PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Kisah Itak ma Takam katuluh

2 Comments

Ini cerita yang diceritakan oleh seorang nenek(itak) kepada saya dengan gaya bertutur, saya diminta menulisnya, kelak untuk diberi kepada cucu dan cicitnya. Namun banyak hak yang bisa kita ambil hikmahnya. Cerita ini dituturkan itak selama 3 jam nonstop dari tempat tidurnya, 3 hari sesudah kematian anak bungsunya. Saya sudah lama dicari cari beliau, katanya saya keturunan orang pintar (apa iya ya?), Selamat membaca..!

Itak lahir tahun 1919 bulan saat panen padi gunung di ladang (kira bulan Maret),  entah tanggal berapa, tak seorangpun ingat dan mau mengingatkannya, karena memang tak begitu penting. Itak lahir di  sebuah pondok yang bediri kokoh, di pinggir Umme/Ladang padi.

Itak dilahirkan sebagai anak ke – 4 dari 9 bersaudara-2 diantaranya meninggal dunia karena buyuk-, sebagai anak peladang yang miskin, tak ada yang istimewa dalam hidup Itak.

Masa kecil itak seperti anak anak pada jaman itu yang tumbuh alami di daerah  perladangan di hutan belantara Kalimantan. Itak hidup pada jaman Walanna (Belanda), semua serba susah, yang penting pada waktu itu adalah bagaimana bisa punya ladang yang luas untuk mendapatkan padi yang sebanyak mungkin.

Sejak kecil, Itak sangat takut kematian, bagi itak kematian adalah malapetaka terbesar. Betapa menakutkannya jadi mayat yang ditutupi matanya pakai uang logam, yang diburat tubuhnya dengan kapui, diikat daun rirung kamat dengan diiringi tangisan anggota keluarga  yang meraung raung dan bersyair sebagai “kiak badiki”. Dikuburkan dengan iringan kata kata dari belian atau huyung wadian matei, ditambah bunyi gong yang membaha. Bunyi yang paling menakutkan pada waktu Itak masih kecil. Pokoknya Itak takut pada kematian, Itak akan berhati hati, menghindari bahaya, menghindari hal hal yang menjadi pamali atau pamadi orang Dayak jaman dulu, Itak tidak mau mati.

Masa kecil Itak berjalan seperti orang biasa pada tahun 1920 di pedalaman belantara Kalimantan, satu satunya Pulau yang Itak Ketahui. Itak tidak pernah tahu ada pulau Jawa, Pulau Sulawesi dan lain lain. Itak hanya tahu Kalimantan, tempat ladang kami nan luas tergelar menghijau.

Itak tidak pernah sekolah, hanya kakak kakak Itak laki laki yang sekolah, sejenis sekolah rendah dengan tujuan pemberantasan buta huruf. Itak tidak ikut sekolah ke kampung  yang harus ditempuh dengan  berjalan kaki selama 2 jam menembus hutan. Namun bukan berarti Itak tidak belajar. Itak belajar membersihkan Ladang, memasak,nikep/menangkap ikan, mintan/mincing, mengecek  alat alat penangkap binatang buruan (jipah, tampaleng, dadung, tinyak, pusi, tanaep termasuk perangkap ikan wulu, tulung dan tangkala).

Itak terampil dengan pekerjaaan Ladang dari muau, ipandruk, nyawah, masi. Termasuk membersihkan padi dalam kegiatan maureh , maitap dan mutu . Itak biasa membantu kakak kakak Itak menumbuk padi (Muthu), biasanya itak kebagian tugas maitap dan midi ata (membersihkan hasil tumbukan padi hingga menjadi beras yang betul betul bersih).

Sampai masa remaja, Itak sangat takut kematian. Apalagi di kampung sana sering orang mati, Itak berfikir  betapa menderitanya orang orang mati tersebut, apalagi yang masih muda.

Masa Kanak Kanak Itak berjalan begitu cepat, umur 13  tahun itak sudah disebut “wawei bujang” karena sudah mendapat  “ire bere”  atau “darah kotor”. Kata Ibunya Itak itu berarti Itak harus siap menikah kalau ada laki laki yang melamar. Itak  diam saja, karena Itak fikir memang begitulah kehidupan. Anak anak tumbuh, kalau sudah “berdarah kotor” bisa kawin, punya anak, dan hidup seperti Ayah dan Ibu Itak.

Pada umur 14 tahun, itak sering membantu orang lain menanam padi atau pangandrau muau, kata ineh iya saya (tante), yang sudah bujang diwajibkan pangandrau muau supaya bisa “dilihat”dan bertemu pandang dengan para pemuda atau upu manuwu yang maehek (membuat  lubang tanam padi dengan tongkat kayu runcing yang disebut ehek).

Beberapa kali pangandrau Muau, Itak sering dilirik oleh seorang upu manuwu atau pemuda yang lumayan tampan. Itak anehnya merasa malu bila di pandang, namun sepanjang hari itak juga berusaha mencuri pandang, o lihatlah betapa menariknya dia, tangan kekarnya lincah mengayunkan ehek, betapa gagahnya dengan selipan Mandau di pinggangnya. Namun itak tidak mengerti apa itu cinta. Yang itak tahu pemuda itu sangat menarik, jauh lebih menarik dari hijaunya padi di ladang, dari besarnya ikan saluang hasil Itak memancing, atau dari besar besarnya buah langsat di dekat pondok itak. Itak tidak bisa menggambarkan betapa menariknya Upu manuwu itu.

Tak lama kemudian Itak di”antane” atau di lamar oleh pemuda yang menarik itu, dengan membawa orang tuanya dan usbahnya (wali) pemuda datang membawa sehelai bahalai warna merah wunge papaken dan uang logam entah berapa jumlahnya. Singkat cerita di usia 14 tahun Itak menjadi seorang istri, punya suami, punya ladang sendiri dan punya pondok sendiri. Itak bangga dengan “prestasi” itak tersebut. Itak merasa betapa beruntungnya Itak.

Lima bulan kemudian itak hamil, sebuah pengalaman baru bagi itak yang masih muda. Itak sering ngidam udang besar atau urang galah.Suami Itak selalu mencarinya untuk Itak yang lagi ngidam. Pada usia hamil kira 8 bulan (ini kata dukun beranak), Ayah itak meninggal dunia karena sakit yang misterius, sakit yang tidak lama menyerang, sehingga kami tidak sempat batatamba (mengobati) dengan Iraharen,wadian,iwuras atau apapun sesuai dengan sangsara yang didiagnosa oleh dukun terkenal di kampung  kami. Sekali lagi Itak benci dan takut dengan namanya K.E.M.A.T.I.A.N. apalagi sebagai wanita hamil tua Itak dilarang naik ke rumah dan melihat jenazah Ayah Itak untuk terahir kalinya, karena itu Pamali atau paddy, akan berakibat buruk pada janin yang Itak kandung atau disebut orang dulu “sawuh”.

Tiga Hari berselang sehabis kematian Ayah, Itak merasakan namanya melahirkan atau “bagena”, sakit yang luar biasa, dengan bantuan dukun beranak yang sangat terkenal lengkap dengan sembilu dari bambu yang sangat tajam, sesajen bersusun dan bau kemanyan menambah sakitnya melahirkan. Itak berfikir kalau benar  kata “wadian matei”  sesudah kematian itu tidak ada lagi sakit penyakit maka Itak mulai detik saat melahirkan ini, Itak tidak takut lagi pada kematian. Itak sudah pasrah dan berdamai dengan namanya kematian. Setelah sakit tak terkatakan dan terperikan Itak melahirkan dengan selamat bayi laki laki yang sangat tampan, dan diberi nama yang sama dengan sungai nan jernih yang mengalir di dekat ladang  kami.

Tiga tahun kemudian Itak kembali didera kesakitan yang sama ketika melahirkan bayi perempuan  yang cantik, sekali lagi dia kami beri nama sama dengan nama danau nan jernih dan tenang di dekat ladang. Nama yang pendek dan simple. Itak tidak tahu bagaimana cara menulisnya. Tapi Suami itak menulis nama anak kami pada sebuah batu sungai dengan memakai pulpen dari biji labu.

Rupanya Itak tidak sadar bahwa manusia adalah insan yang mengenal suka dan duka, untung dan malang, Itak tidak tahu kalau manusia ada takdirnya. Hingga pada suatu hari ketika anak perempuan saya berumur  2 tahun, melapetaka datang lagi bagi Itak.  Suami itak yang baik dan tampan itu meninggal dunia karena dipatuk ular berbisa sejenis kobra/Tedung saat mengambil rotan di hutan untuk dijadikannya tali pengikat jendela pondok kami. Itak merasa dunia Itak telah berahir sampai di sini, kebahagian, kegembiraan dan kebanggaan Itak hilang tak berbekas. Itak tidak tahu bagaimana hidup seterusnya. Itak sangat mengharapkan ular berbisa atau minimal istrinya ular berbisa itu mematuk Itak juga. Itak tidak takut lagi kematian, Itak mengharapkan kematian. Kata wadian matei itu saat mati kita akan berjalan ke sebuah kampung baru yang subur dan sejahtera (tumpuk jari janang). Itak mau ke sana sekarang!!.

Butuh waktu lama Itak untuk bangkit kembali, itupun setelah upacara “nuang panuk”, sebuah upacara untuk menyejahterakan almarhum suami itak di alam baka sana atau “hang tumpuk adiau”. Itak sadar walaupun itak tidak takut mati dan terkadang menentang kematian, Itak masih punya dua orang anak, yang harus diberi makan, karena kelak kalau itak meninggal merekalah yang mengurus Itak agar dihantar dengan benar menuju kampung atau “tumpuk adiau sa jari kawan kakau pinang niyui” seperti huyung atau nyanyian getir wadian matei saat kematian suami Itak.

Waktu terus berjalan, hingga 4 tahun kemudian itak kembali dilamar dan menikah dengan seorang duda beranak 2, Itak tidak tahu apakah itak mencintainya, namun Itak fikir lebih baik punya teman untuk memberi makan 2 anak saya ditambah 2 anaknya. Singkat kata Itak menikah untuk kedua kalinya. Ternyata suami itak yang kedua ini sangat baik dan bertanggung jawab. Hari demi hari kami jalani dengan anak yang terus bertambah, seolah itak tidak pernah jera untuk merasakan sakit yang tak terperikan saat melahirkan. Itak merasa sakit itu adalah takdir seorang perempuan, tak seorangpun perempuan bersuami yang bisa menolak keadaan tersebut.

Singkat kata Itak melahirkan 8 anak lagi, dengan jarak yang dekat dekat. Itak tak pernah mengeluh dengan keadaan ini, itak mengira hidup ini memang repot. Suka duka itak alami, hari demi hari tak jauh berbeda, pergi ke ladang, mencari lauk dan sayuran. Kadang kadang pulang ke kampung jika ada acara keluarga, sisanya Itak tinggal di pondok di ladang. Sewaktu waktu pula berkumpul dengan keluarga besar, dimana saudara saudara kandung itak juga punya anak yang banyak-kami biasanya akan bikin kue kiping-baayak atau bikin pais punsi- Itak menjalani semuanya  sebagai sebuah keharusan dari kehidupan, Itak tak pernah mengeluh.

Dengan suami yang bertanggung jawab ini, Itak merasa “sejahtera” untuk ukuran pada masa itu, pun pada saat musim paceklik dan kemarau panjang, serta penjajahan Jepang kami bebas dari kelaparan,pada masih banyak tersimpan dalam lumbung atau karangking parei, ladang Itak penuh dengan ubi ubian (suku dengkut, gambili, upi upah), sayur itak banyak, ikan dan binatang buruan banyak. Kadang kadang suami Itak (suami ke-dua ini itak dipanggil Kakah)-pergi berjualan ikan atau binatang buruan ke pasar Tanjung (sekarang ibukota kabupaten Tabalong, Kalsel) agar bisa membeli “rangi minyakgas” atau garam dan minyak tanah. Kalau beruntung Kakah akan membeli kue wadai tarang bulan, atau sadincis (sarden) makanan kesukaan anak anak kami. Itak tidak pernah ke pasar, selain  perjalanannya jauh yang ditempuh 6 jam perjalanan jalan kaki (berarti PP nya 12 jam), Itak tidak mengerti uang sagubang sasuku, itak tidak bisa berhitung dan itak fikir itu tidak penting, yang penting ladang itak subur, padi banyak, anak anak bisa makan sepanjang tahun. Lebih penting itak mampu mengingat di mana lubuk penuh ikan tempat nikep yang potensial, dimana tempat mancing, dimana mencari buah buahan hutan,dimana menemukan sayur, penting bagi nenek untuk terampil mengambil sayur pike, uwut, puka, dan kulat. Kalau ke pasar dan urusan jual beli itu sudah ada Kakah cukup lah.

Waktu terus berputar, semua berjalan seperti biasa, kadang itak merasa sebagai ibu yang paling beruntung, dengan anak 12 orang yang hidup semua-angka kematian ibu dan bayi waktu itu sangat tinggi-, punya suami yang yang baik dan setia (entah kalau ke Pasar tanjung dan bermalam malam baru pulang, Itak fikir itu wajar wajar saja, selama pulang ke pondok dengan tak kurang satu apa). Itak tak pernah melarang Kakah pergi mencari hiburan,menghadiri kenduri kenduri orang jaman dulu, karena Itak fikir itu wajar, dan memang laki laki harus begitu. Kalau seandainya- ini seandainya lho, Itak tidak pernah menuduh-Kakah saat acara acara “sosialisasi”nya sempat bergembira dengan wanita lain, dengan janda lain, Itak tak akan marah, toh kembalinya kakah masih  utuh. Itak tahu diri harus sering di pondok, mengurus anak yang masih kecil, tidak tidak pernah stress, karena itak tak pernah memikirkan yang diluar jangkauan fikiran itak.

Hari hari pun berlalu, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dekade demi kedake berlalu, Itak menjalani kehidupan itak dengan iklas, ketika anak anak itak pergi berkeluarga, pergi jauh. Itak Pasrah melihat ada rumah tangga anak Itak dan kakah berantakan, namun Itak berusaha bijak, itulah kehidupan, tidak selalu sesuai dengan rencana.

Pada tahun 1983 Itak dan kakah di”paksa” anak anak untuk di baptis, oleh seorang-yang katanya Pastor Polandia dari Tamiang Layang-, namun yang Itak dan Kakah lihat adalah seorang berkulit putih, berhidung mancung, rambut berwarna seperti jerami dengan bahasa Indonesia yang aneh. Itak fikir Pastor ini sama seperti itak, tak pernah sekolah, buktinya  bahasa Indonesia kami sama jeleknya, dan itak yakin bahasa Maanyan itak jauh lebih baik dari bahasa maanyan Pastor aneh itu, buktinya saat itak ajak mampir dalam bahasa dayak Maanyan, pastor itu cuma masem masem tidak menjawab.

Itak dibaptis bukan karena panggilan, itak hanya ikut orang banyak, ikut anak anak itak yang banyak sekolah tinggi, dan itak anggap pintar dari itak. Lagian Itak dan kakah sekarang sudah punya rumah besar di kampung, harus ikut “gaya” orang kampung.

Itak sering dikunjungi cucu cucu dan cicit cicit yang –menurut itak- saking pintarnya bisa menjelaskan ajaran Agama baru ini jauh lebih pintar dari Pastor aneh kemarin. Itak dijelaskan bagaimana konsep sorga (itak dulu menyebutnya tumpuk adiau), bagaimana saling mengasihi, bagaimana berbuat baik, bagaimana keselamatan sesudah kematian, dan siapa itu juru selamat. Bagaimana berdoa dalam nama Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Itak jadi percaya-bukan langsung percaya pada ajaran agama baru ini, itak percaya karena yang mengajarkannya adalah cucu cucu Itak, yang Itak yakini sangat pintar dan Jujur.

Itak dan kakah semakin tua-kata cucu itak semakin dekat dengan kematian-, Itak sering sakit, bermacam macam penyakit, tapi itak masih bersyukur, karena nyaris semua teman Itak yang seumuran sudah meninggal, tidak pernah lihat TV warna yang besar, tidak pernah makan kue kue  aneh dibeli cucu cucu dari kota, tidak pernah lihat HP, tidak pernah melihat mesin aneh bisa mengeluarkan uang. Itak dan Kakah beruntung, dengan rambut yang memutih, masih melihat keanehan keanehan dunia.

Tahun 2009 adalah tahun paling menyakitkan bagi Itak, Kakah meninggalkan Itak untuk selama lamanya, setelah nyaris 70 tahun bersama. Itak yang sambil terbaring lemah karena sakit hanya bisa menangis dalam diam. Itak merasa kematian itak sudah dekat. Namun tak cukup demikian, 3 hari berselang anak bungsu Itak meninggal dunia dengan usia 30 an tahun menyusul bapaknya. Itak tak kuasa menahan sedih, itak menjerit  diantara ketidakrelaan dan kepasrahan akan sebuah takdir. Seandainya Tuhan-boleh- Itak mau ditukar nyawa dengan anak bungsu Itak, dia masih punya anak anak kecil, dia masih punya jalan yang panjang, biarkan itak saja yang “pergi”, Itak sudah tua, sudah penuh  penyakit, itak sudah berumur panjang, sudah menikmati semuanya, itak sudah dipenghujung jalan kehidupan, itak seakan sudah didepan lorong kematian-dan menurut Itak-Itak sudah puas dengan apa yang itak alami semasa Hidup.

Sampai saat ini Itak hanya berada dalam kepasrahan total, itak tidak takut kematian, itak percaya sama cucu itak, kalau itak berbuat baik maka itak akan diselamatkan

Cucuku (itak memanggil saya Umpuku-karena beliau sepupu dari Itak kandungku ari ibu), itak bahagia bisa bercerita dengan kamu, saat terahir hidup itak, itak ingin kamu bisa menulis cerita itak ini, biar cucu dan cicit Itak bisa mengetahui kehidupan itak hingga pada saat renta dan didera penyakit. Itak Yakin umpu itak yang satu ini pandai menyusun kata kata Itak. Itak mendoakan semoga Kamu berumur panjang seperti Itak

Terima Kasih Itak.

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

2 thoughts on “Kisah Itak ma Takam katuluh

  1. Iru kah itak hanyu? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s