PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Mengenang mereka yang telah pergi

1 Comment

Mereka yang telah mendahului aku……..
Besok adalah hari ulang tahunku. Aku dilahirkan pada tanggal 10.10.1980 jam 10.10 WITA di sebuah dusun terpencil pedalaman Kalimantan Tengah. Makanya angka 10 seakan menjadi angka keramat bagi aku hingga pada saat ini. Dilahirkan sebagai anak Dayak Maanyan asli, aku diberi nama yang “aneh” yaitu “Suwito”, nama yang sampai sekarang diprotes teman temanku, karena aku bukan orang Jawa. Padahal penyandang nama Suwito bukan hanya orang Jawa tetapi juga orang Dayak dan warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
Aku lahir dan tumbuh menjadi bayi yang sehat, gemuk dan gemar menangis, di sebuah dusun kecil. Dusun ini terletak di pinggir jalan HPH yang berdebu. Tiap hari kami hanya melihat dan menonton, ratusan batang kayu kayu meranti yang berdiameter lebih dari 1 meter diangkut entah kemana. Kami tidak boleh protes, tidak boleh mempertanyakan kemana kayu kayu itu dibawa, karena pemilik perusahaannya adalah keluarga pak “Dia yang Tak Boleh Disebut”, bapak yang sangat dihormati sangat bapak pembangunan.
Aku tumbuh menjadi anak yang kritis, sering mengajukan pertanyaan yang “berbahaya” tentang eksploitasi hutan yang barbar itu. Tapi jawabannya sama, kayu ditebang untuk membangun negeri tercinta nusantara, dengan tujuan mewujudkan manusia yang adil dan makmur. Walaupun kemakmuran orang orang disekitar hutan meranti nan kaya raya itu tak masuk hitungan.

Saat ini, di kamar kosku yang terletak di lantai dua dengan pemadangan kota Bandung yang hiruk pikuk, sesaat aku termenung, merenungi arti 31 tahun perjalanan hidupku, suka duka, perjuangan penuh liku, keringat dan air mata, dan yang paling penting adalah penuh keajaiban!!, in GOD everything is possible…!. Saya bersyukur, apapun yang telah saya dapatkan saat ini, walau dengan sangat banyak kekurangan yang saya miliki.
Dalam ketermenungan, aku terkenang kepada mereka meraka yang telah mendahului aku….mereka yang pernah hadir dalam kehidupanku, dan terenggut dari kenangan, mereka yang harus mengahiri perjalanan hidup didunia ini, karena ajal telah menjemput.

Aku pertama kali mengenal arti kehilangan saat berumur 4 tahunan, saat itu saya mempunya sepupu yang umurnya hanya terpaut beberapa bulan dengan aku. Namanya Gatot (*lagi lagi mirip nama Jawa”), dia anak kakak tertua mamahku yang kami panggi Ammah Tueh Ammah Semek. Ammah Tueh ini, selain seorang petani ulung dan penyadap karet juga paranormal yang paling terkenal di daerah kami (*jadi aku masih ada keturunan paranormal). Setiap hari, rumah Ammah Tueh yang terletak di Desa Pulau Padang, sangat banyak dikunjungi orang untuk meminta “bantuan”, yang paling sering adalah minta kesembuhan, ada beberapa kasus minta agar suami/istri menjadi setia, ada yang minta “dimudahkan” jodoh. Pokoknya rumah Ammah Tueh selalu penuh dengan tamu tamu dari berbagai penjuru. Kembali ke Gatot, sepupuku sekaligus anak paranormal nan terkenal itu, tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, gemuk, suka memimpin, pemberani dan sangat egois dan tidak mau mengalah (*aku biasa salah satu korbannya).
Saat itu semua keluarga besar dari Ineh (mamah) berkumpul di rumah Ineh Tueh, atau kakak mamahku yang lain (adiknya papah Gatot) karena ada acara keluarga, aku lupa acara apa, yang pasti ada memotong beberapa ekor iwek dan puluhan ekor ayam kampung. Gatot sangat dominan dan egois, dia meminta potongan daging bakar terbesar, dia harus pertama membuka dan memakan durian papaken nan kuning tebal itu, anehnya aku gak protes, dan rela mengalah. Setelah kekenyangan kami duduk di sebuah batang kayu yang membujur membelah ladang Inneh tueh. Saat itu Gatot, menanyakan kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi apa?, dan aku jawab dengan sangat yakin, aku ingin menjadi sopir logging truk yang mengangkut kayu meranti yang besar.
“Aku tidak ingin jadi siapa siapa, walapun ingin, juga tak ada gunanya, aku tahu..tak lama lagi aku pergi, pergi ke suatu tempat baru, dimana aku harus mengawali semuanya dari awal, tanpa siapa siapa” kata Gatot dengan mata menerawang. Saat itu aku tidak terlalu mengerti, sebagai anak umur 4,5 tahun, mungkin aku tak secerdas Gatot dalam mencerna kata kata, namun yang aku tahu, mukanya benar benar sedih tak berujung…..

Keesok harinya, Ineh berkata bahwa hari ini kami harus ke Pulau Padang, tempat Ammah Tueh karena Gatot telah meninggal dunia tadi malam. Aku terhenyak, aku kalut, aku bingung, itu saat pertama aku mendengar kata “kematian”. Sebuah kata yang tidak bisa aku definisikan dengan tepat. Kakak Sepupuku, Keye, yang berumur 7 tahun mendefinisikan “mati” adalah tidur dan tidak bangun lagi, sehingga badannya harus dikubur dan rohnya telah pergi kea lam lain seperti angin. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa arti kehilangan. Aku tak menangis. Aku hanya diam terpaku, melihat jenazah Gatot yang gemuk itu dimasukkan ke dalam peti mati yang terbuat dari kayu gaharu. Wajahnya sperti tidur, senyumnya masih ada…dan sesaat kemudian dia dibawa ke ujung kampung, tempat pekuburan orang Kaharingan, dalam senyum dan sepinya, dalam kesendiriannya, dia dikubur..dikubur!….sungguh menakutkan. Saat ini Gatot mungkin dilupakan oleh sepupu sepupu yang lain, tapi masih hidup dalam sanubariku..masih jelas tawa riang dan lompatan tingginya saat mandi di sungai patangkep…sudah 26 tahunan….Gatot masih ada di sini. Di sanubari yang terdalam. Dalam kenangan getir dan kelabu. Satu hal yang tidak bisa aku lakukan adalah membayangkan bagaimana kalau dia masih hidup sampai sekarang, akan kah kami akan berdiskusi membahas isu isu politik dan lingkungan? Ataukah curhat masalah keluarga masing masing?. Aku tak bisa membayangkan seperti itu, yang ada di benakku adalah Gatot kecil, hitam manis dan gemuk, lincah dan dominan. Saat ini, aku tahu Gatot sudah bahagia di alam sana.

Kehilangan kedua adalah ketika teman sebangku SMPku meninggal dunia. Namanya “Manduh”, berasal dari desa sebelah yang disebut “DESA MATARAH”,namanya yang lebih dayak dari aku, dengan pipi yang tembem dan mata yang bulat dan bersinar. Manduh adalah orang yang periang, selalu bersiul siul dan hidup tanpa beban. Pun bila mendapat kesulitan dalam pelajaran, dia selalu riang dan tanpa beban, beda dengan aku yang cenderung mudah stress. Hal paling saya ingat adalah bahwa Mandoh tidak pernah khawatir akan segala sesuatu. Dia percaya bahwa segala sesuatunya ada yang mengatur. Yang paling saya ingat perkataannya adalah “Tertawalah dan bergembiralah….buatlah orang lain juga bergembira dan bersuka cita, karena hidup kita singkat, jangan pernah ada air mata”. Setamat SMP, kami memilih sekolah yang berbeda, dia memilih sekolah di SMK Pertanian, sementara aku ke SMU.

Tiga bulan pertama di SMU, aku ketemu Mandoh sebuah acara, tawanya masih riang seperti dulu, badannya semakin tinggi, setelah ngobrol panjang lebar, satu hal yang aku ingat dia katakan malam itu. “Vid…..entah mengapa, aku merasa dunia ini seakan semakin asing, seolah aku tak cocok lagi di sini, hatiku berdebar debar, seolah ada yang akan menjemput aku, untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak aku kenal”, aku terhenyak, dan dengan bercanda aku katakana bahwa dia korban sinetron murahan, tapi oh Tuhan…mukanya serius, dan muka serius itu baru aku lihat untuk pertama dan terahir kalinya.

Seminggu kemudian firasat buruk itu terbukti, Mandoh meninggal dunia dengan tenang. Sekali lagi aku terpukul, aku tak sanggup secara mental untuk melihat dia untuk terahir kalinya. Aku hanya berdoa, agar dia dapat kebahagian abadi di sorga.

Itu hanya 2 dari teman dekat aku yang telah pergi untuk selama lamanya. Saat ulang tahunku ini, aku masih ingin mengenang mereka.

Kini, waktu menunjukkan pukul 20. 48, beberapa jam lagi ulang tahunku ke 31. Aku ingin bersujud dan bersyukur kepada Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Atau kesehatan, atau kebahagian, atas penyertaan dan mujizat mujizat nyata yang telah aku terima hingga pada saat ini. Dalam segala kekuranganku, aku boleh memilik pekerjaan, aku memilikin anak istri yang sangat mencintai dan aku cintai, aku punya keluarga besar yang saling mengasihi, aku punya pekerjaan sederhana sebagai jalan untuk mendapat rejeki, aku punya banyak teman saling berbagi dan menguatkan. Terima Kasih ya Allah…aku percaya mujizatnya-Mu akan terus mengikuti langkahku, aku percaya rencana-MU selalu indah. Aku ingin seperti Bunda Maria yang penuh iman berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut Kehendak-Mu” atau seperti Mother Teresha “ hidup dalam kasih dan mengasihi…melayani Tuhan melalui sesame, orang orang yang kelaparan dan terbuang…., cinta tak pernah habis..cinta adalah segalanya”

“Tuhanlah Gembalaku, aku terjamin selalu…meskipun di dalam gulita, akupun tak gantar, karena Tuhanku selalu…membimbing jalanku”

Terima Kasih Tuhan

Bandung 09.10.2010

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

One thought on “Mengenang mereka yang telah pergi

  1. Woow Vid …., suatu saat die hanyu tau jari penulis teka dayak ma’anyan sa luar biasa …, maju tarus …, Salam kenal & Tuhan Yesus Memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s