PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Rumah besar..Lewu hante peninggalan Kakah

Leave a comment

Lewu Hante Saat itu saya masih ingat betul, tanggal 16 juli 1989 saat liburan panjang, kami sekeluarga besar kumpul dirumah Kakek/Kakah. Rumah tempat kami berkumpul adalah sebuah rumah besar yang terletak di tengah hutan, di dekat ladang Kakah. Hutan Hujan tropis dekat perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Saat itu saya masih kelas 3 naik ke kelas 4 SD. Kami kumpul disini karena ada hajat besar, Kakah dan Itak/Nenek saya menyelerenggarakan-katakanlah pesta panen- sekaligus miwit alah jumpun atau memberi sesajen Roh Nenek Moyang kami. Konon Roh Roh Nenek moyang kami bisa menjumpai kami dari alam lain dengan muncul di sebuah pohon Nyatoh di lereng bukit keramat, kami biasa menyebutkan Wungkur Natu. Kami sebagai penganut Katolik ikut memeriahkan ini (sekedar datang, tidak jadi belian), karena Ayah saya menghormati undangan Kakah. Kakah adalah penganut Katolik yang pada saat itu-menurut saya-hanya katolik KTP, karena kehidupan beliau masih sangat percaya pada hal hal yang bersifat mistik,punya banyak “pegangan”, dan mempunyai banyak indera.

Dari segala tetek bengek persiapan pembuatan sejajen mulai berbagai jenis kue kue khas sesajen Dayak Maanyan seperti Pasike, katupat wurung, katupat jagau, katupat urang, bubur putih-bubur habang, tangkurak batu, wajik, nahi dite, nahi lungkung, gula bulat, niyui bulat, dilengkapi dengan telor,limun merah, beras baru, nasi, nasi ketan, nasi ketan hitam, wajik, cucur merah, kapur sirih, daun sirih, pinang, bunga pinang, bunga kelapa, air kelapa muda, ayam kampung panggang, darah ayam dalam mangkok, lengkap dengan daun rirung-kamat dan rawen patei (daun mati dari tumbuhan genus Artocarpus yang berdaun majemuk). Semua disusun dengan jumlah dan aturan tertentu yang susah saya fahami dengan otak seorang anak SD baik naik ke kelas IV. Pembuatan sesajen ini memakan waktu satu hari penuh. Saya sendiri lebih tertarik pada kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga besar kami dari Ayah. Ayah merupakan anak Sulung dengan 7 orang adik. Adik adik Ayah semuanya beranak banyak, ditambah kami 7 bersaudara, jadinya saya nyaris tidak hafal saudara sepupu sekali atau sahindraan, belum lagi sepupu dua kali atau 3 kali yang kami sebut sebagai sanruehan dan santeluan. Rumah tempat kami kumpul adalah rumah besar atau lewu dedeh, milik kakek saya, yang berdiri di tengah hutan hujan tropis dekat perbatasan Kalteng dan Kalsel. Ayah dan adik adiknya walaupun pun punya rumah masing masing di Kampung, juga punya “rumah kedua” atau pondok dekat rumah besar milik Kakah. Rumah ini berukuran besar sekali dan nyaris tidak berkamar kecuali dinding pemisah antara rumah dan dapur. Rumah terbagi menjadi empat bagian yaitu rumah utama, dapur, lumbung padi, beranda belakang. Di belakang rumah terdapat kandang ayam, kandang iwek, kolam ikan (ikannya hasil tangkapan, dikarantina sebelum masuk periuk kami), kebun tebu, kebun sayur, kabun cempedak, durian dan banyak sekali jenis buah buahan. Kakah adalah tuan tanah dengan puluhan hektar tanah milik sendiri di hutan ini. Saat keluarga ini berkumpul, kami tidur dalam kelambu yang dipasang berbaris rapi dalam rumah induk, mungkin sekitar puluhan kelambu dibaris aneka warna, bentuk dan bau (he he he) dipasang. Saya dan abang saya bersama sama dengan sepupu laki laki lainnya biasanya mendapat jatah kelambu dekat dengan pintu, dengan alasan Kakah supaya kelak kami akan menjadi pemuda pemberani dan gagah perkasa mempertahankan tanah ulayat ini.

Rumah besar atau lewu hante ini juga ada TVnya lho, Televisi hitam putih ukuran 14 inci yang kami stel tiap malam minggu, setelah paman saya pergi ke Pasar Panas naik sepeda ontel untuk nyetrum accu, seingat saya malam minggu ada acara berita nusantara, berita nasional, aneka ria safari, dunia dalam berita dan –ini dia acara favorit itak dan ineh-Filem cerita Akhir pekan, dengan artis seperti Meriam Bellina masih muda, Rano Karno, Sophan Sophian, Widyawati, kadang kadang ada Rhoma Irama dan Yati Octavia. Amah dan Paman paman saya suka berita-semua berita TVRI waktu itu, tentu saja setelah disensor habis oleh Menpen- selalu menceritakan betapa pemerintah terus membangun negeri, betapa hebatnya Soeharto, keluarganya, dan menteri menterinya, betapa rukunnya anggota DPR/MPR dst , dengan cameramen TVRI yang selalu mengambil gambar pejabat dengan angle dari depan, lengkap dengan konco konconya dibelakang saat diwawancara. Tidak pernah terdengar berita Korupsi, semua berita bagus bagus terdengar. Didapur ada deretan kusi atau guci yang berisi wadi, pakasem, atau pajaan baik wawui maupun ikan, termasuk pajaan papai, sementara di dekat perapian kadang banyak dendeng wawui, rusa, kijang atau ikan arungan yang besar. Pokoknya pojok ini adalah gudang logistik protein kami tanpa harus membeli, pantas kami cucu cucunya pintar pintar semua (he he he udah narsis dari kecil), di SD saya selalu juara kelas, bukan karena pintar, tapi karena tingkat ketidakpintaran saya paling kurang parah dibandingkan dengan teman teman sekelas he he.

Ayah saya punya Pondok yang –menurut saya- sangat besar berjarak sekitar 1 km dari rumah dedeh kakah. Kami sering bermalam di pondok ini bila libur sekolah, karena dekat dengan ladang, kebun, kebun karet. Pondok kami terletak ditengah tengah ladang padi yang menghijau, dekat dengan sungai nan jernih, sebuah tempat yang strategis untuk “bermain main”-begitulah fikiran saya. Tinggal di ladang memang membuat sibuk, penuh kegiatan khas anak anak. Saat itu alam masih baik, ikan berlimpah, banyak binatan buruan. Tentu saja hal yang paling kami sukai adalah menangkap ikan, apalagi pada musim kemarau, dimana sungai-sungai menjadi hampir kering, sehingga kami dengan leluasa menangkap ikan dengan tangguk/ansiding, bila musim hujan kami bisa menangkap ikan dengan memancing/mintan, mambanyur, marengge, atau memasang bubu atau tangkala. Banyak ikan baung, waan, kehung, tawelen, kadiki, saluang, pasi, sangaringan, pait, tangara, kadiki, lampuk, lier, patung dan si ikan bodoh atau ugum. Ikan Ugum kami sebut ikan bodoh karena sebelum ditangkap dia tidak pernah berkeinginan untuk melawan atau meyelamatkan diri,namun berdiam diri berharap dengan warna tubuhnya yang persis sama dengan dedaunan busuk dalam air, dia tidak terlihat dan bisa melanjutkan sisa hidupnya. Kami bersama sepupu sepupu setiap sore akan berkumpul di danau tamun, sebuah danau yang besar, gelap dan dangkal-yang konon-menurut Nenek/Itak yang sering menakuti kami- merupakan habitat ular pyton asia yang besar- untuk mandi dan main perang perangan dalam air, sebuah tempat yang sempurna untuk main main. Saya waktu bukanlah yang tergesit, karena itu sering menjadi “bajat” alias pecundangnya, menjadi penjaga atau pengejar sepupu sepupu saya yang gesit, tangkas dan cepat. Tetapi saya tidak pernah bosan, tidak pernah menyerah dan selalu ikut bermain. Sebenarnya kami dilarang orang tua untuk main di danau dangkal nan luas ini, karena konon ada ular besar yang disebut tamun. Tapi kami anak anak yang keras kepala dan bandel saat orang tua, kakah, itak, busu, yaya ke ladang kami dengan sigap menyelinap menuju danau yang ramai ini. Danau ini berair jernih kemerahan karena jenis tanahnya adalah tanah bergambut tipis. Hingga suatu sore, saat kami yang berjumlah 9 orang sedang mandi-tentunya seperti biasa kami telanjang bulat- melihat sesuatu yang membuat kami shock luar biasa. Saat segerombolan babi hutan minum air danau bagian yang berumput, tiba tiba dua ekor ular sebesar batang kelapa, dengan panjang kira kira 20 meter-yang entah muncul dari mana- menyambar dan membelit masing masing 1 ekor babi hutan, suara gaduh dan raungan dari rombongan babi hutan membuat kami terkejut. Seumur umur kami belum pernah lihat ular panganen sebesar ini, dan anehnya betapa “baik hatinya” ular ular raksasa ini, tidak memangsa kami yang saban hari mengacak ngacak habitat mereka. Sejak itu kami tidak pernah menginjak kaki di danau ini lagi, cukup sudah.

24 Desember 2008

Dalam bus perjalanan dari Bogor ke Jakarta, aku teringat kembali dengan kenangan masa kecil kami, dengan rumah besar di tengah hutan, sudah hampir 20 tahun saya tidak ke sana. Saya bertekad untuk ke kampung Kakah, sebelum kembali ke “habitat” asli saya di Samarinda. Saya mau melihat tanah Ulayat kami, rumah besar dulu dan ingin kembali mengenang semua kenangan kenangan indah itu. Dengan wajah yang lelah, setelah kemarin berhadapan dengan 2 orang professor di LAN Jakarta dalam proses ujian untuk menjadi seorang “Raja Ilmu” alias Widyaiswara.Puji Tuhan 2 orang professor ini-satu professor ekonomi makro- satu professor teknologi pendidikan-bukan professor dari rumpun ilmu Kehutanan yang saya takuti dengan “penuh belas kasihan” meluluskan saya-diantara banyak yang belum lulus-. Rasa sedih juga muncul ketika berpisah dengan bapak bapak, ibu ibu dan abang abang dari Pematang Siantar, Bengkulu dan Pekan Baru saat harus turun di terminal IA Bandara Soekarno Hatta-mereka ke terminal lain karena menumpang maskapai yang berbeda-dengan haru saya peluk dan salami paman dan kanda melayu ini. Tekadku sudah bulat, hari ini menuju Bandara Syamsudin Noor, Banjar Baru, dan melanjutkan perjalanan darat menuju tanah ulayat milik kakah, setelah merayakan Natal bersama orang tua dulu.

26 Desember 2008

Setelah merayakan Natal bersama keluarga besar-Natal terahir saya berstatus lajang- dengan acara seperti tahun tahun biasa penuh dengan hidangan iwek dan manu khas keluarga Kristiani berdarah asli Dayak Maanyan, dengan motor saya pergi menyusuri jalan kenangan, hari ini saya harus sampai disana. Tanpa ditemani sepupu saya-awalnya sepupu perempuan saya berniat menemani, namun tugas mendadaknya sebagai bidan desa sehingga saya pergi sendiri-dengan penuh percaya diri, toh saya bukan seorang anak kecil nan dekil dengan sandal jepit dua sehari sembilan belas tahun yang silam. Saya adalah pemuda dengan penuh energi, percaya diri, penuh gairah kehidupan, penuh idealisme dan kadang saking merasa pintarnya ikut ikutan jadi pengamat politik amatiran he he he. Dengan susah payah, setelah menembus jalan kecil dengan motor, dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh 2 km saya sampai di tempat penuh kenangan dulu, dan Duh Gusti..Ya Tuhan..semua telah berubah, yang tersisa hanya pondok kecil milik paman saya, rumah besar dulu sudah tak ada lagi, sejak Kakah meninggal tahun 2002 silam, semua tidak terurus, sementara harta benda sudah diungsikan ke kampung. Bukan masalah rumah yang membuat saya terhenyak, terpukul dan terluka…tapi lihatlah, kebun nan penuh kenangan dulu sudah berubah menjadi tanah terbuka lebar, bekas kerukan alat berat untuk mengambil batu bara dari perut bumi. Hanya Kebun Karet milik Ayah saya dan kebun buah buahan dibelakangnya yang tersisa, hijau, tenang, sepi, merana, sendirian di dekat lokasi tambang. Sementara tanah yang lain sudah dijual oleh keluarga besar yang lain, mereka lebih tertarik dengan tawaran harga sampai ratusan juta. Hanya Ayah yang bertahan, itupun karena kebun tersebut memang “diakukan” ke saya. Artinya penjualan dengan alasan apapun harus seijin saya selaku owner yang sah secara adat keluarga saya. Danau habitat ular pyton asia dulu sudah tertutup, entah kemana ular ular dulu, sungai sungai tempat kami mencari ikan sudah dangkal karena sendimentasi berlebihan, dengan air keruh kuning keputihan. Hutan tempat kami mencari buah damuran, amiwunut, kamisi, pitaruk, tampupur, amusisin, sudah hilang musnah, ada camp panjang milik kuasa pertambangan di sana. Ada sebuah padang yang yang sukai dulu, yang penuh tumbuhan amukakang atau karamunting yang berbunga ungu bagaikan hamparan bunga  lavender, sudah hilang musnah berganti dengan tamah rata tempat truk truk mengangkut emas hitam.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, saya merasa gagal, merasa tidak berdaya dan parahnya lagi merasa tidak berguna, saya gagal menjaga tanah ulayat saya, gagal menjaga nilai nilai filosofis yang terkandung dalam rumah besar Kakah. Selama 4 tahun lebih bekerja di lembaga Konservasi, mana ilmu konservasi kawasan, community empowerment, comdev, economic development, yang saya dapatkan dengan susah payah tak pernah saya gunakan untuk menyelamatkan tanah ulayatku sendiri. Betapa tidak bergunanya saya yang sering dengan sangat apik dan sistematis menjelaskan bagaimana melakukan valuasi sebuah kawasan, bagaimana menilai valuasi ekonomi sebuah kawasan hutan, dengan garangnya saya mengatakan bahwa dengan sudut pandang manapun usaha pertambangan jangka pendek mempunyai nilai ekonomi jauh lebih rendah dari diusahakan dengan cara lain. Saya sosok tak berguna, hanya hebat di teori tanpa sempat menyelamatkan natat sendiri, sementara dulu dengan giat melakukan upaya upaya konservasi terhadap hutan gambut dan satwa liar, menyusuri sungai Kapuas Kalteng dan Barito, bertemu dengan masyarakat lokal,mengajak mereka menyelamatkan tanah dan hutan mereka. Tak henti saya mengutuk diri, terpaku di bawah pohon karet menatap hampa aktivitas KP, yang konon dilakukan untuk menyejahterakan masyarakat. Kini, di penghujung jalan kenangan ini, saya berdiri sendiri, betul betul sendiri, sepupu sepupu yang dulu selalu bersamaku, kini sudah hidup “berkecukupan” menjadi karyawan tambang ini mulai dari sekelas geolog, sopir, accounting, sampai kelas satpam, sementara yang lain menjadi guru, pendeta, eksekutif perusahaan juga tak pernah pulang menengok tanah ulayat ini. Tidak!..saya tidak boleh menyerah, saya tidak mau serakah, sisa tanah yang belum terjual (tak akan dijual tanpa seijin ayah saya sebagai anak sulung keturunan Kakah) ini akan saya pertahankan, tidak utuh memang, tapi ini tetap jadi kebun buah buahan dan kebuh karet sampai terhenti nafas ini, akan saya pertahankan. Saya akan membangun kesadaran akan pentingnya tanah Ulayat ini kepada keluaraga yang lain. Apapun caranya saya tidak akan menyerah, saya tidak tergiur tawaran para pengusaha tambang nan serakah itu, saya tidak akan berpaling lagi mempertahankan tanah air milik almarhum Kakah ini dengan cara apapun, bukan untuk saya, tapi untuk keturunan kami kelak, biarkan mereka masih bisa menikmati kebun buah buahan nan luas ini, menikmati sungai dan danau yang jernih, menikmati sejuknya embun pagi di tanah leluhur. Kuayunkan langkah langkah yang goyang dengan emosi yang tak pasti. Aku harus menebus kelalaian ini. Aku harus jadi umpu Kakah yang bertanggung jawab. Perlahan titik titik bening tanpa saya sadari menetes membasahi pusara almarhum Kakah dan Datu yang berada di bawah pohonn rambai yang rindang. Kakah dan Datu, inilah saya sekarang, merasa pintar namun tak berdaya. Namun mampukan kaki kaki yang goyah ini menopang ideliasme yang bersemi dalam sanubari ini?? Seekor burung suit berbunyi seakan mengejekku

Tewah Pupuh, Desember 2008

Umpu Kakah

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s