PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Lepuh Ulun/Menghadiri Kenduri

3 Comments

LEPUH ULUN

Kalender menunjukkan tanggal 26 Juli 1986, aku bergegas mandi di pagi buta dan segera mengganti pakaian harianku yang dekil dengan baju baru warna hijau daun dan celana panjang kain hitam-baju ini adalah baju “resmi” aku yang hanya dipakai pada saat saat istimewa seperti lepuh ulun. Hari ini aku  ikut Ammah atau Ayah  lepuh ulun atau menghadiri undangan. Berhubung yang mengundang adalah sepupu Ineh (mama aku), maka kami disebut sebagai ulun putut atau keluarga inti maka kami harus lebih duluan membantu tuan rumah alias si empunya acara lebih awal satu hari-sebenarnya acara paadu atau pernikahan ini dimulai besok sore-namun aku dan Ammah sudah bergegas membantu acara mulai hari ini-tentu saja yang membantu ayah aku, aku si bocah umur 5 tahunan gini hanya sekedar cameo saja.

Acara Paadu atau dalam bahasa Maanyan Paju epat disebut Piadu dalam tradisi Dayak Maanyan adalah Acara aruh welum yaitu sifatnya acara suka cita. Sementara acara yang berhubungan dengan  kematian, acara mengenang kematian, nuang panuk, mambatur dikategorikan sebagai aruh matei atau acara duka cita. Dengan penuh semangat aku mengikuti langkah-langkah ammah, menyusuri jalan desa sambil menghirup segarnya udara pagi, keharuman bunga kopi dan harumnya tubuhku sendiri yang pagi pagi buta mandi dengan sabun “cap tangan” warna hijau muda.

Ineh Iya atau (tante) siempunya acara yang kami panggil yaya Ineh Diang (Tante mama Diang) menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah, wajah bulat dan air muka yang jernih begitu menegaskan sebuah keramahan yang tulus dari orang orang desa. Ammah mengulurkan panyindrai atau bantuan berupa beras sekitar 2 kg dan uang yang aku tidak tau persis jumlahnya, kalau tidak salah Rp. 3000 (mungkin senilai 200-an ribu sekarang), karena waktu itu harga emas saja 2500/gram. Panyindrai/sumbangan orang tidak dicatat, tapi diingat bahwa yang nyindrai siapa, dan nyindrai apa. Hebatnya siempunya acara ingat dengan sangat sangat jelas siapa dan nyumbang apa, tanpa harus ketar ketir memeriksa database di file dokumen masing masing seperti biasa kita lakukan sekarang sebagai orang yang “berpendidikan”.

Ammah bergegas bergabung dengan Om-Om serta kakek-kakek  untuk menyelesaikan “pekerjaan penting” demi lancarnya acara paadu besok. Berhubung Busu Ammah Diang adalah orang “penting” di desa yang kecil dan terpencil ini, tentu saja menginginkan acara besok berjalan sempurna, tak kurang satu apapun, baik dari sisi konsumsi (konon paling penting), akomodasi, transportasi dan seksi seksi lainnya. Busu Ammah Diang selain kepala rumah tangga juga  bertindak sebagai EO alias Event Organizer, sementara Yaya Ineh Diang-his wife- bertindak sebagai kepala bagian keuangan merangkap manager keuangan dan administrasi merangkap humas, merangkap public relation yang menjawab pertanyaan tempat naruh panci dimana, nyimpan daging dimana, gungung dan kawah dimana dan tentu saja sambil merangkap sebagai penerima sumbangan. Anehnya Yaya Ineh Diang bisa merangkap rangkap jabatan begitu, namun kinerjanya tetap optimal (meminjam istilah HRD he he).

O ya perlu diketahui Dayak Maanyan mempunyai jalur/pohon kekerabatan/family tree yang disebut dengan tuturan-dulu sebut toetoeran/ejaan lama. Dari garis kekerabatan inilah kita mengetahui siapa harus dipanggil apa. Misalnya Ineh Diang adalah sepupu dari Ineh dan lebih muda dari ineh sehingga disebut Ineh Iya. Dalam Tuturan Kakek disebut Kakah, Nenek disebut Itak, Om yang lebih tua dari orangtua kita yang bertalian darah dengan bersangkutan disebut Ammah Tueh atau u’eh, yang perempuan disebut Ineh Tueh, bila Om itu lebih muda dari orangtua kita yang bertalian darah dengan ybs dipanggil Busu, yang perempuannya dipanggil yaya atau ineh iya, memanggil ipar berlawanan jenis atau sesama perempuan dengan sebutan iwan, sementara ipar sesama laki laki dipanggil Daup. Sementara bila dalam garis tuturan  sejajar atau sepupu sekali, 2 kali, 3 kali disebut sahindraan, sanruehan, santeluan atau tawari/duwari. Untuk memangggil yang dalam garis sejajar kita boleh langsung memanggil nama, namun bila ybs sudah punya anak kita memanggil kahimeannya ( ayah siapa/Ibu Siapa). Misalnya bila anak tertua mereka bernama David maka bapaknya dipanggil “Ammah David” dan ibunya “Ineh David”. Ini berlaku untuk Maanyan Benua Lima lho. Maanyan Paju epat menyebutkan Om dengan “mama’, tante dengan “tutu”, nenek disebut “nini”. Maanyan Kampung sepuluh lebih mirip dengan kami-Maanyan benua lima- dalam hal cara menyapa berdasarkan tuturan ini, namun mereka menyebut Om Muda sebagai “amah Iya” bukan “Busu”. Pengetahuan tentang tuturan ini sangat penting, agar kita bisa bicara dan menyapa dengan hormat dan santun. Biasanya Orangtua akan mengajar langsung kalau si A dipanggil Ammah Tueh A, atau si B dipanggil dengan Busu B, atau si  C dipanggil itak C dan seterusnya. Ammah sudah berkali kali mengajarkan sopan santun ini.

Kembali ke Acara Aruh welum ini, mari kita ke belakang, menyusul Ammahku. Disana sedang terjadi keributan besar, 5 ekor iwek Bantut (Babi Kampung jantan ukuran besar), sedang menjerit sejadi jadinya karena akan segera dieksekusi oleh tukang jagal terkenal kampung kami yaitu Busu Amah Baremi. Lima ekor iwek bantut yang seekornya berbobot nyaris 1 kuintal ini-ditambah beberapa puluh ayam kampung akan menjadi hidangan utama pesta besar besok sampai lusa. Busu Ammah Diang sebagai orang “terpandang’- yang dikenal memiliki banyak ternak iwek dan ayam, memiliki ladang yang luas dan padi yang banyak serta memliki kebun karet dan kebun buah buahan yang luas- jelas tidak mau kalau acaranya sampai kekurangan hidangan, atau ada para undangan yang telah datang namun tidak makan hidangan sepuasnya. Satu persatu Iwek itu merenggang nyawa dalam tangan Busu Amah Baremi yang perawakannya mirip orang Timur Tengah itu-wajah yang lonjong, hidung mancung dan badan yang berbulu-. Ammah segera mengangkat tubuh tubuh iwek itu ke sebuah tempat sejenis “bale bale” dari kayu pelawan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tubuh tubuh besar iwek nan malang itu disiram dengan air mendidih yang telah dipersiapkan Ineh Tueh Ineh Semek dalam wajan sangat besar atau disebut gungung. Setelah disiram air panas, kulit iwek dibersihkan/dikerik dengan parang hingga menjadi putih, bersih, licin dan bebas bulu. Iwek tersebut ditaruh sebentar di atas api yang menyala nyala agar kulitnya benar benar bersih sempurna  dan kulit iwek jadi coklat keemasan. Selanjutnya iwek tersebut dikeluarkan isi perutnya ke dalam anyaman dari bambu seperti bakul besar yang disebut ansiding. Isi perutnya ini akan diproses oleh ibu ibu dengan cara memisahkan usus dan lambung dari paru, hati dan lain lain. Dengan memakai kuwing kelek (kain) Ineh tueh Ineh Sawa dan Ineh Kiki membawa ansiding-ansiding besar berisi usus dan lambung iwek ini ke Sungai Patangkep-sungai yang dalam dan jernih yang mengalir di sepanjang desa kami-untuk dibersihkan sampai sebersih-bersihnya. Ammah dan puluhan Ammah Tueh dan Busu bertugas memotong iwek yang sudah bersih tanpa isi perut. Sambil memotong juga dipersilahkan oleh Tuan dan Nyonya Rumah sambil membakar potongan daging yang tersedia sepuasnya. Ini segmen eh bagian yang paling aku sukai, Ammah akan memotong daging iwek yang segar itu sebesar telapak tangan orang dewasa atau sekitar ¼ kg dan membakarnya, kemudian akan menjadi jatahku seutuhnya-biasa kalau di rumah harus berbagi dengan cara “perang” dengan Bang Joko, si kakak yang merupakan kawan dan “musuh”ku dalam suka dan duka-setelah masak dimasukan ke dalam piring ditambahkan garam sedikit, rasanya luar biasa pemirsa..Makyussssss..cita rasa yang betul betul berasal dari daging iwek segar yang berkualitas dibakar sempurna tanpa bumbu. Seorang Tante yang kami panggil Yaya Ineh Nihi menyodorkan sepiring besar nasi, bukan sembarangan nasi lho, ini nasi berasal dari beras organik dari padi jenis lungkung palanuk produksi ladang yang luas si empunya acara alias yang terhormat Busu Ammah Diang.

Kami dan anak anak sebaya (kawan iya) makan di atas para para di samping rumah, para para ini terbuat dari kayu hutan dan dilantai dari bilah bilah paring wulu-sejenis bambu kecil- menyantap steak iwek versi Ammah masing masing. Yang pasti steak aku paling besar dan paling enak, Ammah paling pandai memilih daging yang paling baik di daerah paha, bebas tulang dan tidak terlalu tebal lapisan bayangnya atau lapisan lemaknya dan dibakar di atas bara, jangan sampai terkena api, steak tersebut di tusuk dengan bilah bambu betung-sejenis bambu tebal yang sangat banyak tumbuh di desa kami-  kadang disiram dengan kecap asin made in Kelua, Kalimatan Selatan. Teman teman yang lain bentuk steak alias upuhan iweknya ada yang lebih kecil, ada yang cuma lapisannya lemaknya doang, ada yang daging doang (kurang gurih), ada yang banyak tulangnya. Walaupun punya steak yang berbeda dan makan sama sama, jangan pernah bermimpi saling memberi atau berbagi, No way…. aku fikir-sambil makan sepuasnya upuhan iwek- kan udah dapat jatah semua, lagian salah Ammah masing masing kok mengapa tidak sepintar Ammahku dalam memilih dan membuat steak alias upuhan iwek dengan kelas hotel berbintang kayak gini (tahu dari mana istilah  hotel berbintang? Lha wong seumur umur gak pernah lihat hotel hi hi). Seorang ibu tersenyum simpul dan menatap iba melihat diriku yang lahap dan penuh semangat menghabiskan sepiring besar nasi dan sepotong steak iwek ukuran jumbo, namun peduli apa, mau dipandang dengan iba kek, dengan iri kek, dengan sirik kek, aku tidak akan peduli, prioritasku saat itu adalah bagaimana memperlihatkan ke teman sebaya bahwa steakku paling keren, dan aku akan menghabiskan hidangan ini sampai sekenyang kenyangnya dalam tempo sesingkat singkatnya, urusan hari esok? Entahlah…..he he..dasar anak anak…

Sudah kenyang aku duduk-duduk (lha wong tidak kuat berdiri, kekenyangan alias bulaten) dekat bapak bapak yang lagi hot hotnya ngobrol alias basurah, topik pembicaraan berkisar antara ladang, banyaknya padi, berburu di mana, nangkap ikan dimana, menombak/maniruk ikan di mana, terus si Anu sakit anu, si A jatuh ketika naik pohon ini, si B terluka parah ketika membuka lahan untuk ladang, kadang kadang banyak pembicaraan yang agak nyerempet nyerempet masalah “ranjang”. Dasar anak kurang kerjaan-atau memang gak bisa ngapa ngapain saking kenyangnya- aku duduk ikut mendengarkan pembicaraan “18 tahun ke atas” itu, seolah olah mengerti he he.  Seingat aku ada beberapa bapak yang paling dominan bicara,  di Bapak ini-katakan saja Ammah Emis-seolah sangat menikmati kemampuannya dalam “memimpin pembicaraaan’ kadang kadang dari mulutnya yang berselang seling keluarnya dengan asap rokok lintingan dari tembakau bermerk “stormking” keluar istilah istilah yang tidak aku fahami semisal transmigrasi, wajib lapor, organisasi terlarang, sosialisasi, penyuluhan KB…ck ck ck..aku berdecak kagum, pintar sekali Ammah Emis ini menyebut istilah istilah yang hanya dimengerti oleh kalangan yang pernah “makan bangku sekolah”, sementara diriku ini seorang bocah 5 tahunan yang hanya bisa berharap suatu saat kelak aku harus pintar juga, paling tidak bisa menyebutkan istilah istilah yang ujungnya-si, puas rasanya mengkhayal kalau 30 tahunan lagi aku akan mengganti Ammah Emis, jadi Leader sebuah pembicaraan dan aku kelak akan menyebutkan sebanyak mungkin istilah istilah yang berahiran-si, agar mengundang decak kagum segenap hadirin dan hadirat semua, saat selesai memotong daging iwek dan menunggu makan siang tersedia he he (parah sekali cita cita aku dulu…). Acara ngobrol ngobrol ini berhenti dengan sendirinya ketika nyonya rumah yang terhormat Yaya Ineh Diang secara resmi meminta bapak bapak agar masuk ke dalam rumah makan siang dengan menu “gagasukan”. Gagasukan adalah sejenis masakan khas orang Dayak Maanyan yang berbahan utama “dalaman” alias jeroan dari iwek, jeroan ini pada dasarnya diberi bumbu kuning (mirip bumbu opor ayam, minus ketumbar) ditambah asam, kadang kadang ditambah darah iwek sehingga menghasilkan masakan yang khas dan unik warna coklat tua nan menarik selera. Aku jelas tidak mau (tepatnya tidak kuat) ikut makan lagi, lambungku sebagai bocah umur 5 tahunan sudah overload makan upuhan iwek atau steak iwek. Lagian toh aku sangat sangat yakin, pas pulang nanti sore si Tante ramah alias si Nyonya Rumah akan memberi gagasukan satu rantang besar kepada Ammah untuk dibawa pulang.

Sekarang kita beralih ke dapur-yang tentu saja- dipenuhi oleh kaum ibu yang selain tangkas bekerja, mulutnya juga tidak henti hentinya bicara. Beda dengan acara ngobrol ngobrol kaum bapak yang lebih terarah dan tidak simpang siur, ibu ibu ngerumpi bersamaan, sehingga dapur dari jauh bukannya kedengaran ada orang bicara tapi kedengaran seperti dengung lebah. Di sebuah pojok, seorang ibu katakanlah Ineh Ati, menguasai pembicaraan, mulutnya sudah berbuih namun tak kunjung membiru (seperti harapan aku he he he) bicara tak henti hentinya semejak 6 jam yang lalu. Beliau memang terkenal paling panarungan atau suka menggosip, kelihatannya sangat profesional memilih kata kata yang sedemikian menarik bagi ibu-ibu lain, mungkin kalau jaman sekarang selevel mereka Fanny Rahmasari, Fenny Rose, atau Cut Tari. Beliau seolah tahu semua, bahwa di desa A seorang gadis anak Ibu B ternyata hamil di luar nikah, terus di desa X si M resmi bercerai dengan si N, tak lupa juga pamer sedikit habis membeli gaun hijau “gelas gelas kaca”, atau karena punya uang banyak lalu ke pasar Kelua membeli panci besar berbunga bunga, pokoknya habis dibahas tuntas tas tas…terutama yang menyangkut aib orang lain. Anehnya walaupun rata rata mulut ibu ibu tidak diam, tangan mereka juga tidak diam, sambil membuat bumbu, sambil mangaduk bumbu, membersihkan ayam, mengiris sayur umbut rumbia, cuci piring, masak nasi pokoknya semua perkerjaan berat itu seolah sangat ringan karena dikerjakan bersama sama dengan gotong royong sesuai dengan pengamalan Sila Pancasila yaitu sila ke-5 (he he he ini mah mengada-ngada banget), di sisi lain pekerjaan tambah ringan karena sambil bekerja, berita-berita infotainment dengan Host bergantian antara Ineh Ati, Ineh Kris, Ineh wiwin terus berkumandang tanpa jeda iklan sama sekali.

*************************************************************************************

Kalender menunjukkan tanggal 12 Desember 2009 saat aku leyeh leyeh alias malas malasan dengan istri di kampung orang tua tercinta, Ammah yang sudah tua bergegas menemuiku, meminta dengan segera mengantar beliau ke desa sebelah seterimanya berita bahwa ‘ Busu Ammah Diang haut matey Hingkaiyat, na pasar kauni jam telu kariwe” yang terjemahan bebasnya ‘Busu Ammah Diang telah berpulang tadi pagi, dan rencananya akan dikembumikan besok sore jam 3”. Ammah kelihatannya cukup shock, selain keluarga dekat, Busu Ammah Diang adalah teman dekat Ammah.

Dengan mengendarai Motor, melewati jalan yang sejuk dan rimbun oleh kebun karet orang kampung, aku mengantar ayah untuk “nuleng” acara kematian Busu. Sesampai di sana, aku masih melihat pemandangan yang sama dengan seperempat abad silam, Yaya Ineh Diang lagi menerima panyindrai, namun jika dulu menerima sumbangan dengan mata bebinar dan wajah yang sangat ramah, saat ini beliau menerima sumbangan (hanya mengganti sewaktu2, bila anak sulung beliau yang “bertugas” ada keperluan), wajah keriput beliau nampak penuh kesedihan, matanya sembab, namun…. ya Tuhan keramahan dan ketulusannya masih terpancar sempurna.

Karena Puluhan tahun tidak ke desa ini, dan nyaris tak seorangpun kenal, Ammah aku sukses “mempermalukan” aku di depan umum, mengenalkan kepada mereka inilah dia, bocah yang tamak dan rakus menghabiskan upuhan iwek seperempat abad silam, si dekil nan hitam dan kurus sudah berubah menjadi bapak muda nan tembem, tampan dan ramah (he he), yang sudah punya rasa malu, sehingga tidak tergoda untuk membuat steak iwek di sini pada saat yang tidak tepat ini.

Kucoba menyalami dan menyapa satu persatu bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada, tentu saja dengan adat istiadat yang diajarkan Ammah 25 tahun yang silam, harus memakai panggilan sesuai tuturan-dengan usaha keras juga- aku berusaha menggunakan bahasa Maanyan Benua Lima yang paling orisinil-walau sebenarnya aku lebih bagus berbahasa Banjar, Maanyan prokem (gabungan Benua lima, kampung sepuluh, paju epat), atau bahasa Dayak Ngaju-, kutiru dengan sukses gesture tubuh ramah orang desa ketika menyapa orang tua. Sungguh damai dekat dengan orang-orang di desa yang segalanya ramah dan tulus-setelah sekian lama aku terbiasa hidup dalam lingkungan sangat individualistis-serta kebaikan mereka yang apa adanya.

Aku masuk ke dalam rumah, di ruang depan perlahan aku buka kain penutup jenazah Busu Ammah Diang, di sana…O kawan…. terlihat wajah tua namun seolah meninggalkan dunia ini dengan sangat damai. Mataku memanas, tanpa bisa ku tahan-(maunya  sih nahan, malu kelihatan cengeng)-perlahan butiran butiran bening jatuh perlahan dari mataku. Masih sangat jelas ketika 20 an tahun yang lalu, Busu sering singgah memberi buah durian besar dan berdaging tebal-yang selalu aku terima dengan wajah cerah dan mata berbinar tanpa mengucapkan terima kasih-atau kadang menyuruh aku dan abang untuk “panen” langsat di kebunnya, masih terasa hangat keramahannya yang tak terhapus oleh waktu, masih terasa kokoh tangannya menarik aku dari kedalaman sungai, saat terjebak karena saking nakalnya mandi di sungai yang banjir. Kini kawan, lihatlah semua telah terenggut, semua mengendap menjadi kenangan getir, seakan terbawa oleh raga yang membujur kaku ini, dan lihatlah sekali lagi , betapa wajah beliau damai, tenang, bahagia, aku tak bisa membayangkan betapa damainya dia meninggalkann dunia fana ini. Maafkan aku Busu, datang di saat terlambat, tanpa pernah mengucapkan terima kasih, tanpa pernah mengucap maaf, karena aku seolah terisap, terputar dalam pusaran waktu, merenggut paksa aku dari semua kenangan masa lalu. Dengan dada yang sesak, aku coba menguntai sebuah doa, semoga Busu  Bahagia di sisi Tuhan, tempat segala kebaikan, ketulusan, kesederhanaan, kepedulian yang telah Busu perbuat di dunia ini akan mendapat balasan di sebuah tempat dimana bumi dan langit yang baru, tempat segala luka, penyakit dan air mata dihapuskan, tempat kebahagian dan kehidupan Abadi. Amin

Di samping jenazah suaminya, Yaya Ineh Diang terus bercerita khusus untukku, bahwa anaknya sudah seperti “orang lain”, yang satu tinggal di kota Jakarta bila pulang selalu gengsi berbahasa maanyan, yang ada hanyalah bahasa lu-gue kadang  keluar englishnya, kadang bunyi sengau bahasa Perancisnya, maklumlah sudah sukses, kaya raya jadi “pejabat” sebuah Perusahaan Internasional, satunya lagi tinggal di Banjar-Masin, kawin dan pindah keyakinan, sangat jarang pulang, satunya lagi tinggal di desa yang jauh karena tugas sebagai Guru SD, Yaya mendambakan anak yang tidak lupa akan adat istiadatnya, anak yang bangga dengan Bahasa Maanyannya,anak yang sangat ramah dan apa adanya seperti mereka, dadaku sesak dan nafasku berat mendengar kalimat kalimat yang keluar apa adanya dari yaya. Aku terharu, dalam keterbatasan, ketidakberpendidikan dan kesederhanaan, yaya begitu ramah, baik tulus, jujur, dan polos. Dengan tulus beliau bilang bangga dengan aku, lama tak pulang kampung namun masih ingat semua tuturan, masih menurunkan keramahan mereka, masih menjaga bahasa leluhur. Aku tersenyum pahit, sangat pahit..o yaya aku tak seindah itu, kadang aku sebuah pribadi yang munafik, aku jauh dari “sesempurna” yang dibayangkan Yaya dan Busu, aku hanyalah sosok yang “sangat manusiawi”. Namun setidaknya Yaya….aku mungkin berusaha menjadi “sesempurna” bayangan kalian. Butuh proses memang.

Kini, diantara hujan bulir bulir bunga kesturi yang seputih salju….kulihat peti mati Busu dibawa menuju tempat peristirahatan terahir, di sebuah bukit sunyi yang disebut “wungkur Jala”. Selamat jalan Busu…….kenangan, cinta, kepedulian, semangat, empati dan kebaikanmu akan selalu hidup dalam sanubari kami.

Desa Pulau Padang, Desember 2009

David

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

3 thoughts on “Lepuh Ulun/Menghadiri Kenduri

  1. bagian akhir di Alm.Busu Ammah Yayang menyentuh…yup, sebagai anak Ma’anyan kita tidak boleh kehilangan akar ke-Ma’anyan-an itu…yg skg aq belajar tata juga hal tsb…apalagi kalo haut nikah campur alias beda suku…kalo masih Dayak lumayan, mun lain…

  2. Makam di Wungkur Jala itu di pinggir jalan, kah, sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s