banyak kosa-kata tentang laut dan berhubungan dengan laut. Tokoh-tokoh mereka bergelar datu (sama dengan datuk dalam bahasa Melayu, yang artinya:bapak dari kakek), patis (bahasa Melayu patih), dan miharaja (sama dengan: maharaja). Mereka menyimpan benda-benda pusaka yang berusia ratusan tahun, berupa piring keramik ukuran besar yang bergambar, guci keramik dengan relief naga, tabak (nampan berbentuk bunga) dari kuningan, gong dan gelangdari gangsa, tombak dan keris, dan pakaian kebesaran mirip pakaian Jawa. Sedangkan dalam ritus kematian, mereka memiliki kesamaan dengan adat Bali, yaitu melakukan upacara pembakaran tulang-tulang orang mati untuk mengantarkan roh mereka ke tempat paling akhir, yang dalam bahasa maanyan disebut: Ijambe. (Ijambe berasal dari awalan I berkonotasi ‘sibuk’ dan kata kerja jambe yang berarti ‘menangani’.

Kedua, mereka mempunyai kebiasaan menuturkan ‘sejarah masa lalu dan adat-istiadat’ (bahasa Maanyan: taliwakas) mereka pada setiap upacara adat penting. Istiadat menceritakan kembali sejarah dan adat ini disebut orang Maanyan ngalakar, atau ngentang atau nutup entang, atau nutup tarung. Selain taliwakas, mereka juga mempunyai banyak cerita-cerita, berupa legenda, balada, dan lagu-lagu tentang kebesaran dan kemakmuran mereka di masa lalu, tentang tokoh-tokoh sejarah, disebuah ‘kerajaan’ (kecil) yang menurut mereka bernama Nansarunai.

Sekarang ini jumlah orang Maanyan yang masih mengaku Maanyan mungkin berkisar sekitar 250.000 juwa, tersebar di seluruh Indonesia, tetapi terutama di Kalimantan Tengah. Setelah Indonesia merdeka, dan orang Maanyan turut bergabung di dalamnya, wilayah permukiman orang Maanyan menjadi terbuka lebar kepada para pendatang, masyarakat non-Maanyan. Mereka pun berbaur dengan para pendatang itu sehingga perubahan-perubahan pada sifat-sifat dan tingkah laku mereka pun tidak terelakkan. Banyak yang sudah masuk Kristen atau Katolik maupun islam, dan ada yang pergi merantau dan kawin dengan orang non-Maanyan. Ternyata orang Maanyan cocok dan dapat bergaul dengan mudah dengan hampir semua macam corak budaya di Indonesia.

Literature lain menyebutkan Suku Maanyan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan. Suku-suku Dusun termasuk golongan sukubangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Suku Maanyan mendiami bagian timur Kalimantan Tengah terutama di kabupaten Barito Timur dan sebagian kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I. Suku Maanyan juga mendiami bagian utara Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Maanyan. Suku Maanyan di Kalimantan Selatan dikelompokkan sebagai Maanyan II. Menurut orang Maanyan, sebelum menempati kawasan tempat tinggalnya yang sekarang, mereka berasal dari hilir.

Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit (Majapahit) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa subetnis. Suku terbagi menjadi 7 subetnis, diantaranya :
Maanyan Paju Epat (murni)
Maanyan Dayu
Maanyan Paju Sapuluh (ada pengaruh Banjar)
Maanyan Benua Lima/Paju Lima (ada pengaruh Banjar)
Maanyan Tanta (ada pengaruh Banjar)
dan lain-lain, Namun  dalam perkembangannya, suku dayak Maanyan berdasarkan adat istiadatnya hanya terbagi menjadi 3 yaitu maanyan paju epat, Maanyan kampung sepuluh, dan maanyan Benua Lima
Bue Kuh