PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Kisah sedih di padang Pararaba

Leave a comment

Kisah Sedih Padang Pararaba
Pagi yang dingin, namun dengan penuh semangat aku bangkit dari tempat tidurku, menuju dapur, aku harus menyiapkan makan pagi untuk 3 anakku yang akan sekolah nanti. Waktu masih menunjukkan pukul lima waktu WITA, aku memanaskan api di dandang, menggoreng pundang/ikan asin lais dan memanaskan sayur karuang/sungkai tadi malam. Aku makan duluan dari anak anakku, karena dengan cuaca cerah begini aku harus cepat berangkat ke kebun karet atau padang pararaba untuk mamantat atau menyadap karet.
Namaku cukup bagus, yaitu winey hawini, itu nama pemberian orangtuaku. Sekarang aku sudah berumur 45 tahun dengan status janda beranak 5. Kisah hidupku panjang dan berliku, penuh suka dan duka, walaupun melihat sudut pandang orang lain, mungkin hidupku tak pernah ada sukacita, hanya hidup hampa penuh luka. Aku tak bisa menyalahkan mereka, hidupku memang suram, penuh liku dan luka, dengan perjuangan dan pergumulan yang berat…tertatih dan terseok dalam penderitaan dan kesedihan yang luar biasa.
Aku menikah pada umur 19 tahun, pada tahun 1984 setahun setelah saya tamat sebuah sekolah SMK pertanian swasta ang tak jauh dari kampung kami. Awal hidup kami bahagia, satu persatu anak lahir, walau berkekurangan aku dan suamiku masih bisa memenuhi kebutuhan dengan menyadap karet warisan dari orang tua kami. Pada tahun 1990 an, setelah anakku yang ke-5 lahir, suamiku meminta ijin untuk bekerja di sebuah perusahaan Plywood PT. BFTG di Banjar Masin. Dengan berat hati saya mengijinkan suami untuk bekerja di sana. Tiga tahun bekerja, suamiku masih lancar mengirim uang untuk aku dan anak anaku, dan sekali kali pulang membawa oleh oleh yang banyak. Namun pada tahun ke-4 Suamiku tidak ada kabar beritanya lagi, tak ada kiriman lagi, tak ada kabar berita, lenyap bagai di telan bumi, menurut orang perusahaan tempatnya bekerja, suamiku kabur ke Sulawesi menikah dengan istri baru yang lebih muda dan cantik dariku.
Dunia terasa runtuh, aku sedih bukan semata karena kehilangan suami, tapi sedih memikirkan masa depan lima anak kami. Aku tidak rela mereka menderita, aku tidak rela mereka keluar masuk hutan seperti aku hanya untuk mencari sesuap nasi. Pun aku tidak mau mereka menderita karena mempunyai ayah tiri. Biarlah segala beban berat ini saya yang menanggungnya, telah lelah diriku mengutuk suami-bukan-bekas suamiku, namun aku tetap pada kesadaran bahwa mengutuk dan menyumpah tidak akan membawa hasil apa apa, aku harus berjuang sendirian, bersama anak anaku, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kami bisa bertahan hidup, bertahan dalam perjuangan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dari orang tuaku, aku mewarisi lahan perkebunan sekitar 6 hektar, yang jauhnya sekitar 3 km dari kampung kami, sebuah desa mungil di lereng gunung Kasali, masih masuk kecamatan Petangkep Tutui, Barito Timur, Kalimantan Tengah. Lahan tersebut terdiri dari 3 hektar lebih adalah kebun karet, 1 hektar kebun buah buahan dan 1 hektar adalah ladang padi termasuk sawah yang kecil. Disana juga ada pondok kami yang lumayan besar tempat aku dna anak anakku saat siang bila mereka tidak sekolah.
Kebun karet ini telah menemaniku dalam melewati derita demi derita, di depan anak anakku aku tak pernah mengeluh atau menangis, aku ingin kuat di depan mereka. Pohon pohon karet yang besar besar ini member kami kehidupan, membesarkan harapan kami. Namun bagi saya peribadi poho pohon karet yang angkuh ini adalah temanku, teman yang setia mendengar segala keluh kesah, yang ikut sedih mendengar kisah derita, yang ikut menguatkan mendengarkan harapan harapanku, yang ikut tersenyum mendengarkan kisah kisah kecil keberhasilan kami sekelurga. Kebun karet yang luas ini aku pelihara dan jaga dengan baik, seakan menjadi temanku.
Aku tak pernah berniat menikah lagi, karena aku tidak yakin suamiku yang baru akan menyayangi anak anakku yang banyak ini, aku tetap tegar dengan status janda yang aku sandang, toh aku yakin di akhirat nanti, Tuhan tidak akan menilai status tapi dengan perbuatan baik yang telah kita lakukan di dunia ini. Hanya dengan menyadap karet kini anak pertamak sudah selesai kuliah dan menjadi Guru SD, satunya lagi masih mahasiswa Akper di Samarinda, sekolah yang mahal untuk ukuran kami, namun banyak dibantu oleh adik adiku, sementara yang lain masih SMA, SMP masih tinggal dengan saya karena bersekolah di kampung. Mereka bertiga kadang menemaniku, bekerja di kebun ini, seakan menghibur aku dengan canda dan tawa mereka yang memecah keheningan kebun karet.
Tahun kemarin, tim survey geologi sebuah perusahaan besar menyatakan bahawa seputaran desa kami, tanahnya mengandung batu bara yang kalorinya tinggi, desa pun heboh, bupati datang. Intinya orang desa akan mendapat “ganti rugi” yang besar kalau tanah mereka di ambil perusahaan. Dengan ganti rugi “hanya” 20 juta/Ha, membuatku menolak keras, sebuah ganti rugi yang tidak masuk akal bagiku, namun bagi penduduk desa lain malah menggembirakan. Aku bukan orang pintar, bukan ahli matematika atau ahli ekonomi, tapi aku hanyalah seorang janda setengah tua yang mencoba realities dan menggunakan akal sehat. Andai di jual maka tanah kami akan mendapat 120 juta, jumlah yang mungkin besar, tapi saya yakin, sangat yakin dengan uang segitu saya tidak akan bisa menyekolahkan 3 anak saya ke perguruan tinggi. Anehnya para pejabat teras dari kota kabupaten alih alih memberi penyuluhan yang jujur, malah membantu perusahaan mensosialisasi “mimpi-mimpi indah” jika perusahaan tambang berdiri, maka warga desa akan sejahtera dan maju. Singkat kata mayoritas penduduk desa menjual tanah mereka kepada perusahaan, dan di tengah kemelut dan kritik dari tetangga yang silau dengan uang ganti rugi aku tetap bertahan untuk tidak menjual tanah ini.
Kebun karet ini tidak mungkin dijual, atau di bongkar, kebun karet ini telah menghidupi kami puluhan tahun, apalagi dengan harga karet yang terus membaik sekarang ini, aku yakin kebun karet ini akan membantu kami mewujudkan harapan demi harapan di tengah kerasnya perjuangan hidup. Namun bagi aku pribadi, kebun karet ini tdak mungkin bisa dipisahkan dengan kehidupanku, daun daunnya yang hijau melambai seakan menghiburku, getahnya yang keluar member aku kehidupan.
Akibat semua tetangga kami akan menjual tanahnya, artinya tanah disekeliling kebun karet kami akan dikerok, dan kami tidak bisa lagi ke kebun karet melewati lubang lubang tambang yang menganga dengan besarnya. Aku bingung minta Saran dari siapa…
Aku hanya menunggu dalam ketidak berdayaan..aku menunggu semua kenangan dalam ebun pararaba itu terenggut…

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s