PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Kakah Ammau (Kakek Jangkung)

3 Comments

Kakah Ammau

Kakah ammau atau bahasa Indonesianya “kakek Jangkung”, merupakan kakek umur 70 tahunan pada tahun 1985, saat saya belum masuk SD di Dusun kami yang kecil. Kakah Ammau terkenal karena beliau punya warung yang lumayan besar dan jua punya televisi hitam putih ukuran besar, yang saban malam minggu selalu ramai dipenuhi oleh orang orang Dusun yang  menghabiskan malam minggunya untuk mencari hiburan, setelah seminggu penuh bekerja menyadap karet dan berladang (memantat dan ngume’ naun). Kakah Ammau merupakan fenomena yang sedikit langka, sebagai orang Dayak Maanyan asli, jarang mempunyai tubuh setinggi 190 cm an, dengan kulit putih bersih dan mata yang bersinar indah. Konon semasa masih muda beliau orang tertampan yang pernah ada di daerah kami.

Saat itu saya berumur 4 tahunan, tentu saja malam minggu malam yang ditunggu, karena kami akan di bawa Ineh (my Mom) untuk menghabiskan nonton TV dan tentu saja bisa jajan sepuasnya, berhubung tadi Ineh sudah jual kantal/karet agar kami punya uang yang cukup, untuk keperluan dugem di warung besar Kakah Ammau. Uang untuk belanja kami dan anak anak sebaya kami biasanya berupa uang kertas seratus rupiah warna merah merekah laksana bunga Durio borneensis alias “wunge papaken”, atau berupa logam ratusan yang tebal dengan angka seratus yang tebal, logam ini dibuat BI tahun 1979, kadang juga ada uang 500 an gambar Pongo p alias gambar Orangutan. Uang tersebut disimpan ibu2 dalam ikatan kain bahalai yang digunakan untuk menggendong adik adik kami yang masih bayi. Rupanya awal tahun 1980 an, program KB masih belum berhasil, buktinya anak anak sebaya saya dan adik bungsu saya banyak sekali, dan semuanya tumpah ruah dibawa orang tua masing masing menonton TV malam minggu beramai ramai, dan baik ibu ibu dan bapak bapak serta anak anak boleh jajan sepuasnya sesuai dengan ketersedian stok uang kartal yang dibawa ibu masing masing. What beautiful a life tu pang kesahnya…..

The show is starting on 07.00 am (local time) alias jam 7 waktu Indonesia tengah, saat itu TV hitam putih nan memesona itu dibuka eh dihidupkan secara resmi oleh Kakah Ammau dengan cara memasangkan dua buah kabel positif dan negative, satunya hitam satunya merah ke Accu besar, tekan tombol on, dan naikkan volume ke maksimal untuk mengakomodir banyaknya para penonton dan besarnya ruangan serta  warung tersedia ( he he he….kalimatku sok teknis, padahal gak segitunya he he)

Warung Kakah Ammau-and his beloved wife Itak Ammau-of course-cukup besar, terdiri sebuah meja mirip meja makan yang panjangnya mencapai 4 meter dilengkapi dengan bangku bangku panjang, di atasnya berjejer rapi dan bersih piring piring berisi aneka cake, antara lain pisang goreng (gaguduh) pisang manurun dan gaguduh pisang aniwung (konon harganya beda), Kue ontok (sejenis donat tidak berlubang, di tengahnya diisi parutan kelapa setengah tua dan gula merah), roti manis (mirip bolu tapi kecil, dan rasanya ya ampun saudara saudara-sangat manis), pais pisang, antelui mariyang (telor itik yang direbus, dikasih pewarna merah, sehingga jadi telor warna merah), roti murahan pake ragi (gambung), di sudutnya ada lemari yang diatas dan di dalamnya deretan limun warna hijau, merah, kuning pucat dan bening dipamerkan, kalau tidak salah limun ini made in Amuntai, sebuah kota kabupaten di daerah rawa rawa Kalimantan Selatan. Waktu itu entah kenapa, rasa Limun buatan Amuntai luar biasa enaknya dan segarnya-sekarang malah saya gak pernah lagi lihat limun dijual dimana.

Di lantai, dekat “arena” menonton berjejer stoples yang berisi aneka jajanan warna warni kesukaan kami-anak anak, ada permen bertangkai yang kami sebut gula batu, aneka kerupuk dan minuman ringan, aneka mie2 instan kecil, pokoknya banyak sekali…harganya juga berkisar antara 12,5 sen, 25 rupiah, 50 rupiah, 75 rupiah, paling mahal 100 rupiah. Jajanan beginian plus limun adalah jajanan kami, dari anak anak baru bisa merayap sampe anak umur 11 tahun, sedangkan bapak bapak dan ibu ibu lebih cenderung “mengorder” kue basah dan teh atau kopi panas.

Pastry eh Kitchen alias dapurnya Itak Ammau terus mengempul asap, dari perapian berkayu bakar pohon Pelawan (Tristania maingayi) dan karet (Hevea brasilliensis) yang terus memasak sesuai orderan para custumer yang lagi mempelototin TV hitam putih yang-tentu-saja hanya ada channel TVRI…menjalin persatuan dan kesatuaaaaaaaaaaaaaann. Ada mesan teh manis panas, kopi panas, susu panas, atau mie instant rebus, mie goreng rebus, bubur kacang hijau-selain hidangan reguler berupa gaguduh, ontok dan pais-, Itak Ammau di bantu 2 orang cucunya yang saat itu berupa 2 siswa SD yang “magang” dengan kakeknya (he he)-dengan tangkas melayani dengan sebaik baiknya pesanan demi pesanan. Sementara Kakah Ammau, si kakek ganteng itu bertindak sebagai kasir yang di depannya ada kaleng kue bekas, tempat menyimpan uang, sekaligus mulutnya komat kamit berperan sebagai “kalkulator” hidup.

Beralih ke acaranya televisinya-tentu saja mudah saya ingat karena hanya ada satu channel yaitu TVRI. Acara pertama saat televisi distell (meminjam istilah kakah Ammau), adalah Berita Nusantara, berita ini memberitakan berita berita “penting” dari berbagai daerah. Untuk menggambarkan sebuah kota, kamera TVRI menyorot lalu lalang padatnya lalu lintas kota dengan mobil berseliweran-yang menggambarkan betapa makmurnya Indonesia di bawah pemerintah Presiden Jendral Besar Soeharto- dan ciri khas berupa tugu dari  kota di maksud, begitu seterusnya selang seling antara Propinsi aceh sampai Irian Jaya (sekarang Papua dan Papua Barat), kadang keberhasilan pembangunan daerah digambarkan dengan hamparan sawah luas na subur, ternak yang sehat dan montok dan seterusnya. Tidak ada berita pejabat daerah yang korupsi, tidak pernah ada berita dari daerah tentang kinerja para kejaksaan, kepolisian atau militer, semua beres, baik baik saja, dan Indonesia adalah Negara yang betul betul adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia di bawah Kabinet Pembangunan ke-sekian dengan anggota DPR MPR dari partai “pemerintah”. Partai eh golongan yang selalu disosialisasi dengan sangat baik dan sistemik oleh para pejabat Negara sebagai partai yang terbaik yang berjuang “bersama sama” dengan pemerintah dalam membangun bangsa dan Negara ( Andai saya berumur 4 tahun jaman dulu berani bilang seperti ini, udah jamin ortu ditahan oleh penguasa he he)

Acara selanjutnya adalah Acara yang berubah ubah, kadang ada siaran langsung dari sebuah even sangat sangat penting-dan tentu saja dibuka oleh Yang terhormat Presiden “anda tahu siapa”, atau kadang ada segmen ilmu pengetahuan, kadang pula diisi pidato oleh Presiden berkuasa saat itu dalam rangka memperingati hari hari tertentu. Dilanjutkan dengan acara Barita Nasional yang disiarkan secara live yang dibacakan oleh 2 orang anchor ( 1 pria 1 wanita) salah satunya adalah pembaca berita dari Papua yang saya lupa namanya. Berita Nasional berawal dari  kegiatan presiden di Istana Negara, kegiatan ibu Negara, berita propaganda pemerintah (of course), dan berita “penting” lainnya (penting tidaknya sebuah berita tergantung dari Kementerian Penerangan Republik Indonesia yang akan menyensor habis berita yang “tidak baik”). Tak ketinggalan menteri mentari yang “sangat penting” seperti menteri Penerangan dan Menteri Pertahanan akan bercuap cuap memberi keterangan pers tentang kondisi terkini dengan wajah manis kebapakan. Bila ada acara oenting, wartawan TVRI selalu mencegat narasumber (orang paling penting di acara itu) dengan kamera dari arah depan, dengan pejabat2 jajarannya akan berdiri manis di belakang si pemberi keterangan pers agar tersorot kamera. Kamera menangkap gambar dengan sangat baik dan terang, karena tidak ada TV swasta yang menyaingi.

Kami anak anak jelas tidak suka berita berita beginian, tidak  ramai dan tidak menarik, yang kami fikirkan adalah bagaimana merengek-rengek  dan memasang akting wajah paling memelas ke ortu masing masing agar dukungan financial dari lipatan/ikatan bahalai berupa uang ratusan rupiah terus mengalir, sehingga kami bisa jajan sepuasnya, memilih kue atau snack yang sesuai dengan idaman kami selama seminggu terahir. Peduli amat dengan berita berita yang disukai kaum bapak itu, yang penting siapa paling keren adalah pertama mendapat botol limun merah, kalo warna lain gengsinya kurang he he, terus menyantap telor merah-dasar anak2 gak ngerti bahwa gak ada namanya telor bebek warna merah kusumba).Berita dilanjutkan dengan Negeri Tercinta Nusantara, sejenis tayangan yang menceritakan kekayaan dan keindahan alam ibu pertiwi. Acara ini lumayan bagus sebenarnya, gak ada “campur tangan” pemerintah di dalamnya, api yaaa bedalah sama Discover Indonesia, Jejak petaulangan, Sang Penakluk jaman sekarang, yang mendapat gamba yang sangat eksotis dan narasi yang betul betul padat berisi.

Tambah malam acara kian “Hot” yaitu acara aneka ria safari, waktu itu artis Obbie messakh, Titik Sondora, Betharia Sonatha, Rafika Duri, Titik Puspa, Dina Mariana kadang kadang Mariam Bellina menjadi bintang pada acara ini, lagu lagunya pop yang cengeng namun ada juga yang bagus, tentu saja penyanyi berbakat tapi sering membuat lagu yang “tidak disukai” Menpen tidak akan menjadi bintang di acara acara televise. Pad saat acara begini, biasanya kami anak anak yang kenyang karena jajan, udah ngantuk dan tersandar di ibu masing masing, Acara terus belanjut dengan dunia dalam berita dan berahir dengan acara terfavorit ibu ibu dan bapak bapak yaitu film cerita ahir pecan, dengan bintang bintang film yang cantik jelita sejenis mereka Yati Octavia, Widyawati, Sophan Sophiaan, Ran Karno, pokoknya banyak, kebanyakan sih ceritanya berhubungan dengan dunia percintaan, perjodohan, kawin lari dst.

Hari haripun berlalu, aku terenggut dari dusun permai ini, terbawa pusaran arus kehidupan yang tak pernah aku fahami, keajaiban keajaiban aku lewati, kadang terpuruk, kadang merasa sangat diberkati, hingga penghujung tahun 2009, aku dapat kabar penting dari desa (bukan dusun), bahwa ITAK AMMAU TELAH MENINGGAL DUNIA DENGAN TENANG.

_______________________……..______________……..______________…….________________…..____

Aku kembali bertemu dengan Kakah Ammau yang menginjak usia 99 tahun, tubuh jangkungnya sudah renta, namun daya ingatnya masih awas. Kata katanya masih jelas walapun tak ada satupun giginya tersiksa. Kami ketemu disebuah senja yang kelabu, dingin dan kelam, saat beberapa jam setelah kematian his soulmate, Itak Ammau. Gurat sedih dan lelah menghiasi wajahnya, perlahan aku genggam tangannya untuk bangkit, menjaga raga istrinya yang terbujur kaku. Yang membuat aku terharu dia masih ingat siapa saya, anak kecil belum sekolah, penggemar limun merah seperempat abad yang silam, di warungnya yang sudah tak berbekas sekarang, berganti dengan warung anaknya yang tak seramai dulu.

Sungguh indah, melihat Kakah Ammau hanya terpisah oleh maut saat umur nyaris seabad, berpisah dengan istri tercinta. Melihat Kakah Ammau yang tergopoh gopoh, kembali muncul di benakku kenangan masa silam, di saat keramaian warungnya seperempat abad silam. Semua muncul bagai tayangan video hitam Putih.

Tetap Kuat ya Kakah? Kakah dan Itak tetap hidup dalam kenangan kami…..

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

3 thoughts on “Kakah Ammau (Kakek Jangkung)

  1. Siippp…panai nu mnulis. karena kekerabatan dan rasa persaudaraan yang tinggi khususnya orang2 dayak manyan. Tidak mungkin kami dapat melupakan jasa2 ine, amah, itak kakah, datu nini!

  2. endingnya ada sedih2 na…great memories ya….kangen suasana tumpuk yang kaya gitu…dulu warukin jg rame di warung “ueh warung”…nah lupa namanya…sudah RIP keduanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s