PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Hidupku Yang Ajaib

4 Comments

April …1986

Angin sepoi musim kemarau menerpa tubuh mungilku yang duduk bertelanjang dada di beranda depan pondok kami di ladang. Bau padi  yang baru dipanen aku hirup sedalam dalamnya, ada wangi kehidupan di sana, ada harapan dan kegembiraan dalam bulir bulir padi keemasan itu. Hari ini adalah hari terahir bagi kami dalam memanen padi (masi), padi masih bertumpuk bersama tangkainya. Mulai besok  Ammah (Ayah), abang Joko dan aku yang berumur  5 tahunan ini akan merontokkan dan memisahkan bulir padi dari tangkainya yang dalam bahasa Dayak Maanyan disebut “maureh”. Padi ditumpuk diatas wadah dr ayaman bambu yang tidak terlalu rapat, diletakkan pada sebuah panggung yang tingginya sekita 1,5 meter dari tanah, diacak acak dan diayak dengan kaki. Di bawahnya, dihampar tikar pandan atau “patah anihing” untuk menampung bulir bulir padi yang jatuh.

Ladang kami sangat luas, daerah ini disebut dengan “waluh papuan” yang letaknya sekitar 2 Km dari rumah kami di Dusun. Tepat di tengah ladang terdapat pondok kami, besar, tinggi, berlantai bambu, berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia. Pondok ini sangat tinggi karena lantai bawah dijadikan lumbung padi atau “karangking” parei, lantai atas buat kami istriahat dan tidur, terus ada bangunan samping buat dapur dan tempat makan, bangunan samping lagi diperuntuk sebagai tempat penyimpanan alat alat perladangan (tikar, parang, wadiung/beliung, lanjung, dahuru, patah, dan lain sebagainya). Di depan ada beranda juga, kami gunakan untuk bersantai sekaligus tempat pemantauan terhadap Gangguan, Hambatan, Tantangan dan Ancaman (he he he) bagi ladang kami nan luas ini, semisal gerombolan monyet ekor panjang, monyet ekor hitam, burung pipit merah yang jumlahnya bisa ribuan, serta babi hutan yang nekad, semua terpantau oleh aku- si bocah 5 tahun yang punya sebuah ketapel dan sebakul batu kerikil sebagai amunisi-dengan seksama. Saking waspadanya aku, kadang ada juga terpantau bocah bocah dari kampung sebelah (Pulau Padang) nekad mencuri semangka dan tebu yang memang bergelimpangan di bagian timur ladang.

Ladang kami ini sangat luas, sudah 3 tahun kami berladang di sini, ladang tahun pertama sekarang sudah menjadi kebun pisang dan karet yang terhampar luas di sebelah utara, ladang tahun kedua sekarang jadi kebun sayur mayur, ada puluhan sayuran tropis tumbuh subur di sana, terong belang, tomat, katuk, singkong, gambas, pare, keladi, dan banyak lagi, sedangkan ladang tahun ketiga di sebelah selatan yang hari ini adalah hari terahir panen padi, tersisa jerami yang kuning keputihan. Walau belum sekolah (aku akan masuk kelas I SD Inpres bulan Juli mendatang..horayyyyyyyy…), aku udah tahu mana Timur, Barat Utara dan Selatan loh…Timur tempat matahari terbit, lalu lawannya adalah Barat, ketika berdiri membelakangi matahari terbit daerah tangan kiri saya adalah Selatan, dan daerah tangan kanan adalah Utara, itu aku dengar dari pelajaran kakakku perempuan yang bersekolah kelas 5 SD di Desa Matarah, desa yang terletak 4 Km dari rumah, yang artinya kakak saya harus jalan kaki minimal 8 km/hari jika ingin bersekolah. Aku sendiri sudah sangat sangat ingin bersekolah, aku lihat abang Joko yang sudah kelas 2 SD sudah pintar menghitung harga pisang hasil penjualan Ineh (mamah), dia juga dengan sigap merekap hasil penjualan jamur kecil (kulat tarisip), aku terkagum kagum dengan kemampuannya menghitung lembaran uang seratus rupiah warna merah laksana bunga papaken (durian khas Kalimantan), aku iri dengan kemampuannya menulis nama sendiri  dengan arang di dinding pondok kami yang terbuat dari kulit kayu rurei (sejenis kayu berkulit tebal dan liat, pohon dari genus Artocarpus). Sementara aku? Hanya akan…sekali lagi AKAN!, akan bersekolah bulan Juli nanti, kemarin Inehku sudah “mendaftar” dengan Pak Wahatin Siuk (Ammah Kris) sebagai Kepala Sekolah dan orang sangat terhormat dan berpendidikan di Dusun kami yang kecil dan terpencil itu.

Sore ini, aku bersantai saja…dengan perut buncit karena kekenyangan setelah makan sebanyak banyaknya dengan menu burung punai yang dimasak dengan sulur keladi plus nasi dari beras baru yang harum wangi. Aku duduk termangu, termenung dan bernafas lega karena hasil panen padi kami tahun ini sangat sangat banyak, buktinya lumbung padi di bawah pondok tidak mampu lagi menampungnya. Aku tersenyum melihat daun daun karet yang gugur, menjelang musim kemarau pohon karet daunnya akan memerah dan meranggas, daun daun merah itu gugur dengan indah laksana hujan daun dari langit. Aku terbayang dengan bunyi buku cerita abangku tentang musim gugur di negari Belanda, ada gambar anak kecil bule berlarian dengan riang di antara hamparan daun maple yang gugur di musim gugur.

Aku ingin cepat bersekolah, aku ingin cepat bisa membaca dan membaca banyak buku cerita tentang musim gugur dan musim salju di negeri-yang aku anggap waktu itu-adalah negeri dongeng, toh aku udah tau 26 huruf latin walau sering dengan enteng ketukaran huruf O dan U serta -P dengan -V, aku sudah tahu bentuk bentuk angka dari angka 1 sampai 10 (heran ya? Kok diajarkan dari 1-10 bukan dari 0-9?). Aku tidak membayangkan sekolah tinggi dan jauh, cukup sekolah bisa membaca, menulis dan berhitung itu sudah luar biasa, apalagi kemarin aku menyimak pembiacaraan ayah dengan Ammah Rundun-rekan gaul ayah, sesama petani dan peladang- bahwa kami hanyalah anak peladang, tidak akan dan tidak mungkin sekolah tinggi setingginya, aku hanya diam, pasrah dan menganggap itulah kehidupanku.

………………………………………………………

Minggu, 9 September 2012

Aku berlari kecil diantara pohon mample yang daunnya sudah mulai tidak hijau lagi, pertanda summer akan segera berahir-sepulang dari Misa di gereja santo Bonafatius, Leeuwarden , Belanda.  Sudah hampir 3 minggu aku terdampat di sini, di sebuah kota ibu kota propinsi Friesland, bagian Utara Belanda yang terkenal dengan produk pertanian dan peternakannnya.  Aku tarik sweaterku sampai menutupi leher,  gerimis mulai turun, sehingga suhu udara hanya sekitar 14 derajat celcius-suhu yang sangat nyaman buat orang Eropa dan sangat tidak nyaman buat orang dari daerah garis katulististiwa seperti aku.

Sekali kali orang belanda tersenyum dan menyapa, sementara aku sibuk menguyah kue panekoek, kue khas Belanda yang rasanya enak sekali, yang boleh diambil sebanyak banyaknya di depan gereja seusai misa tadi. Sudah 2 minggu ini aku ikut misa dalam bahasa Belanda, karena tidak ada misa (Sunday mass), dalam bahasa Inggris atau Spanyol. Alhasil, selama khotbah berlangsung dari Uskup Groningen-Leuwarden-Mrg. Gerardus, aku hanya bisa melongo indah tidak mengerti apa apa.

Melihat pohon maple yang daunnya mulai berubah menjadi merah, serta hamparan ladang gandung yang sudah menguning, tiba tiba aku teringat pada kejadian puluhan tahun silam, saat aku bocah kecil yang bertelanjang dada, hanya menatap hampa hamparan jerami padi kami yang habis dipanen dan pohon karet yang berdaun merah dan mulai gugur. Mataku tiba tiba berkaca kaca, kini aku di sini sekarang, sebuah negeri  yang aku anggap sebagai negeri dongen saat aku berumur 5 tahun, kini aku berlari kecil men yusuri trotooar di pinggiran kanal yang bersih. Aku juga tidak bisa memahami  sebuah misteri Ilahi, bagaimana mungkin aku bisa di Eropa yang jelas jelas sesuatu yang sangat sangat tidak mungkin jika dilihat dari sudut pandangku sebagai bocah 5 tahunan dulu.

Gerimis sudah menghilang, aku mencoba duduk di bawah bangku di bawah pohon maple. Burung gagak hitam berkeliaran mencari makan di dekat kakiku, aku tersenyum menatap langit. Kini aku di sini!, sebuah tempat yang tidak pernah aku mimpikan dalam hidupku, kini aku bisa sekolah-yang bagi aku- sudah cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari yang aku bayangkan ketika bocah, yaitu sekolah agar bisa berhitung dan menjual pisang dan jamur, bisa menulis dan mencoret dinding pondok kami dengan arang.  Hatiku bergerumuh, terima kasih ya Allah atas keajaiban ini, terima kasih ya Tuhan atas cinta dan anugerahmu, terima kasih ya Tuhan atas kehidupan ini. Dahan maple terus bergoyang, anggun, lembut, dibelai angin ahir musim panas, aku tiba tiba sangat merindukan anakku-Joseph-yang berumur 2 tahun dan lagi sangat sangat lucu, aku rindu akan istriku yang selalu mencintaiku sebagaimana adanya, yang selalu menenangkan jiwaku, aku kangen pada wajah tua ammah dan inneh (ayah dan ibu) yang sejak puluhan tahun lalu berkerja keras di ladang agar kami bisa hidup. Perlahan butir butir bening jatuh dari sudut mataku………..

Aku beranjak pergi menuju rumah sewaan kami…..aku diam…..gundah..resah….dalam rindu dan haru yang tak bertepi…..

 

 

 

Leeuwarden, The Netherlands

 

September 2012-09-12

David

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

4 thoughts on “Hidupku Yang Ajaib

  1. Aku uma berkaca-kaca mambaca kisahnu. Saitungen jua sadi tiap kariwe ayak mamah pi ume, mulai teka ipandruk, muaw, namal puawan daya jarang tuu anak pareini, nyawah, masi, bulu taakhir ajajap.
    Aku turut bangga baya hanyu, sa tau berkarya hang level nasional, dan meneruskan pendidikan pi Belanda.
    Selamat dan sukses tarus. Tuhan Yesus memberkati

  2. Terima Kasih…Tiada yang Mustahil bagi Allah

  3. Kaka,,,boleh ulun pinta alamat akun kaka,,,wawey hamen belajar bahasa dayak maanyan,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s