PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta


Leave a comment

Kualitas SDM dan SMK Bisa (!)

PassportTulisan ini saya awali dengan foto 3 passport saya dan satu batang pencil. Tiga passport ini sebenarnya bukan dari 3 negara tapi Passport Republik Indonesia, jadi saya boleh dong menulis tentang Indonesia yang tercinta ini tanpa dituduh mempunyai dual citizenship hehe. Yang kedua adalah pencil hijau bermerk Faber Castel, mengapa pencil? Panjang ceritanya (*Rangga AADC2? Mode on).
Tadi pagi saya terlibat percakapan jarak jauh dengan teman lama saya orang Jerman yang juga bernama David, kenalnya sudah lama sih..waktu dia berkunjung ke Indonesia tahun 2006 untuk melihat orang utan dan saya menemaninya, menjadi dekat saat saya di Belanda, saya tinggal di Leeuwarden atau kadang kadang di Enschede, karena kuliah di University of Twente, sementara dia kuliah Master di University of Groningen. Kota Leeuwarden dan Groningen sebenarnya hanya terpisah puluhan kilomenter saja. Saat ini si David Jerman sedang menyelesaikan Ph.D nya di Munich, sementara David Borneo ini lagi galau tidak jelas karena sedang menyusun DUPAK.
Nah, tadi pagi entah mengapa, saat kami sedang Skype ada adik David lalu lalang tidak jelas, padahal di sana baru lewat tengah malam, dan dia suruh David untuk segera tidur karena masuk kerja hari ini. Dia kerja di perusahaan pembuat pensil Faber Castell di kota kecil Nuremberg. Kota ini adalah kota bersejarah sebenarnya tempat Hitler bikin upacara upacara besar pamer kekuatan kepada dunia serta tempatnya memberikan pidato politik diahiri postur tangan khas Nazi jaman dulu.
Nah, si Thomas, adiknya di David ini ternyata kerja di Pabrik pencil dengan pendidikan SMK saja, bukan seperti kedua kakaknya yang sampai Ph.D. Menurut David, evaluasi pendidikan adiknya saat di SD memang tidak cocok untuk kuliah ke perguruan tinggi, jadi dia masuk SMK. Menariknya 40-50% anak Jerman ternyata sekolah SMK bukan SMA!, SMK benar benar mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi sangat ahli dalam bekerja dengan fokus pada pengembangan skill. Sepertinya pendidikan di Jerman mirip mirip di Belanda, ada pilihan 3 sekolah setamat SD ada SMK,SMA persiapan sekolah tinggi, dan SMU. Hanya anak jenius yang masuk SMU kemudian masuk Universitas.
Kepo saya berlanjut, saya malah ngajak Thomas bicara, Thomas dengan bahasa Inggris yang kurang bagus memang membutuhkan kesabaran saat bicara sama dia, hehe. Intinya, gajinya adalah 2800 Euros…kalau kali 15.000/Euro jatuhnya 42 juta rupiah dong ya? Itu dipotong pajak katanya ada asuransi 50 Euro, jaminan social, dan uang pension, mungkin bersihnya 2100 Euro atau 31 juta lebih, banyak loh itu, saya yang sok makai pencil Jerman ini tidak sebesar itu gaji.
Pekerjaannya sih normal, menjaga 2-3 mesin pemotong pencil, mesin itu membuat 360 an pecil per menit! dan menyusunya sendiri, jadi si Thomas hanya menjaga dan merapikan atau mengamati kalau ada yang tidak sesuai standar, perkerjaan yang tidak susah mengingat dia lulusan SMK jurusan mesin industri. Waktu kerjanya normal dari jam 8 sampai jam 4 sore, istirahat sekali makan siang selama 1 jam, kerja 5 hari seminggu, dan tidak boleh bicara, megang HP apalagi main FB saat jam kerja itu plus dapat libur sekitar 5 minggu/tahun, dia ke pabrik naik mobil buatan Jerman (lha iyalah…) dan punya flat sendiri, hanya kadang kadang pulang ke rumah ortunya di Munich maklum umurnya baru 21 tahun.
Saya jadi ingat, komposisi SMA dan SMK di Indonesia ini timpang, komposisi pendidikan ketrampilan serta politeknik juga timpang dengan Perguruan Tinggi, menghasilkan banyak sarjana yang menganggur!, mungkin maksudnya meningkatkan peringkat Indonesia dalam hal pendidikan, dengan indicator rata rata lama setiap penduduk mengeyam pendidikan, hasilnya ya begini. Salah satu keengganan orang tua anaknya masuk SMK adalah karena kalau lulus akan jadi bawahan yang gajinya kecil, atau banyak SMK yang belum menghasilkan kompetensi sesuai permintaan perusahaan, atau SMK jadi jadian yang kurikulumnya sama sekali tidak nyambung dengan kebutuhan dunia kerja, di satu sisi dunia kuliah kadang kurang adil dengan anak SMK. Saya ingat waktu test di Politeknik Negeri beberapa tahun silam, Politeknik ini semestinya diperuntukan untuk anak anak SMK, nyatanya test masuknya adalah pelajaran SMA seperti Fisika, matematika, Bahasa Inggris, Kimia, jelas saja anak SMK kalah dengan anak SMA!, anak SMK banyak pelajaran produktifnya, sementara anak SMA dijejali pelajaran persiapan masuk perguruan tinggi.
Banyak SMA dari pada SMK ini juga terjadi di beberapa Negara maju semisal Singapoore dan Inggris, Inggris misalnya mempunyai pendidikan menengah berorientasi masuk perguruan tinggi ( pre university), ahirnya menghasilkan banyak bachelor yang susah bekerja juga. Untuk pekerjaan “biasa” perusahaan cenderung tidak memakai sarjana, ahirnya perkerjaan itu diembat oleh para imigran, terutama juga dari Negara Uni Eropa yang masih miskin, ahirnya timbul keirian dari sarjana yang menganggur dengan tenaga kerja lulusan SMK dari Negara lain yang menguasai dunia kerja “biasa” di negaranya, berujung kemarin menjadi peristiwa BREXIT! Keluar dari UNi ERopa! Sehingga perkerjaan “biasa” ini bisa mereka ambil.
Nah, ada teman saya di Samarinda yang bekerja sebagai guru di SMK Negeri terkemuka di kota in, dai mengatakan lulusan SMK di sekolahnya sudah dapat pekerjaan sebelum lulus, bahkan dari jurusan tata boga sudah dibooking dunia usaha dari kelas II, sementara lulusan lain seperti teknik mesin, teknik alat berat dan manajemen niaga juga sangat mudah mendapat pekerjaan.
Saya sebenarnya berharap SMK mulai ditambah, dan SMA jangan ditambah lagi, persiapkan guru yang berkualitas dan harus nyambung dengan dunia kerja, pokoknya skill harus benar benar di asah total, penggajian yang bagus untuk karyawan lulusan SMK, kemudian politeknik berbasis skill juga terus dikembangkan, universitas sudah terlalu banyak sekarang ini. Kemudian, dunia kerja juga mulai menerima tenaga kerja berbasis kompentensi.
Saya hanya khawatir saja, generasi berikutnya adalah generasi pengejar ijazah sarjana bukan generasi yang belajar, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama. “ Research University or Ph.D is not for everyone!” kata Prof Bressers, dosen saya, seorang professor terkemuka dunia dari University of Twente.
Atau jika memang Indonesia terkenal dengan TKW house keeper (pengurus rumah tangga) mengapa tidak kita bangun SMK jurusan house keeping serta ada politekniknya D3 dan D4 jurusan Pembantu Rumah Tangga? Kelak kita akan menguasai kesempatan kerja TKW secara global dengan sertifikasi dan keahlian kelas dunia. Saat ini, ada 70.000 TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Midle East saja, walaupun secara global kalah gaji dengan Philipiness dan Bangladesh karena mereka bisa bahasa Inggris!, konon di Midle East perempuan akan lebih dihormati jika bisa berbahasa Inggris, karena di anggap well educated, kebayangkan gak kalau TKW kita bisa berbahasa Inggris dengan bagus, skill kelas dunia, dengan titel sarjana terapan jurusan House keeping?, tentu saja gaji mereka besar dan strata social juga tinggi. TKW Indonesia juga merambah Amerika Utara dan Eropa, artis Hollywood ada beberapa yang mempunyai asisten rumah tangga orang Indonesia, semisal Adam Levine, Nicole Kidman, Simon Cowell, dan banyak lagi, konon ada puluhan seleb hollywood yang mempunya rumah super duper besar mempunyai asisten rumah tangga orang Indonesua, namun mereka menutupi identitas asisten rumah tangga mereka (maklum seleb incaran paparazi). Hanya Adam Levine yang sering menampilkan pembantu Indonesianya, makanya Adam Levine sering memakai baju batik dan jeans pad acara The Voice USA, serta biasa dipanggil Mas Adam!
Ayo..SMK Bisa!
N/B. Saya lulusan SMA

Advertisements


Leave a comment

Menghargai Kelebihan Orang Lain

Menghargai kelebihan dan kekurangan masing masing.
Sejak kecil saya diajarkan dengan keras untuk menerima kekurangan orang lain, dan memahami bahwa itu adalah bentuk fitriah manusia sebagai makhluk dengan ketidaksempurnaannya, makanya saya tidak pernah membully orang dengan kekurangan tertentu, toh saya juga bagian dari mereka.
waktu berjalan…
ternyata kita lupa diajarkan untuk menghargai kelebihan orang lain, muncul kemudian generasi sinis kepada orang yang mempunyai kelebihan, padahal kelebihan juga harus kita terima sebagaimana menerima kekurangan masing masing.
” Ah..biar saja suaminya saya tidak seganteng Nicholas Saputra, yang penting hatinya baik, daripada ganteng tapi hatinya tidak baik”
Sejak kapan kita bisa menghakimi orang ganteng pasti hatinya tidak baik? dan yang tidak ganteng pasti baik?
” Tuh cewek, bolak balik mentang mentang cantik” Kata teman depan kosan saya di Bandung ngemonterin anak Co. Ass Drg..lhaa….gimana dong, dia memang cantik benaran, bolak baliknya jelas karena RSG tempat dia Co.Ass dekat situ.
“Test yang sangat tidak adil, yang lolos mereka yang ganteng dan cantik aja….gak dinilai kemampuan lain” kata seorang teman yang gagal nembus kerja di sebuah bank internasional…
Loh? kata siapa mereka pasti lebih oon? jika dengan kemampuan yang sama, orang cenderung memilih yang berpenampilan menarik, wajar banget…soalnya itu kelebihan.
Banyak hal yang membuat kita berubah menjadi orang dengki hanya karena tidak bisa menghargai KELEBIHAN ORANG lain.
Hidup memang berat dan tidak adil bagi orang pengeluh dan fokus pada kelebihan orang lain. Saya punya banyak teman, ada beberapa yang “serba mulus” hidupnya : anak orang kaya, pendidikan karakter bagus, raga sempurna, pintar banget, baik hati, dan lancar sekali mencapai cita citanya…banyak loh!; ada juga banyak juga teman tipe audio yang ditakdirkan hidup multilingual sempurna, dengan sangat mudah menguasai berbagai bahasa Asing dalam waktu singkat, ada yang kariernya melesat tajam, ada yang bisnisnya langsung meraja lela, ada yang gaji bulanannya 80 juta lebih, dan banyaaaak sekali off (alias liburnya), lengkap!
Saya juga pernah kursus bahasa Inggris, kemudian test IELTS teman teman saya dengan enteng langsung dapat 7,5…saya? 5,5!….butuh waktu untuk saya dapat 6,0 dan sekarang 7.0 ..saya belum pernah dapat 7,5 seumur hidup saya!! apalagi dapat 8.5 seperti teman akrab saya lulusan pertanian!, sementara lulusan Bahasa Inggris saja ada masih dapat 6,0- padahal teman teman akrab saya yang kadar belajarnya kurang dari saya enteng aja dapat 7,5 ke atas pada test pertama.
Saya berhenti meratapi kelebihan mereka..saya rela dengan kekurangan saya, dan tetap berjuang semampunya, sekuat tenaga, sekuat raga dan masih saat ini masih tidak ada apa apanya dengan mereka..(*sadis ya?)
entahlah….
Yang manusia itu memang unik dalam kelebihan dan kekurangannya…
Hidup ini tidak adil bagi para pengeluh dan pendengki
Hidup ini memang sementara…terlalu singkat bagi kita untuk sibuk menakar diri dengan takaran orang lain….
Kita…ya kita….harus saling menerima kekurangan dan kelebihan orang masing masing, tepatnya menerima manusia dengan karakteristik uniknya…
kita perlu tertawa bahagia dan ikut bahagia atas kelebihan orang lain..hidup akan menjadi ringan!

Selamat pagi…20453_1252686479309_1293947072_30757760_5912240_n


Leave a comment

Kekurangan Diri dan Pengalaman Hidup

Kekurangan nan menjebak!
Masih terkait dengan kelebihan dan kekurangan; salah satu kekurangan saya adalah saya tidak bisa menyanyi sama sekali!, buta not balok dan tidak pernah tepat nada saat menyanyi dengan melihat not angka. Pada suatu ketika, saya bergegas ke sebuah gereja mengikuti misa, dan terlibat kemacetan dan drama angkot ngetem (pasti kota ******* ya? he he); dan nyaris terlambat, saya sampai bareng dengan laku pembukaan.
well, saya melihat satu bangku kosong di sayap kanan gereja, dan langsung menemukan posisi dan duduk!
Saya orang salah, berada pada posisi yang salah, dengan waktu yang salah! totally wrong all the way!
Saya mengikuti misa dengan semuanya dinyanyikan dalam bahasa Latin (misa Gregorian), dan terjepit antara anggota koor yang sudah mendunia dari sebuah PTS terkenal, dan saya duduk di deretan koor bertugas dengan kondisi saya tidak bisa bernyanyi!, apalagi saat itu semuanya dalam bahasa Latin dan ada kombinasi suara I, II dan III…ada pergantian antara alto, sopran, tenor, bas, bariton!, kegawatan lain adalah saya menggunakan kemeja putih dan bawahan blue jeans, seragam koor hari itu!, dan tidak mungkin bisa pindah lagi…
what should I do? should I kill my self? but, at that moment! during the sunday service? oh big no…..
Pada saat yang sangat menegangkan itu, saya sadar bahwa saya hanya TIDAK BISA BERNYANYI….tapi saya hafal semua syair lagu lagu Gregorian : Kyrie Elesion, Gloria, Sanctus, and Agnus Dei, etc! you named it! saya hafal semua!
Dan kemudian dengan penuh percaya diri saya lip sync!…yes! totally lip sync! alias pura bernyanyi dengan mulut tepat melafalkan syair lagu tanpa suara.
Can you guess what happenned afterward? we got standing ovation! a full and long standing ovation…for us! ehmmm..I mean for them..but, somehow, I really enjoyed that!; at that moment, I was knowing what is Josh Groban’s feeling after his concert!
kadang ada saatnya kekurangan kita membawa kita ke pengalaman yang tak terlupakan
pict0120.jpg


Leave a comment

Sukses dan Takarannya

Sukses dan takaran pribadi
Kata sukses memang kata nan maha sakti, menjadi dambaan semua insan termasuk orang tua yang mempunyai anak.
Sukses mempunyai definisi masing masing, namun saya lebih suka definisi sukses secara umum yaitu : suatu keadaan di mana seseorang mencapai apa yang dia cita-citakan, serta hidup bahagia dalam pencapaiannya, bisa menikmati hidupnya serta berguna bagi orang dan lingkungan sekitarnya. Jadi ada 4 kata kunci terkait sukses : CITA CITA, BAHAGIA, MENIKMATI, dan BERGUNA.
Melihat dari definisi tersebut, jelaslah ukuran kesuksesan itu adalah sangat pribadi dan mempunyai sentuhan personal dengan ukuran yang pribadi juga.
kesalahan umum kita adalah menakar kesuksesan kita untuk kesuksesan orang lain, sampai kapanpun tidak akan pernah cocok. Jangan memaksa orang memakai baju yang ukuran kita, karena tidak cocok, andai cocok ukurannya, model dan warnanya belum tentu cocok dengan orang lain.
Saya punya teman sekampung, teman sejak masa kecil, cita citanya adalah “menjadi petani kaya yang tinggal di desa, dengan rumah kayu besar dekat sungai mengalir jernih dan anak anak sehat berlarian bahagia”
He used to tell me his dream more than 12 times during our elementary and junior high school periods. Karena keseringan dibilangin, saya sampai hafal banget cita-citanya. Dia tidak terlalu pintar di sekolah memang, tapi dia punya cita cita!
dan jreng…sekarang dia punya puluhan hektar kebun karet unggul, kebuh gaharu, kebun cempedak, punya mobil “pick up” buat membeli getah karet, punya rumah kayu nan sangat besar dan teduh serta sejuk dekat sungai kecil di desa sebelah, anak anaknya 2 sehat dan bahagia, tabungannya banyak, siap untuk mengantar anak anaknya untuk cita cita apapun, dia aktif dalam kegiatan masyarakat dan lain lain, dan yang penting dia sangat menikmati hidupnya dengan bahagia! dia SUKSES BESAR!, sementara kami teman temannya, yang konon lebih pintar secara akademis, yang kononnya NEM-nya lebih tinggi dari dia, masih BABAK BELUR belum mencapai semua cita cita kami.
Akan sangat timpang jika kami mengukur kesuksesannya dengan berapa gelar akademiknya, berapa negara yang dia kunjungi, berapa jurnal ilmiah yang dia hasilkan, berapa foto selfie yang dihasilkan selama liburan. Damn!! HE DOES NOT NEED those things!, dia tidak perlu semua itu, dia sudah sukses! that is all!
Satu lagi teman punya cita cita kerja sebagai operator alat berat di sebuah tambang, cita cita yang sering mengundang senyum kami semasa SMA; dan sekarang? hidupnya kelihatan sangat bahagia, bersiul siul berangkat kerja subuh subuh ke sebuah perusahaan tambah batu bara terbesar di kalsel, gajinya? 7 kali lipat gaji saya sebagai PNS (masih) golongan 3. Dia SUKSES!
Lalu perlukan saya bilang saya belum sukses karena tidak sama denagn mereka? yang tidak perlu lah…saya memang masih banyak mimpi yang belum terwujud, tapi saya tetap tidak merasa perlu iri dengan kesuksesan mereka, instead saya merasa perlu berbahagia bagi mereka.
PR kita kini berlanjut sebagai orang tua; masihkah kita membuat ukuran kesuksesan untuk anak anak kita? akan kan itu yang mereka impikan? apakah terbaik bagi kita juga terbaik bagi mereka? akankah mereka bahagia dan menikmati hidup dengan ukuran kesuksesan kita? panjang memang kalau dicermati.
Yang bisa kita lakukan adalah membimbing dan mendampingi mereka dengan kasih sayang dan perhatian dan dengan segala pendukung yang diperlukan untuk mereka.
Anak adalah seorang pribadi yang utuh dengan segala potensi dan mimpi mimpinya, mereka bukan fotokopi kita atau boneka yang harus persis sesuai dengan keinginan kita.
tugas kita sebagai orang tua adalah membantu mereka agar SUKSES..apapun itu…cropped-pict0074.jpg


Leave a comment

Memaknai Arti Kegagalan

Filre Edition

Penulis lagi berlibur di Keukenhof, The Netherlands

MEMAKNAI ARTI KEGAGALAN
“Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”
Saya tidak mengerti sama sekali dari mana kata motivasi yang sangat sesat ini, ..yes, it is a-big no…kegagalan bukan kesuksesan yang tertunda, kegagalan adalah lawan kata dari sukses! opposite!. Gagal berarti tidak sukses. Titik.
Jika kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, kita hanya menunggu waktu saja untuk sukses..Hanya menunggu!, really?
Jujur sajalah : Kegagalan adalah ketidaksuksesan!, that is all! you don’t have to use some exquisite words to describe that” failure” is almost pretty same with “triumph”
Gagal artinya kita harus bangkit lagi, dengan STRATEGI baru, dengan cara baru, dengan usaha setingkat lebih keras, dengan sudut pandang baru, dan semangat baru.
Karena dunia kesuksesan bukanlah milik kaum penggerutu, pengeluh, pemalas, pendengki dan pencaci maki; dunia kesuksesan adalah milik mereka yang tegar, pejuang tangguh, pantang menyerah, banyak akal, banyak berfikir, realitis dan….beruntung!,
Nah..saya tidak bisa membahas banyak kalau sudah ada kata “beruntung”, karena yang terahir ini kadang bisa menjungkir-balikan segala teori dan fakta rasional hehe.
Ada banyak keunikan manusia dalam menghadapi kegagalan, ada yang memilih untuk tetap jatuh, ada yang butuh waktu untuk bangkit, ada yang segera bangkit, ada yang menangis bombay semalam suntuk, tapi esok harinya bangun dengan semangat membara walau bermata panda. Apapun caranya, seseorang yang sedang bangkit tetap harus semangat dan kita semangati, bergerak maju memang tidak mudah bagi mereka yang baru terjatuh keras dalam kegagalan, namun kita harus tetap maju dengan cara apapun, jika tak mampu berlari, berjalanlan, jika tak mampu berjalan, merayaplah, jika tak mampu merayap, bergulinglah, karena mimpi kita masih di depan, jangan biarkan kegagalan itu menang.
Saya kadang juga kaget sendiri, seorang teman yang super jenius sekarang lagi menyelesaikan Ph.D nya di MIT misalnya, saya kira segalanya mudah, tidak ternyata, dia pernah gagal melamar 11 jenis beasiswa, malah salah satu beasiswa dalam negeri yang menurut saya mudah, hanya ada test TPA dan TOEFL saja…
Banyak kisah serupa, walau tentu saja tidak sefenomenal Thomas Alva Edison yang gagal sebanyak 999 kali dan percobaan ke 1000 dia mampu bikin lampu pijar yang membawa dunia dari abad kegelapan ke abad cahaya (dalam pengertian fisika).
Satu hal yang saya pelajari dari banyak orang adalah semangat pantang menyerah serta membuat strategi baru setelah mengevaluasi kegagalan.
Ada kalanya, ketika dievaluasi kita sampai pada saat harus “menyerah” lewat jalan itu, tapi jalan yang lain. Ini ada satu orang teman yang barusan selesai studi Ph.D-nya bidang Public Health di sebuah Universitas di Eropa. Dia sejak SMA bercita cita harus jadi dokter!, jadi dokter yang banyak bergerak memberantas penyakit menular, SMA pun dia ambil SMA Negeri yang paling bagus di luar pulau, dia rela tinggal di kos setamat SMP, tekatnya memang tekat baja!, namun apa yang terjadi, menembus FK UI atau UGM impiannya tidak mudah…..dia gagal dari berbagai jalur, namun diterima di sebuah FK di PTS terkemuka di Jakarta, yang tetap dia tidak bisa ambil mengingat biaya masuknya yang seperempat milyar itu sangat berat bagi orang tuanya dan dia harus rela menguburkan impiannya sejenak, dia kembali ikut UMPTN lagi tahun berikutnya dan tidak lulus juga ke FK impiannya.
Namun, ada jalan lain membentang, jalan yang tak sepenuhnya diinginkannya, namun tetap bisa mencapai sebagian dari impiannya memberantas penyakit menular, ya dia terima di FKM atau kesehatan masyarakat. Mutiara memang tidak akan berubah menjadi alumnium, di FKM dia lulus dengan sangat cepat dengan IPK 4,0 dan langsung dapat beasiswa kampus lanjut ke S2 dengan beasiswa kementerian, dan lulus dengan IPK 4,0 lagi, kemudian diangkat (lulus) jadi dosen dan mendapat beasiswa Ph.D ke Eropa dalam usianya yang sangat belia, dia juga tergabung dalam tim peneliti untuk pemberantasan penyakit menular.
Andai saat dia tidak lulus FK dulu, dia menyerah, mabuk mabukan, tidak mau kuliah, maka sekarang saya tidak bisa membayangkan nasibnya bagaimana.
Banyak cerita tentang cara dan menyikapi kegagalan, di antara banyak pula yang hanya menangisi kegagalannya, pilihan kembali kepada kita sendiri.
Di segala upaya kita juga perlu berdoa, berdoa dan bekerja keras!, makanya ada pepatah latin ORA ET LABORA bukan ORA saja sambil baring-baring atau duduk ngopi, saya percaya SANG PENGABUL DOA akan melihat mana yang berniat dan berusaha, mana yang hanya main minta tanpa usaha.
Kembali kepada kita sendiri…apakah kita tetap memaknai kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, atau bangkit dengan strategi baru untuk mencapai lawan kata kegagalan, yaitu kesuksesan !

Selamat Pagi…