PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Hutan Gambut…Inun Kabana??

4 Comments

Hutan gambut merupakan jenis hutan rawa yang relatif tergenang sepanjang tahun, dengan karakteristik kondisi tanah yang mempunyai tingkat keasaman yang sangat ekstrem dimana pH tanah selalu di bawah angka 3, sehingga secara alami flora yang tumbuh di hutan gambut adalah jenis flora yang khas dan toleran terhadap keasaman tanah yang tinggi, secara awam hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas tanah gambut

Tanah gambut sendiri merupakan jenis tanah histosol yang kandungannya lebih banyak berupa gambut. Gambut sendiri di definisikan sebagai hasil proses dekomposisi tidak sempurna dari bagian bagian tumbuhan, sejak berjuta juta tahun yang lalu, Tengah gambut mempunyai sifat fisik dan kimia tanah yang sangat khas, dengan tekstur tanah yang lebih mirip spon karena kerapatan tanah rendah dan sifat kimia tanah berupa pH yang sangat rendah membuat lahan gambut bukanlah tempat yang potensial untuk pengembangan ekstensifikasi pertanian. Hutan gambut bisa tumbuh subur di atas tanah gambut karena terjadi siklus hara tertutup.

Meskipun lebih banyak terbentuk pada masa Holoceen (historis) dibandingkan pada masa prasejarah (pre-historis), namun lahan gambut melingkupi area yang sangat luas pada dataran rendah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Dengan kandungan karbon dioksida yang sangat besar, serta pengaruhnya terhadap aliran air, lahan gambut memiliki pengaruh penting terhadap fungsi kimiawi dan hidrologi bagi umat manusia, baik dalam skala lokal maupun global.

Kebanyakan hutan rawa gambut di Indonesia terbentuk mulai kira-kira 5.000 hingga 8.000 tahun yang lalu. Pada masa itu dataran alluvial (tanah endapan) yang luas terbentuk sepanjang pantai pulau Kalimantan, Sumatra dan Irian Jaya, sebagai akibat dari bertambahnya partikel tanah lempung dan turunnya permukaan air laut sebanyak beberapa meter. Hutan bakau yang awalnya terbentuk di dataran tersebut, secara perlahan digantikan oleh spesies tumbuhan lainnya sebagai akumulasi bahan-bahan organik yang disebabkan adanya perubahan kondisi pertumbuhan. Perlahan-lahan pula, hutan rawa bakau di daerah pasang surut (air laut) terangkat dan beralih menjadi hutan rawa gambut (dalam kondisi air tawar).

Karena hutan rawa gambut adalah dalam kondisi murni air tawar, maka mereka memiliki karakteristik kimiawi yang khas. Airnya sangat asam (pH 3,0 – 4,5) dan unsur hara yang sangat rendah, karena tidak ada nutrisi atau komponen penyangga yang dapat mengalir masuk dari luar area gambut tersebut. Tanah gambut dalam kondisi yang tak terganggu itu mengandung 80 – 90 persen air. Karena kemampuannya untuk menyimpan air dalam jumlah besar itu, hutan rawa gambut berperan penting dalam mengurangi banjir dan menjamin pasokan air yang berkelanjutan. Hutan rawa gambut seringkali digolongkan sebagai Blackwater Systems (Sistem Air Hitam), karena air yang mengalir dari area tersebut dipengaruhi oleh bahan dari tanah gambut, yang menyebabkan airnya berwarna seperti “cola” gelap.

Tingkat akumulasi gambut selalu berubah dari waktu ke waktu. Gambut yang masih muda, terakumulasi maksimal sebanyak 4,7 milimeter per tahun. Semakin lama tingkat akumulasi ini semakin berkurang, hingga kurang dari 2,2 milimeter per tahun. Kedalaman lapisan gambut tersebut berbeda-beda di masing-masing tempat, berkisar sebanyak kurang dari satu meter pada gambut muda, hingga mencapai kedalaman 24 meter pada lumpur gambut tua di Provinsi Riau, Sumatra. Pembentukan gambut berhubungan dengan kemampuannya untuk menahan air, oleh karena itu gambut tersebut berbentuk kubah, seperti tetesan air pada suatu permukaan yang rata. Sistem tersebut bergantung pada keseimbangan hidrostatik yang membuat gambut dapat menahan air hujan di atas permukaan air normal. Jika ada suatu hal yang mengganggu keseimbangan ini, misalnya dengan menggali parit kecil untuk drainase / pengairan, maka keseimbangan air dalam jumlah besar ini akan terganggu dan menyebabkan adanya kekeringan lahan gambut secara luas. Hal tersebut juga mengakibatkan terjadinya oksidasi di kawasan yang kering, menghasilkan molekul karbon yang menyatu dengan oksigen, sehingga menghasilkan karbon dioksida, gas rumah kaca yang kemudian secara otomatis dilepaskan ke atmosfir.

Gambut tropis tersebar luas di seluruh dunia. Sejumlah kecil terdapat di sebagian Amerika Latin, Afrika dan Karibia. Jumlah terbanyak terutama ditemukan di Asia Tenggara. Jumlah keseluruhan lahan gambut yang ada di kawasan tersebut diperkirakan sebanyak 33 juta hektar. Sebagian besarnya, yaitu sekitar 27 juta hektar, terdapat di dataran rendah di Indonesia. Lahan yang lebih kecil terdapat di Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Banyak negara yang telah kehilangan lahan gambutnya dalam jumlah yang cukup besar. Gangguan yang terjadi seperti kebakaran, pembukaan lahan dan penebangan, akan menyebabkan berkurangnya kawasan lahan gambut lebih banyak lagi.

utan rawa gambut di Indonesia adalah rumah bagi berbagai macam spesies tumbuhan dan hewan. Pohon-pohon besar yang menjulang mencapai ketinggian lebih dari 70 meter diselingi dengan tumbuhan palem, tumbuhan merambat dan vegetasi semak belukar yang padat. Sungai air hitam mengalir perlahan mencari jalannya melalui hutan yang luas tersebut. Inilah habitat yang membentuk wilayah yang tak terjelajahi dengan banyak sekali spesies alam liar di dalamnya.

Hutan rawa gambut terdiri dari beberapa jenis vegetasi. Dari arah sungai menuju ke tengah kubah gambut terdapat perubahan yang berlanjut dalam komposisi spesies dan struktur hutan. Sungai-sungai tersebut didominasi oleh rerumputan apung dan tumbuhan palem yang berduri dan melilit, yang dapat menghalangi sungai tersebut, membuat sulit bahkan tidak bisa untuk diarungi. Tumbuhan palem dan beraneka ragam pohon besar seperti Terentang, Pulai dan Meranti mendominasi di sekitar sungai. Keragaman tersebut mulai berkurang dengan jelas terlihat menuju area deposit gambut yang lebih dalam di sekitar pusat dari kubah gambut tersebut. Salah satu species khas di rawa gambut adalah Ramin, yang merupakan jenis pohon yang bernilai komersial tinggi. Hanya ada sedikit spesies yang tahan terhadap kondisi pasokan unsur hara yang amat sedikit dan juga simpanan air yang hampir selalu konstan di bagian hutan ini. Pertumbuhan pohon-pohon pun amat terhambat. Di beberapa wilayah, pepohonan tumbuh tidak lebih dari ketinggian 10 hingga 15 meter.

Tumbuh-tumbuhan berkembang dengan sejumlah cara untuk mengatasi ketersediaan unsur hara yang sedikit. Untuk mencegah kekurangan nutrisi yang disebabkan oleh adanya hewan-hewan herbivora, kebanyakan spesies tumbuhan di hutan rawa gambut menghasilkan senyawa beracun dan jaringan pelindung yang kuat dalam buah, biji dan bagian-bagian lainnya. Banyak pohon dan tumbuhan palem mengembangkan hubungan simbiosis dengan kelompok semut. Semut-semut tersebut mendapatkan hasil fotosintesis yang dilepaskan dari cabang-cabang pohon yang berlubang. Semut tersebut memberikan nutrisi yang penting bagi tumbuhan tersebut dengan membuang kotorannya dan mati di sekitar tumbuhan tersebut. Tumbuh-tumbuhan karnivora juga berkembang dengan adaptasi, misalnya spesies Nephentes yang merupakan tumbuhan teko, menarik serangga agar terperangkap dalam daunnya yang berbentuk teko, sebagai cara untuk memperoleh nutrisi.

Cara-cara adaptasi yang dikembangkan tumbuhan untuk menghadapi periode banjir yang berlebihan, juga merupakan salah satu keunikan tersendiri dari hutan rawa gambut. Pepohonan bertahan hidup dalam periode banjir dengan membentuk akar gantung (aerial) dan pneumatophora. Biji-bijiannya juga hanya berkecambah pada micro-elevasi yang kecil, seperti pohon yang tumbang, sehingga menyebabkan terjadinya pola persemaian yang dinamis.

Tingkat penyebaran pada hutan rawa gambut adalah rendah, karena ekosistem ini terbentuk di masa historis, bukan pada masa pra sejarah. Meskipun demikian, lahan gambut di Indonesia memiliki pengaruh penting terhadap kehidupan di masa depan bagi sejumlah spesies yang langka dan terancam punah. Populasi yang kecil dari spesies yang sulit ditemui seperti misalnya Itik Bersayap Putih (White-winged Duck), burung bangau Storm dan False Gavial, keberadaannya sangat terbatas dalam ekosistem hutan rawa gambut. Spesies lainnya, seperti Harimau Sumatra dan juga Badak Sumatra lebih luas penyebarannya, namun saat ini menjadi langka populasinya. Lahan gambut Indonesia adalah juga sangat penting bagi keberlangsungan hidup populasi Orangutan yang tersisa. Sejumlah besar yang bertahan hidup dari populasi di seluruh dunia ada di hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah.

Saaat ini hutan gambut yang tersebar di empat propinsi di indonesia yang merupakan hutan gambut terbesar di dunia terus mengalami laju pengurangan luasan yang mengkhawatirkan, selain faktor alih fungsi, penyebab pertama degradasi hutan gambut adalah kebakaran hutan.Tiap tahun propinsi Kalimantan Tengah dan Riau yang notabene adalah propinsi dengan luasan hutan gambut terbesar merupakan penyumbang titk api (Hot sport) terbesar di Indonesia dan di dunia.Pada tahun 1997 dan 2002 luas hutan dan lahan gambut terbakar mencapai 2, 2 juta hektar yang sebagian besar di proinsi Kalimantan Tengah, luas kebakaran yang sebesar beberapa negara kecil di eropa ini disebabkan karena sifat tanah gambut yang akan menimbulkan tipe kebakaran bawah dengan kedalaman 1- 8 meter, dan sangat sulit pemadamannya.

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

4 thoughts on “Hutan Gambut…Inun Kabana??

  1. Hm…mantap, eksotis dan sangat kaya Pulau Kalimantan ini. Alamdan budayanya sungguh elok.

    David, kenapa beberapa ibu Suku Dayak memakai anting yang besar sekali sampai telinganya juga dibelah begitu? Ada ceritanya?

    • Itu berlaku untuk Dayak Kenyah dan sub sub Dayak di bawahnya misalnya benuaq dan lain lain, di Kalteng tidak dijumpai. Dulu semakian panjang kuping, semakin cantilah dia..sama dengan orang China yang mengecilkan kaki, atau orang eropha mengecilkan pinggang sampai ukuran ridak masuk akal puluhan abad silam…..
      selain punya telinga panjang, merekajuga banyak tatoo menghiasi tubuh dengan motif dan arti yang sangat sfesifik

  2. Mantap, bagi2 info orang rawa gambutnya ya.
    Tksh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s