PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Wadian Bawo

6 Comments

Agustus 1986….

Aku seorang bocah kecil, berkulit legam, dan berambut hitam kemerahan, mengenakan sepasang sandal jepit tertali biru merk Swalow, berlari lari kecil mengejar langkah langkah panjang Ineh Tueh(kakak kandungnya mamahku) menyusuri jalan desa yang berdebu tebal. Hari ini saya dan Inneh pergi ke rumah  Ammah Cubit di ujung desa, karena mereka akan ada pekerjaan penting  harus dikerjakan dan perlu bantuan. Hari ini  Ammah Cubit sedang  menyelenggarkan siawet. Siawet adalah serangkaian kegiatan yang diorganisasikan dengan baik, dalam rangka menyiapkan keperluan untuk Belian. Siawet pada dasarnya terdiri dari acara membuat bermacam macam jenis kue yang akan dijadikan sesajen, membuat dan menyiapkan aksesoris dan segala perlengkapan yang diperlukan untuk belian.

Kenapa belian? Waktu itu kebanyakan orang di kampung menganut kepercayaan asli yang percaya bahwa semua penyakit ada obatnya dan bisa disembuhkan tergantung pada bagaimana dan apa saja upaya “healing” itu sendiri. Belian atau wadian adalah bentuk ritual pengobatan, pengusiran roh jahat, pengusiran penyakit dan pembayaran “nazar”. Dalam kasus ini Ammah Cubit menyelenggarkan wadian demi kesembuhan mertuanya yang sudah sebulan ini terbaring sakit tak kunjung sembuh juga. Wadian itu ada jenis dan tingkatannya, namun wadian yang akan dilaksanakan nanti malam adalah “Iruang Wundrung” suatu jenis ritual belian yang paling tinggi, merupakan kombinasi dari wadian bawo dan wadian dadas. Wadian ini dikepalai oleh seorang wadian yang sakti mandraguna sekaligus pemegang gelang bawo yang keramat, belian yang disebut “wadian pamungkur” ini akan menjadi bintang utama dalam ritual wadian secara keseluruhan.

Bersama anak anak sebaya, aku duduk manis di atas bangku kayu, melihat Ineh Tueh membantu orang membuat kue kue yang akan dijadikan sesajen. Otak seorang anak umur  5 tahun seperti aku tidak mampu merekam sedemikian banyak dan rumitnya jenis kue kue itu. Ada bermacam nama mulai dari pasike (sejenis lemang, beras ketan dimasak dalam batang bambu dan diberi santan), katupat wurung, katupat jagau, katupat urang, wajik, tangkurak batu, susur, bubur putih, bubur habang, dan deretan lain yang tidak bisa aku ingat lagi, banyak bentuk dan cara mengolah namun bahan dasarnya pasti beras, tepung beras, tepung ketan, nasi ketan, kelapa, dan gula merah. Semua sesajen ini akan dihitung secara teliti, disusun rapi dalam sebuah keranjang pendek dan besar dari bambu yang disenut dengan “ancak”, dan akan digantung di tengah rumah pada ritual wadian.

Aku si bocah kecil nan tembem, tidak terlalu mengerti akan semua jenis sesajen dan belian, aku duduk di bangku, menatap ratusan truck logging aneka warna melintas dusun kami membawa kayu bulat dengan diameter kebanyakan di atas 1 meter, berbagai jenis kayu hutan alam (hutan produksi dan hutan produksi terbatas)  bernilai komersial tinggi diangkut. Aku hanya menatap hampa batang batang kayu dari family Dipterocarpaceae itu diangkut entah ke mana, tidak ada yang tahu terlalu banyak karena perusahaan HPH superbesar itu  milik saudara tiri “DIA YANG TIDAK BOLEH DISEBUT”, dan berkolaborasi dengan pengusaha besar masih orang dekat “KAU TAHU SIAPA”.

Dusun Betang Nalong, tempat aku lahir dan dibesarkan adalah sebuah dusun kecil yang terletak di pinggir jalan HPH yang sangat besar. Selain dapat debu yang tebal dari jalanan HPH, dusun ini adalah dusun terindah yang pernah aku kenal. Sebuah tempat dimana aku bisa menikmati embun pagi dalam kesahajaannya, dimana aku bisa merasakan kebahagian tanpa harus memiliki banyak uang, di mana aku bisa memandang belantara hijau yang ramah, tempat aku melihat binatang liar, dan burung burung  selalu riang menyambut surya.

Pandanganku terhenti, sebuah mobil Hardtop berhenti, ada orang aneh keluar dari sana, benar benar aneh, tubuhnya luar biasa tinggi, hidup mancung dan kemerahan persis monyet merah yang kami sebut dengan “bekantan”, rambutnya? Ha ha ha persis jerami padi di ladang..putih keruh kemerahan. Dia menenteng  sebuah kamera bagus yang kami sebut sebagai “tustel”, lebih lucu lagi dengan bahasa Indonesianya yang aneh, aku bingung, orang darimanakah ini? Mengapa aneh? Apakah dia terserang penyakit?. Si bule itu, bersama istrinya, ikut bergabung ke acara siawet, memotret segala sesuatu dengan teliti. Aku melihatnya dengan kagum. Si Orang Buler aneh ini ternyata orang belanda, yang lagi bantu bantu kegiatan sebuah gereja di Desa Lalap, desa berjarak 12 km dari Dusunku. Aku terfana dengan kilatan bliz yang laksana kilatan petir dari kameranya, jauh lebih hebat daripada kamera kamera foto biasa yang aku lihat.

Tiba tiba si Bule yang kata mereka orang  Belanda itu tertarik melihat aku, si anak dayak berkulit legam, berambut kemerahan, dan terkadang bicara sendiri he he. Dia membidik kemeranya dengan hati hati ke arahku. Aku hanya bisa berdiam, pasrah dan tetap pada posisi semula. Dia datang mendekatiku yang tetap duduk di bangku kayu dengan angkuh, sementara teman sebayaku memilih kabur. Si bule dengan ramah menanyakan namaku, memberi sepotong cokelat kecil, berbasa basi dengan ramah menggunakan bahasa Indonesia yang aneh. Satu percakapan terahir yang saya ingat adalah “ kamu harus suka melihat wadian bawo, semoga suatu saat nanti kamu menari wadian bawo di negara saya yang sangaaaaaaat jauh yaitu Belanda”. Aku tertawa dalam hati, harapan yang sangat aneh dan tidak masuk akal pada seorang bocah yang baru sebulan masuk sekolah Dasar di Dusun terpencil. Menari wadian bawo? Tidak mungkin!, hanya Busu Ammah Gantar yang sakti mandraguna itu bisa melakukannya, meliukkan badan, menghentak kaki, seiring dengan bunyi kangkanung dan gemericing gelang bawo? lebih tidak mungkin lagi jika di Belanda? Sejauh apa tempat itu dari Dusun pedalaman Kalimantan ini? Yang bisa aku bayangkan, pasti negara  Belanda itu berisi orang bertubuh aneh seperti bapak ini. Aku tertawa dalam hati, dan tetap pada keyakinanku bahwa itu adalah harapan basa basi yang TIDAK AKAN MUNGKIN TERJADI…..siapakah aku? Anak petani karet di Dusun terpencil, tidak ada bayangan akan pergi jauh dan menari wadian bawo.

27 Desember 2012

Arnhem, The Netherlands,

Winter……

Aku berjalan pelan dari ruang ganti, tubuh tambunku kini telanjang dada, hanya berkalung “taring wawui”, badan digores dengan kapur sirih, kepalaku tertutup lawung berwarna kuning, tanganku memegang daun lawang dan “tatungkau’ dari janur kuning, tanpa alas kaki, mengikuti langkah Kak Rachma di depan membawa “tadamuan dan tatungkau”, dibelakang aku ada Emilus pemuda Dayak membawa mandau, Ryan, Karin, Anna, Alex dan anaknya, Nuki, Leni, Daniella berjalan beriring di ikuti pandangan beratus ratus pasang mata bule yang berdecak kagum, di antara hujan kilatan bliz laksana  petir menuju panggung pembukaan acara. Ya! Hari ini, di sini, di Burger Zoo, sebuah kawasan maha luas (45 ha) yang dibuat dalam rumah kaca besar, sehingga beriklim tropis di musim dingin yang suhu udara selalu berada dekat titik beku. Ya aku di sini!, di sebuah kota bernama Arnhem, Belanda, aku tidak tahu apakah harapan orang bule 25 tahun silam yang tercapai? Ataukah itu sebuah kutukan? Ataukah memang takdirku sebagai  pemuda dayak yang terjadi, yang pasti di sini saat ini, aku akan jadi “wadian pamungkur” dalam acara Iruang wundrung, kombinasi wadian dadas dan bawo jauh dari Dusun Betang   Nalong yang selalu aku rindukan. Aku di sini!, berjalan menuju panggung, di mana ribuan orang telah menanti, aku tidak merasakan apa apa. Kaki kaki lemahku ikut terus maju bersama denting bunyi kangkanung dan agung bertalu talu.

Acara dimulai, Karin, Leni, Anna dan Daniella berperan sebagai wadian dadas berdiri di belakang, sebelah kiri ada Emilus dengan mandaunya yang berkilat, sebelah kanan ada Ryan juga bersiaga dengan mandaunya, kak Rachma menjadi “manung wadian” maju pertama membawa tadamuan dan tatungkau. Kini saatnya, aku harus bisa!, akan aku genapi takdir ini, akan aku genapi harapan dan “kutukan “ dari Bule Belanda iseng 25 tahun silam. Aku  harus bisa, aku pemuda Dayak yang berdarah biru, dibesarkan oleh alam Kalimantan, harus bisa memperkenalkan betapa indahnya budaya kalimantan, di hadapan orang Eropa yang aku anggap manusia aneh 25 tahun silam.  Musik mengalun, sesaat aku pejamkan mata, aku biarkan musik Dayak Maanyan yang dinamis, mistis, dan misterius itu menuntun kaki kakiku, membawa tangan tanganku, meliukan tubuhku sebagaimana seharusnya wadian bawo bergerak, aku seolah sakti menyamakan Busu Ammah Gantar, wadian pamungkur paling terkenal di daerah kami.  Sesaat kemudian, anganku pergi jauh…melayang bersama bintang….kembali menembus ruang dan waktu.. kembali ke tahun 1986, kembali ke sebuah dusun yang indah dan damai, udara tropis memenuhi hidungku, bunyi burung burung diatas pohon juga terdengar. Perlahan, aku merasakan kedamaian, yang tidak pernah bisa aku jelaskan dengan kata kata. Semua terjadi begitu saja. Mengalir.

Tiba tiba aku teringat kembali, Dusunku yang aku cintai dulu, kini sudah berubah…sudah maju namun tak memiliki keindahan alami dulu, tambang tambang batu bara memperkosa segalanya. Meluluh lantak alam dengan keserakahan yang tak berujung. Aku tiba tiba marah!, aku murka!, aku sedih! Aku mengutuk diri….aku ingin Dusunku tetap indah seperti dulu!

Perlahan musik berubah, kini tarian Mandau Dayak Kalbar yang harus ditampilkan, kini aku bawa semua emosi dalam perang mandau dengan Emilius, pemuda Dayak Kanayatn,Kalbar yang juga sama seperti aku, anak Dayak mengapai mimpi yang nyaris tak mungkin, yang berperan sebagai “musuh”ku, seiring dengan musik yang misterius, aku salurkan emosi diri lewat sabetan mandau yang berkilatan, mata yang awas dan tajam, teriakan yang penuh kekuatan. Aku ingin, seperti ini di depan para pengusaha batu bara dan pejabat yang serakah, aku ingin beteriak dengan mandau di tangan! JANGAN!!  JANGAN KAU RUSAK KAMPUNG HALAMANKU!…

Sesaat musik berahir..aku terpaku..dingin..hampa…

 (Photo by Eko Harsono)Image

 1 Januari 2012

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

6 thoughts on “Wadian Bawo

  1. LUAR BIASA. SELAMAT TAHUN BARU. SUKSES SELALU.GBU.

  2. Terima Kasih kak Mawan…

  3. DIA YANG TIDAK BOLEH DISEBUT…
    itu Voldermouth kan?

  4. ina david betang kh??? kataru aku???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s