PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta

Kualitas SDM dan SMK Bisa (!)

Leave a comment

PassportTulisan ini saya awali dengan foto 3 passport saya dan satu batang pencil. Tiga passport ini sebenarnya bukan dari 3 negara tapi Passport Republik Indonesia, jadi saya boleh dong menulis tentang Indonesia yang tercinta ini tanpa dituduh mempunyai dual citizenship hehe. Yang kedua adalah pencil hijau bermerk Faber Castel, mengapa pencil? Panjang ceritanya (*Rangga AADC2? Mode on).
Tadi pagi saya terlibat percakapan jarak jauh dengan teman lama saya orang Jerman yang juga bernama David, kenalnya sudah lama sih..waktu dia berkunjung ke Indonesia tahun 2006 untuk melihat orang utan dan saya menemaninya, menjadi dekat saat saya di Belanda, saya tinggal di Leeuwarden atau kadang kadang di Enschede, karena kuliah di University of Twente, sementara dia kuliah Master di University of Groningen. Kota Leeuwarden dan Groningen sebenarnya hanya terpisah puluhan kilomenter saja. Saat ini si David Jerman sedang menyelesaikan Ph.D nya di Munich, sementara David Borneo ini lagi galau tidak jelas karena sedang menyusun DUPAK.
Nah, tadi pagi entah mengapa, saat kami sedang Skype ada adik David lalu lalang tidak jelas, padahal di sana baru lewat tengah malam, dan dia suruh David untuk segera tidur karena masuk kerja hari ini. Dia kerja di perusahaan pembuat pensil Faber Castell di kota kecil Nuremberg. Kota ini adalah kota bersejarah sebenarnya tempat Hitler bikin upacara upacara besar pamer kekuatan kepada dunia serta tempatnya memberikan pidato politik diahiri postur tangan khas Nazi jaman dulu.
Nah, si Thomas, adiknya di David ini ternyata kerja di Pabrik pencil dengan pendidikan SMK saja, bukan seperti kedua kakaknya yang sampai Ph.D. Menurut David, evaluasi pendidikan adiknya saat di SD memang tidak cocok untuk kuliah ke perguruan tinggi, jadi dia masuk SMK. Menariknya 40-50% anak Jerman ternyata sekolah SMK bukan SMA!, SMK benar benar mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi sangat ahli dalam bekerja dengan fokus pada pengembangan skill. Sepertinya pendidikan di Jerman mirip mirip di Belanda, ada pilihan 3 sekolah setamat SD ada SMK,SMA persiapan sekolah tinggi, dan SMU. Hanya anak jenius yang masuk SMU kemudian masuk Universitas.
Kepo saya berlanjut, saya malah ngajak Thomas bicara, Thomas dengan bahasa Inggris yang kurang bagus memang membutuhkan kesabaran saat bicara sama dia, hehe. Intinya, gajinya adalah 2800 Euros…kalau kali 15.000/Euro jatuhnya 42 juta rupiah dong ya? Itu dipotong pajak katanya ada asuransi 50 Euro, jaminan social, dan uang pension, mungkin bersihnya 2100 Euro atau 31 juta lebih, banyak loh itu, saya yang sok makai pencil Jerman ini tidak sebesar itu gaji.
Pekerjaannya sih normal, menjaga 2-3 mesin pemotong pencil, mesin itu membuat 360 an pecil per menit! dan menyusunya sendiri, jadi si Thomas hanya menjaga dan merapikan atau mengamati kalau ada yang tidak sesuai standar, perkerjaan yang tidak susah mengingat dia lulusan SMK jurusan mesin industri. Waktu kerjanya normal dari jam 8 sampai jam 4 sore, istirahat sekali makan siang selama 1 jam, kerja 5 hari seminggu, dan tidak boleh bicara, megang HP apalagi main FB saat jam kerja itu plus dapat libur sekitar 5 minggu/tahun, dia ke pabrik naik mobil buatan Jerman (lha iyalah…) dan punya flat sendiri, hanya kadang kadang pulang ke rumah ortunya di Munich maklum umurnya baru 21 tahun.
Saya jadi ingat, komposisi SMA dan SMK di Indonesia ini timpang, komposisi pendidikan ketrampilan serta politeknik juga timpang dengan Perguruan Tinggi, menghasilkan banyak sarjana yang menganggur!, mungkin maksudnya meningkatkan peringkat Indonesia dalam hal pendidikan, dengan indicator rata rata lama setiap penduduk mengeyam pendidikan, hasilnya ya begini. Salah satu keengganan orang tua anaknya masuk SMK adalah karena kalau lulus akan jadi bawahan yang gajinya kecil, atau banyak SMK yang belum menghasilkan kompetensi sesuai permintaan perusahaan, atau SMK jadi jadian yang kurikulumnya sama sekali tidak nyambung dengan kebutuhan dunia kerja, di satu sisi dunia kuliah kadang kurang adil dengan anak SMK. Saya ingat waktu test di Politeknik Negeri beberapa tahun silam, Politeknik ini semestinya diperuntukan untuk anak anak SMK, nyatanya test masuknya adalah pelajaran SMA seperti Fisika, matematika, Bahasa Inggris, Kimia, jelas saja anak SMK kalah dengan anak SMA!, anak SMK banyak pelajaran produktifnya, sementara anak SMA dijejali pelajaran persiapan masuk perguruan tinggi.
Banyak SMA dari pada SMK ini juga terjadi di beberapa Negara maju semisal Singapoore dan Inggris, Inggris misalnya mempunyai pendidikan menengah berorientasi masuk perguruan tinggi ( pre university), ahirnya menghasilkan banyak bachelor yang susah bekerja juga. Untuk pekerjaan “biasa” perusahaan cenderung tidak memakai sarjana, ahirnya perkerjaan itu diembat oleh para imigran, terutama juga dari Negara Uni Eropa yang masih miskin, ahirnya timbul keirian dari sarjana yang menganggur dengan tenaga kerja lulusan SMK dari Negara lain yang menguasai dunia kerja “biasa” di negaranya, berujung kemarin menjadi peristiwa BREXIT! Keluar dari UNi ERopa! Sehingga perkerjaan “biasa” ini bisa mereka ambil.
Nah, ada teman saya di Samarinda yang bekerja sebagai guru di SMK Negeri terkemuka di kota in, dai mengatakan lulusan SMK di sekolahnya sudah dapat pekerjaan sebelum lulus, bahkan dari jurusan tata boga sudah dibooking dunia usaha dari kelas II, sementara lulusan lain seperti teknik mesin, teknik alat berat dan manajemen niaga juga sangat mudah mendapat pekerjaan.
Saya sebenarnya berharap SMK mulai ditambah, dan SMA jangan ditambah lagi, persiapkan guru yang berkualitas dan harus nyambung dengan dunia kerja, pokoknya skill harus benar benar di asah total, penggajian yang bagus untuk karyawan lulusan SMK, kemudian politeknik berbasis skill juga terus dikembangkan, universitas sudah terlalu banyak sekarang ini. Kemudian, dunia kerja juga mulai menerima tenaga kerja berbasis kompentensi.
Saya hanya khawatir saja, generasi berikutnya adalah generasi pengejar ijazah sarjana bukan generasi yang belajar, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama. “ Research University or Ph.D is not for everyone!” kata Prof Bressers, dosen saya, seorang professor terkemuka dunia dari University of Twente.
Atau jika memang Indonesia terkenal dengan TKW house keeper (pengurus rumah tangga) mengapa tidak kita bangun SMK jurusan house keeping serta ada politekniknya D3 dan D4 jurusan Pembantu Rumah Tangga? Kelak kita akan menguasai kesempatan kerja TKW secara global dengan sertifikasi dan keahlian kelas dunia. Saat ini, ada 70.000 TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Midle East saja, walaupun secara global kalah gaji dengan Philipiness dan Bangladesh karena mereka bisa bahasa Inggris!, konon di Midle East perempuan akan lebih dihormati jika bisa berbahasa Inggris, karena di anggap well educated, kebayangkan gak kalau TKW kita bisa berbahasa Inggris dengan bagus, skill kelas dunia, dengan titel sarjana terapan jurusan House keeping?, tentu saja gaji mereka besar dan strata social juga tinggi. TKW Indonesia juga merambah Amerika Utara dan Eropa, artis Hollywood ada beberapa yang mempunyai asisten rumah tangga orang Indonesia, semisal Adam Levine, Nicole Kidman, Simon Cowell, dan banyak lagi, konon ada puluhan seleb hollywood yang mempunya rumah super duper besar mempunyai asisten rumah tangga orang Indonesua, namun mereka menutupi identitas asisten rumah tangga mereka (maklum seleb incaran paparazi). Hanya Adam Levine yang sering menampilkan pembantu Indonesianya, makanya Adam Levine sering memakai baju batik dan jeans pad acara The Voice USA, serta biasa dipanggil Mas Adam!
Ayo..SMK Bisa!
N/B. Saya lulusan SMA

Author: tumpuknatat

I am a dreamer and lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s