PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

JODOH DAN PERJODOHAN

Leave a comment

JODOH (catatan dari Mantan Pak Comblang)

Saya sendiri tidak bisa mendefinisikan jodoh secara universal bagi semua kalangan, yang saya maksud di sini adalah mendapatkan pasangan hidup yang kemudian mengikat diri dalam sebuah komitmen dalam pernikahan (definisi absurd juga sih, kalau orang yang tidak beragama dan tidak percaya sama pernikahan tapi mendapat teman kumpul kebo yang setia dalam suka dan duka namanya apa ya?), pokoknya pake definisi serampangan saya ya? Jodoh = pasangan hidup yang terikat dalam ikatan pernikahan he he.

Jodoh adalah misteri Ilahi? Ya..saya sangat setuju dengan kalimat ini, ketika saya sendiri tidak bisa menemukan kolerasi baik positif dan negatif antara salah satu parameter kehidupan dengan cepat atau lambatnya orang menemukan jodoh, benar benar tidak dapat!

Konon orang rupawan cepat dapat jodoh, tapi penelitian saya juga tidak mendapat kolerasi positif apapun antara tampang dengan jodoh. Yang sekedar naksir, menggoda, pengen jadi pacar atau iseng banyak kali ya? Namanya juga orang cakep, tapi urusan menikah nanti dulu.  Banyak faktor juga sih, bisa jadi si rupawan memang mencari yang sesama rupawan, atau punya standar tertentu. Wajar dan manusiawi banget sih, namanya potensi ya hak semua orang untuk mempergunakannya bagi kehidupannya yang lebih baik. Di satu sisi, ada yang jauh dari rupawan, tapi ada aja orang mendekati dan mengajak hidup menikah, dan mereka hidup bahagia selamanya, bingung kan?

Pakai parameter lain, juga sami mawon : tingkat pendidikan, kekayaan dan kelas sosial juga tidak ada hubungannya dengan mudah tidaknya seseorang yang mencari jodoh. Sebagai seorang pria yang paling lambat menikah di antara teman sekelas SD ini, saya benar benar melihat bahwa parameter ini benar benar tidak berkolerasi.

Kembali ke saya sih, saya menikah pada umur 28 tahun!, dari kami 7 bersaudara ada satu yang nikah di umur 19 tahun, 4 orang saat berkepala 2 dan 2 orang saat berkepala 3 awal (masih di bawah 35 sih), kebetulan tidak satupun yang memilih jalan hidup jadi biarawan/biarawati, dan sekarang sudah menikah semua dan hidup bahagia dengan keluarga masing masing.

Saat ini teman teman saya juga beraneka ragam ya? Yang menikah umur 19-20 tahun sudah punya anak SMP, yang lain masih punya anak SD atau anak TK seperti saya, atau malah belum punya anak, yang belum nikah? Banyak juga sih, padahal apa juga kurang mereka banyak yang udah S1, S2 bahkan S3, cantik dan ganteng, pengen banget menikah dan punya pekerjaan mapan, mulai dari dokter, apoteker, PNS eselon sekian dan seterusnya.

Nah, jadi ceritanya saya juga punya Biro Jodoh tanpa badan hukum dan akta notaris gitu, namanya Biro Jodoh “Kasih Putih”, terinspirasi lagu Glenn Fredly yang kemudian malah cerai dengan Dewi Sandra (Lho?). Misinya sih, hanya mengenalkan teman saya ke teman saya, yang saya kenal baik ke teman yang lain, maklum antena pertemanan saya cukup tinggi lintas sektoral eh agama, suku, budaya dan bangsa (*cieleee…)

Banyak juga sih yang jadi jodoh (maaf saya tidak akan menyebutkan di sini nama pernama ha ha ha, sorry bagi yang merasa), saya totalkan ada sekitar 15 pasang yang sampai menikah dan hidup bhagia sampai sekarang, angka ini masuk tinggi kan? Mana saya melakukannya tanpa tarif apapun hanya demi apa ya namanya? Bilang demi pahala kok ngarep banget ya? Udah berkat Tuhan juga sangat berlimpah dalam hidup ini, mau minta apa lagi, pokoknya saya ikhlas aja ah, senang lihat teman ahirnya bahagia dalam keluarga.

Metode biro jodoh saya sih serius tapi santai, kalau orang udah mapan (biasanya udah sarjana/diploma) dan udah punya pekerjaan tetap baik pria maupun wanita, dan memang straight dan sangat ingin membangun rumah tangga, dan bersedia bekerja di bawah tekanan eh bersedia untuk dicariin jodoh, biasanya saya minta kriterianya kayak gimana dan masuk database, ntar dicocokan, dan dikenalkan via media sosial, satu hal ya? Saya harus kenal baik kedua insan yang saya kenalkan satu sama lain dan keduanya orang baik baik.

Yang gagagl? Baunyaaaaaaaaaaaaaaaaaaak chyin, ya ampun pokoknya seabrek abrek sih : ada yang baru baca profil lawan udah mundur, ada yang sampai kenalan, ada yang sampai berteman, ada yang sampai pacaran, pokoknya macam macamlah, saya sih tetap megang kode etik dunia perjodohan : jangan memaksa karena cinta itu memang tak pernah bisa dipaksa, cieleeeeeeeee………

Saya kadang sedih juga ya? Ada yang benar benar berharap bisa dibantu menemukan jodohnya tapi di database aja gak cocok cocok, tanpa bermaksud berbias gender ya..database saya jumlah perempuan jumlahnya hampir 2 kali lipat laki laki, masa saya paksa berpoligami? Ha ha ha

Menariknya ya? Kriteria utama para pencari jodoh itu AGAMA, ya wajib SEAGAMA, jadi kalau udah gini saya hanya akan memperkenalkan ke yang seagama aja sih. Saya fikir memang ya? Seagama itu memudahkan jika sampai jenjang pernikahan, setidaknya keduanya punya faham yang sama dalam memandang pernikahan, sah sah saja sih. Kriteria selanjutnya pekerjaan, terusnya fisik, terusnya latar belakang keluarga, tingkat pendidikan,  lokasi pasangan, dan kriteria gak utama lainnya. Kriteria tidka utama ini, saya definisikan sebagai kriteria yang negotiable ya…kadang malah diabaikan ketika ada benih benih cinta di antara mereka (*halah)

Tanpa bermaksud SARA, masalah Agama ini gak rumit sih bagi teman Islam, Hindu dan Katolik. Malah beberapa warga keturunan China malah nulisnya boleh Katolik, Budha atau Konghucu; yang Hindu juga kadang tidak keberatan dengan yang agama Hindu Kaharingan. Yang Islam juga ya…pokoknya harus islam dan rajin sholat setidaknya tidak terlalu banyak bolong disengaja, belum ada kasus ya yang NU menolak dikenalkan sama Muhammadiyah dan seterusnya (saya juga tidak faham dengan mashab atau aliran dalam Islam), ada juga sih hanya karena  databasenya cocok, langsung disuruh mampir ke rumah ceweknya dihadapan orang tua ceweknya, tidak ada pacaran tahu tahunya 2 minggu kemudian langsung menikah, katanya Cuma ditest sholat sama calon mertua dan ditanya pekerjaan serta latar belakang keluarga aja. Ada juga yang tidak jadi karena terhalang hal hal yang tidak krusial semisal diminta uang jujuran sekian sekian. Yang paling complicated ternyata Kristen Protestan , Agamanya sih sama, tapi kadang mereka tidak mau kalau demominasi gerejanya beda, yang Kristen Advent tidak mau menikah dengan Kristen Evangelis, yang GBI tidak jadi dengan GKE dan seterusnya, kebanyak juga ya ada ratusan denominasi gereja Protestan. Tapi saya, saya kembali ke kode etik Mak Comblang : jodoh tidak bisa dipaksa.

Akhir kat, saya tetap menyarankan kepada yang belum menemukan jodohnya agar bisa bertemu jodoh dan setia satu sama lain. Yang sudah menikah agar tetap setia pada pasangannya masing masing, dan berhenti untuk menanyakan “kapan menikah” kepada mereka yang belum menikah pada saat mereka berada pada acara keluarga, pertanyaan ini sangat tidak nyaman. Jika ingin jadi Mak Comblang, bicaralah empat mata atau lewat metode komunikasi pribadi lainnya, bantulan sebisa kita.

Terima Kasih.Bunga Jodoh

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s