PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Maharati…

Leave a comment

1987 di pedalaman Kalimantan
Dengan bergegas lelaki kecil itu berjalan, menyusuri jalan setapak, menebus hutan karet na lebat. Di pinggangnya terselip sebuah golok dalam lunannya, di punggungnya bertengger sebuah lampuyut, sebuah “ransel” yang terbuat dari anyaman rotan. Dalam lampunyutnya ada berpuluh batu batu kerikil, dan di lehernya tergantung senjata andalannya, ketapel yang karetnya berwarna merah menyala, dengan tangkai berbentuk huruf Y dari cabang pohon ipuhu.
Kemana kah sang pangeran kecil yang tampan dengan kulit kuning langsat dan rambut kemerahan itu pergi? Mari kita ikutinya….. Setelah menembus hutan karet yang lebat, kini dia menembus padang ilalang nan luas, padang ilalang yang akrab di matanya, akrab di hidungnya, hamparan bunga amukakang yang ungu bagaikan bunga lavender di pedalaman Kalimantan, di tingkah kicau burung suit dan karuwang yang seakan memancing hasrat berburunya. Ingin rasanya dia mengeluarkan ketapelnya, memburu burung dan tupai tupai liar penghuni ilalang ini. Namun saat ini dia tidak punya waktu, tadi pagi Ammahnya/ Ayah menyuruh agar seusai sekolah agar segera ke ladang, menjaga ladang yang terancam serangan monyet monyet kelaparan yang sangat jahil itu. Ayah tidak bisa ke ladang karena hari ini harus mengikuti Pemilu. Kemarin perangkat desa di”arahkan” tim dari kecamatan untuk memilih partai eh golongan kuning, kalau tidak salah dengar, masyarakat yang mencoblos partai merah atau hijau adalah pemberotak, tidak mendukung pembangunan, tidak mendukung pemerintah dan akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Dia yakin ayahnya yang lugu dan jujur pasti memilih partai eh golongan kuning, walau dia sempat berfikir kalau partai merah dan hijau di larang di coblos, mengapa tidak dibubarkan sekalian? Ah peduli amat pikirnya, itu bukan tugas saya, anak kelas 3 SD Inpres di desa terpencil, tugas saya jelas, menjaga ladang dari serbuan warik warik yang tidak punya etika dan kepribadian itu. Dia yakin warik warik ini tidak pernah belajar PMP apalagi ikut penataran P4 seperti kakaknya yang masuk SMP swasta di kampung sebelah.
Tak terasa dia sampai ladang atau umme, dengan nikmat dia menghirup aroma tanaman pagi yang sudah berbuah, matanya awas meneliti pinggir pinggir ladang atau ruyu alah untuk memastikan bahwa jenis jenis warik, weruk, peut, talampiau tidak datang dan merusak pagi, dengan bunyi kaleng2 bekas dia mengusir ratusan burung pipit merah yang datang dan pergi bagai pesawat tempu Amerika, membuat manuver manuver yang gagah dan indah. Duduk di beranda pondok dia tetap awas menjaga umme yang luas ini. Kata amah ini adalah tanggung jawab, menjaga ladang untuk keluarga, sudah sepantasnya jadi anak laki laki harus jadi pemberani, biarpun umur dia baru 9 tahun, dia tahu tugasnya. Toh teman teman seumuran juga punya tugas dan tanggung jawab yang sama. Tapi nanti sore, dia sudah berjanji dengan teman-temannya : kasiuhan, madituen, belo, bedi, yanto, erik, dudu, dan utuh. Setelah tugas menjaga ladang masing masing berahir, sekalian pulang ke kampung, kami akan mandi di sungai besar yang kami sebut dengan sungai “Buntar” sepuas puasnya, main babajatan, main perang perangan, sampai badan bugil kami menggigil kedinginan, gigi gigi kami gemeretuk dan mata yang memerah, barulah mereka menghentikan kesenangan mandi di sungai.
Sore telah tiba, dia tergopoh gopoh memakai sandal jepit buram, sekali lagi mengelilingi ladang, memeriksa dengan sangat teliti setiap sisi dan sudut, memastikan rumpun rumpun padi ini aman di tinggal sampai besok pagi, mencoba mengintimidasi koloni monyet ekor panjang nan jahil dengan menghujani mereka dengan peluru peluru kerikil, agar jangan merusak ladang. Di hutan yang lebat sudut ladang, jerat milik ayahnya ternyata berhasil “menjebak” seekor kancil, dengan terampil dia menangkap, mengikat mulut an kaki pelanduk itu, dia senang, makan malam nanti ada hidangan daging. Dia bangga pada diri sendiri bahwa walaupun masih muda, dia sudah terampil jadi pemburu.
“Putut…!” teriak sesorang memanggil, dia menoleh dan tersenyum dengan anak sebaya yang menghampirinya, penampilannya khas anak dayak pedalaman, membawa parang dengan sarungnya, di punggungnya membawa “buntat” yang terisi sayur mayor, ubi jalar, buah semangka yang diambilnya dari ladang. Namanya Dudu, tapi nama lengkapnya Dudu Hermawan, entah dari mana Ayahnya nama yang keren dan bagus itu, tidak seperti namanya PUTUT KAKAU PIPAKATAN, namanya yang sangat Dayak Maanyan. Namun dia tahu, tak ada gunanya protes, toh dia nyaman dengan nama “aneh” tersebut.
Mereka berdua bersiap pulang, tentu saja harus menepati janji untuk mandi sepuas puasnya di sungai. Kemudian hanya terdengar gelak tawa mereka, kembai menembus hutan karet na rimbun.
2007
Dengan langkah gontai, dia kembali ke meja kerjanya, di mejanya tertulis Putut Daya Pipakatan, S.H, M.Hum. sejenak dia menyandarkan diri, setelah tadi di ruang rapat DPRD menyampaikan pandangan fraksi. Dia yang dulu lugu dan menjaga ladang, kini menjadi anggotan dewan mewakili daerahnya sendiri, dia sudah punya 1 orang istri yang berprofesi bidan, lengkap dengan anak kembar lelaki kesayangannya.
Dia sadar, perjuangannya masih panjang, dia berusaha menjadi waki rakyat yang jujur, terutama menjaga lingkungan hidup dan membela masyarakat miskin di pedalaman. Banyak yang sinis dan meragukan tekadnya. Namun dia terus berjuang, dia punya niat dan keyakinan. Berusaha mnjadi terang di sebuah institusi yang sangat haus uang dan kehormatan tidak mudah. Amplop berseliweran, tawaran kenikmatan duniawi terus menggempurnya. Namun dia tetap dalam pendirian, dia memang bukan anak kecil 20 tahun silam, dia lulusan S2 cumlaude dari Universitas terkemuka, dia tidak menjaga ladang. Namun satu yang dia jaga, dia ingin menjaga hati sebersih dan setulus waktu dia menjaga ladang 20 tahun silam. Dia tidak silai oleh harta duniawi, baginya dia sudah sangat berkecukupan, sangat diberkati dan sangat bahagia….
Adakah Anggota dewan yang lain punya hati seputih dia sekarang ini?

KIta berharap ada….

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s