PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Kenangan masa kecil anak Dayak

4 Comments

Kenangan itu muncul kembali Setiap tahun Ammah (ayah), sebagaimana keluarga Dayak Maanyan tahun 1980-an, membuat ladang yang luas, ditanam padi, jagung dan sayuran untuk tahun pertama, tahun kedua ditanam pisang, ubi ubian dan aneka sayuran dan tahun ketiga yang tersisa hanya tanaman karet yang akan dipelihara dengan sebaik baiknya, karena menurut Ammah di situlah masa depan saya. Saya protes keras, tidak pernah dalam impian saya untuk menggantungkan masa depan di pohon karet. Aku seorang pemimpi ayah….aku punya banyak cita cita, aku ingin naik pesawat, aku ingin makan kue kue enak, aku ingin pergi ke kota kota besar, aku ingin bertemu dengan orang dari berbagai belahan dunia, aku ingin ke ujung dunia, karena saat itu aku tidak percaya sama sekali bahwa bumi itu bulat, sangat tidak masuk akal (aku suka senyum sendiri kalo ingat “impian” saya waktu kecil). Biar punya cita cita yang “berbeda” dengan anak anak sebaya, aku tetap dapat tugas yang sama yaitu menjaga ladang, ketika orang tua punya “urusan penting”. Setahu saya urusan penting orang tua paling berkisar antara melayat orang meninggal, menghadiri undangan pernikahan dan acara lain, atau diwajibkan pemerintah orde baru untuk “pengarahan” di balai desa menjelang Pemilu agar memilih Partai “pendukung pemerintah” dan seterusnya, pokoknya kalau ada “urusan” maka kami anak anak di bawah umur jadi korban, harus ke ladang. Berhubung si hama bandel alias Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)gak peduli si empunya ladang ada “urusan” atau tidak, tetap saja berniat merusak ladang saban hari. Untuk menjaga ladang kami yang super luas itu, saya dan abang saya berbagi “wilayah kerja”, saya di sebelah barat yang menghadap lembah dan sungai, sedangkan abang saya di bagian timur yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Waktu itu koloni monyet ekor panjang memang banyak, dan entah bagaimana mereka bisa sepakat tentang “pembagian” wilayah kekuasaan, pokoknya as the result, sekoloni monyet seolah “berhak” merusak ladang bagian barat dan yang satu koloni lagi di bagian timur. Ladang bagian barat memang sangat subur, di sini tamanan ayah saya tumbuh subur mulai dari aneka sayuran, palawija, buah buahan dan tentu saja padi gunung atau dalam bahasa Dayaknya “parei lungkung”. Saya ingat tandan pisang “buhuk mariyang”, alias pisang termahal, terenak dan endemik Kalimantan menjuntai panjang dan besar. Ataupun tomat cherry (Gycopersicum esculentum Mill) yang bau daunnya benar benar tajam sangat lebat merah merona, sayur katuk tumbuh gemuk dan hijau, semuanya sayur organik, bebas pupuk organik maupun pestisida. Tempat favoritku terletak sebuah batang kayu Rurei atau Terap (Artocarpus sp ), kayu yang kira kira berdiameter 50 cm ini terletak di tengah ladang, terkulai di tanah karena ditebang saat pembukaan ladang, dengan cabang cabang yang besar, tempat aku duduk dan menaruh “bakatung” (sejenis ransel yang terbuat dari anyaman bamban/kulit perdu) yang di dalamnya berisi golok kecil, ketapel dan batu kerikil sebagai amunisi jika aku harus berhadapan dengan monyet ekor panjang alias warik dan monyet hitam alias weruk (Macaca pagensis). Pokoknya begitu mereka memasuki ladang kami, aku langsung menyatakan perang tanpa persetujuan DPR (he he). Monyet hitam dan monyet belanda atau bekantan (Nasalis larvatus)tidak terlalu bandel mereka masuk ladang hanya untuk mendapat makanan, kenyang dan dan pulang ke hutan. Monyet ekor panjang alias warik? Nanti dulu…ini monyet memang betul betul jahat, jahil, usil, iseng dan kurang ajar, makan tidak seberapa banyak tapi benar benar having fun dengan merusak semua tanaman, cabut sana sini, patahkan itu itu dan seterusnya. Koloni monyet ini dipimpin oleh seorang monyet jantan, yang kadang kadang nekat mengancam aku, untunglah ada Mas Bagyo, anjing hitam besarku, yang langsung menyerang jika monyet monyet itu berani mendekati tuan mudanya yang tampan ini he he Ketika “gencatan senjata” dengan musuh alias monyet monyet ini lagi tidak punya nyali untuk mengganggu ladang, aku selalu duduk di cabang pohon Rurei dengan banyak lamunan, kadang aku bicara sama Tuhan, memprotes sana sini, mengapa dulu menciptakan monyet dan hama hama pengganggu yang membuat saya dan anak anak sebaya harus “wajib militer” di usia sangat sangat dini menjaga ladang, kadang aku protes sama Tuhan mengapa hari mendung, sehingga aku tidak bisa menikmati awan putih berarak biru. Di batang pohon ini aku sering bicara sendiri, berbaring memandang langit biru. Aku anak kelas 2 SD, di sebuah SD kecil di dusun terpencil dengan guru guru lulusan SPG, yang hari demi hari hanya belajar reading-writing and counting. Sekolah di sekolah “pelayanan minimal” begini tak menghalangi aku, si bocah berpipi tembem, untuk mengukir mimpi dan cita cita setinggi langit, lha wong cuma mimpi kok ya setinggi tingginya lah, lagian aku tidak perlu malu, tidak ada orang lain yang tahu, hanya batang pohon Rurei, pohon pisang dan langit biru yang mendengar cita citaku. Monyet monyet di pinggir ladang? Aku sangat yakin mereka tidak mengerti masalah cita cita. Aku terlahir sebagai bocah yang lebih banyak berfikir bukan tangkas dan gesit sepeti abangku. Kepada Ineh (mama) dan Ammah (papa) aku bilang jangan samakan aku dengan abangku, abangku memang tipe pekerja, sementara aku tipe pemikir (padahal tidak jelas apa yang difikir he he). Singkat kata singkat cerita di batang pohon ini aku bicara sesuka hatiku, sepuas hatiku, dengan suara lirih atau keras, lepas, bebas, tanpa sensor, tanpa intimidasi dan tanpa ketakutan terjadi “grammatical error” he he. Sekarang terkadang aku iri dengan masa kecilku, penuh keceriaan, penuh mimpi, tanpa persoalan tanpa memikirkan hal hal yang berat. aku memang anak petani, tapi aku bukan anak fakir miskin atau peminta minta yang sering aku temui di Bogor, Jakarta atau Bandung. Aku bukan anak yang terancam kurang gizi. Ladang kami yang subur penuh buah buahan, sayur sayuran, padi yang wangi. Pun ketika kebuh buah buahan atau disebut “pulau” lagi berbuah, ada puluhan jenis buah di sana, manggis, rambutan Kalimantan atau “tanreket”, leycee Kalimantan atau “awiran” dan beberapa jenis durian (ada sekita 10 spesies, seperti papaken, maharawen, taitungan-pokoknya banyak-,manggis, langsat manis, dan puluhan jenis buah buhan lain. Sumber protein kami banyak sekali, tanpa harus membeli. Daging segar tersedia 2 kali seminggu-wawui, kakawe, parang, panaluk, termasuk ikan sungai yang besar besar dengan mudah didapatkan,dijebak, atau ditangkap, mau ikan segar? tinggal meriksa “wuwu” atau “tangakala”, (sebuah alat yang terbuat dari bambu dan digunakan untuk menjebak ikan). Memang aku tidak ingat apalah waktu itu aku ada uang atau tidak, tapi apa juga guna uang, credit card, debet card di tengah hutan belantara Kalimantan ini? Di ladang terpencil ini? He he Buah Favoritku waktu itu adalah taitungan (Durio borneensis), yaitu sejenis durian yang mempunyai duri yang panjang dan sangat tajam serta tidak mempunyai “ruangan yang teratur” dalam buahnya seperti kebanyakan durian, sehingga harus ditebas menggunakan golok untuk bisa mengambil dagingnya. Rasa buahnya sangat enak, dengan daging yang tebal, aroma durian yang tajam. Buah ini tersedia melimpah musimnya, sehingga aku dan abangku harus membawa ember besar sebagai tempat mengumpulkan daging duriannya dan akan dijadikan tempoyak. Tempoyak ini disimpan dalam stoples stoples kaca dan bisa bertahan sampai 6 bulan. Selain itu buah yang paling saya sukai buah damuran () atau sejenis salak hutan. Buah dan pohonnya memang mirip salak, namun biasanya tumbuh di daerah rawa rawa yang gelap, dan rasa buahnya berbeda dengan salak, damuran dagingnya lebih halus dan sangat manis. Suatu hari aku dengan membawa golok kecil dan “bakatung”, memasuk hutan damuran di dekat ladang. Buah damuran memang lagi banyak banyaknya, dan tanpa ketakutan dan banyak pertimbangan, dengan gagah berani aku masuk ke “hutan berduri” ini. Luar biasa, aku dengan mudah mendapatkan buah damuran di “hutan terlarang” ini. Disebut hutan terlarang karena tidak ada satupun orang tua mengijinkan anaknya untuk mendekati hutan ini, karena dikenal sebagi habitatnya ular “tadung mariyang” alias Tedung Merah, ular sejenis kobra ini, oleh orang tua tua jaman dulu dianggap ular “keramat” dengan bisa yang mematikan. Dihari yang bersejarah itu, aku benar benar berdiri dengan jarak 1 meter dengan ular “tadung mariyang” yang hanya aku dengar dari cerita cerita seram dan horror dari orang orang tua. Ular itu dalam posisi “setengah berdiri” atau posisi siap menyerang, atau paling tidak akan menyemburkan bisanya. Kakiku mendadak kaku, bibirku kelu, aku hanya bisa tetap berdiri dengan kondisi nyawa yang terancam. Orang tua dulu bilang, kalau ketemu ular “keramat” ini, walaupun tidak dipatuknya, ada kemungkinan akan meninggal 2-3 hari kemudian atau paling tidak sakit keras. Maka saat itu, aku hanya berfikir inilah ahir dari hidupku, aku tidak takut mati, namun aku tidak mau mati karena cita cita dan mimpi mimpiku banyak dan harus aku capai. Rupanya Tuhan berkehendak lain, pada detik berikutanya, si Tadung Mariyang nan berwibawa itu memutuskan untuk berpaling muka dan menyambar tupai merah yang kebetulan sama dengan aku yaitu sedang mencari buah damuran. Sejak kejadian itu sampai sekarang aku sangat phobia dengan buah “damuran”, suatu Phobia yang aneh dan susah dijelaskan dari sudut pandang ilmu psikologi, karena harusnya aku phobia ular tedung bukan phobia buah. Dibangku kuliah aku baru tahu, ulat tadung merah bukanlah sebuah species ular yang “keramat”, memang benar binatang itu sangat berbisa, dan jarang dijumpai, karena memang habitatnya di hutan yang gelap. Ular ini selalu jadi penghuni tetap hutan damuran atau salak hutan pada musim berbuah, karena mangsa utamanya adalah tupai, yang merupakan penggemar utama dari buah damuran. Sebenarnya ular ini sangat pemalu, dan hanya akan menyerang manusia ketika telornya terancam. Ular ini menjaga telornya dengan telaten dan rela kehilangan nyawanya demi menjaga telurnya. Lucunya ular ini akan meninggalkan telornya 1-2 hari sebelum anaknya lahir eh telornya menetas, artinya mereka tidak pernah bertemu anaknya. Si anak yang baru lahir dengan ukuran jari kelingking begitu keluar dari telornya langsung menjadi pribadi yang mandiri, pergi terpisah dengan saudara saudaranya, entah kemana dan mewujudkan impian apa, aku tidak bisa menduga lagi he he. Tahun 2011 Suatu hari di bulan Maret 2011, segera setelah mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, aku segera melanjutkan perjalanan ke kota Buntok, sebuah kota kecil ibu kota Kabupaten, tempat anak dan istriku tinggal. Perjalanan di tempuh dengan menggunakan travel mobil kijang Inova selama 4 jam melalu jalan yang sepi (Palangka Raya-Timpah-Kalahien-Buntok), jalan trans Kalteng ini baru di bangun beberapa tahun sebelumnya sehingga masih sepi dan jarang ada perkampungan. Rute ini aku tempuh nyaris tiap bulan sejak tahun 2010 ahir. Berawal dari Bogor ke Jakarta, terbang ke Palangka Raya, terus ke Buntok melalui jalan ini, seterusnya dari Buntok saya ke Samarinda, dari Samarinda ke Balikpapan, terbang ke Jakarta dan mayun di Bus Damri ke Bogor, begitulah bolak balik kayak sterikaan. Hari itu benar benar sial, mobil ban pecah di daerah padang ilalang antara Kampung Timpah dengan Lungkuh Layang. Ahirnya kami harus menepi dan mengganti ban. Sambil menunggu waktu aku nekat online menggunakan modem dengan kartu “merah”, modem ini pemberian temanku seorang peneliti hasil hutan dari Kupang, NTT. Aneh bin ajaib, sinyalnya penuh dan internetannya lancar. Pada saat itu seorang anak lewat, jantungku seakan berhenti berdetak, mukaku pias seketika. Lihatlah anak itu membawa golok kecil, sebuah “bakatung” dan ketapel beserta kerikil, mukanya bulat dengan pipi tembem, rambut kemerahan terbakar matahari. Anak ini persis aku hampir seperempat abad silam. Aku sapa dia dengan menggunakan bahas Dayak Ngaju dialek Kapuas (itulah hebatnya diriku menguasai 6 bahasa dunia-di kalteng, kalsel dan kaltim maksudnya he he). Namanya Penyang, kelas 3 SD umur 9 tahun dan mau ke ladang, menjaga ladang dari serangan monyet ekor panjang alias warik. Bener benar fotokopiku waktu kecil. Dia mau berhenti dan bercerita sebentar karena ingin melihat laptopku. Ku tawarkan roti “kartika Sari” pemberian temanku dari Bandung, untunglah dia tidak menolaknya. Saat aku tanya mimpi dan cita citanya. Persis sama dengan cita cita aku dulu. Betul betul pertemuan yang luar biasa. Saatnya kami berpisah, karena aku harus melanjutkan perjalanan ke Buntok, dan si kecil harus ke ladang, sendirian, dengan wajah ceria, menumbus jalan setapak di antara padang ilalang yang luas. Pergilan ke ladang dik, tapi tetap bermimpi dan berjuang…semoga cita citamu tercapai.

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

4 thoughts on “Kenangan masa kecil anak Dayak

  1. Coba sekali-kali na tulis dalam versi bahasa Maanyan akan bernilai plus dan melestarikan bahasa takam, terima kasih.

  2. Waktu SD hanyu puang sakula hang SD Pulau Padang lah, seandai ni naan inspirasi / kenangan tau nulis tentang Ammah / Kakah kami (dihang / almarhum) sebagai seorang guru yang sangat inspiratif. Awat nu bakesah, tuturan nu amat menarik. Atau kesah masa kecil keluarga naun sebelum pindah ma Betang Nalang, terima kasih.

  3. aku generasi lahir tahun 80 an, alias generasi betang asli…puang karasa inun2 cerita sahuan tahun aku lahir he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s