PANGERAN DAYAK MAANYAN

Tentang semua kerinduan terhadap kampung halaman nan luas di alam semesta


6 Comments

Wadian Bawo

Agustus 1986….

Aku seorang bocah kecil, berkulit legam, dan berambut hitam kemerahan, mengenakan sepasang sandal jepit tertali biru merk Swalow, berlari lari kecil mengejar langkah langkah panjang Ineh Tueh(kakak kandungnya mamahku) menyusuri jalan desa yang berdebu tebal. Hari ini saya dan Inneh pergi ke rumah  Ammah Cubit di ujung desa, karena mereka akan ada pekerjaan penting  harus dikerjakan dan perlu bantuan. Hari ini  Ammah Cubit sedang  menyelenggarkan siawet. Siawet adalah serangkaian kegiatan yang diorganisasikan dengan baik, dalam rangka menyiapkan keperluan untuk Belian. Siawet pada dasarnya terdiri dari acara membuat bermacam macam jenis kue yang akan dijadikan sesajen, membuat dan menyiapkan aksesoris dan segala perlengkapan yang diperlukan untuk belian.

Kenapa belian? Waktu itu kebanyakan orang di kampung menganut kepercayaan asli yang percaya bahwa semua penyakit ada obatnya dan bisa disembuhkan tergantung pada bagaimana dan apa saja upaya “healing” itu sendiri. Belian atau wadian adalah bentuk ritual pengobatan, pengusiran roh jahat, pengusiran penyakit dan pembayaran “nazar”. Dalam kasus ini Ammah Cubit menyelenggarkan wadian demi kesembuhan mertuanya yang sudah sebulan ini terbaring sakit tak kunjung sembuh juga. Wadian itu ada jenis dan tingkatannya, namun wadian yang akan dilaksanakan nanti malam adalah “Iruang Wundrung” suatu jenis ritual belian yang paling tinggi, merupakan kombinasi dari wadian bawo dan wadian dadas. Wadian ini dikepalai oleh seorang wadian yang sakti mandraguna sekaligus pemegang gelang bawo yang keramat, belian yang disebut “wadian pamungkur” ini akan menjadi bintang utama dalam ritual wadian secara keseluruhan.

Bersama anak anak sebaya, aku duduk manis di atas bangku kayu, melihat Ineh Tueh membantu orang membuat kue kue yang akan dijadikan sesajen. Otak seorang anak umur  5 tahun seperti aku tidak mampu merekam sedemikian banyak dan rumitnya jenis kue kue itu. Ada bermacam nama mulai dari pasike (sejenis lemang, beras ketan dimasak dalam batang bambu dan diberi santan), katupat wurung, katupat jagau, katupat urang, wajik, tangkurak batu, susur, bubur putih, bubur habang, dan deretan lain yang tidak bisa aku ingat lagi, banyak bentuk dan cara mengolah namun bahan dasarnya pasti beras, tepung beras, tepung ketan, nasi ketan, kelapa, dan gula merah. Semua sesajen ini akan dihitung secara teliti, disusun rapi dalam sebuah keranjang pendek dan besar dari bambu yang disenut dengan “ancak”, dan akan digantung di tengah rumah pada ritual wadian.

Aku si bocah kecil nan tembem, tidak terlalu mengerti akan semua jenis sesajen dan belian, aku duduk di bangku, menatap ratusan truck logging aneka warna melintas dusun kami membawa kayu bulat dengan diameter kebanyakan di atas 1 meter, berbagai jenis kayu hutan alam (hutan produksi dan hutan produksi terbatas)  bernilai komersial tinggi diangkut. Aku hanya menatap hampa batang batang kayu dari family Dipterocarpaceae itu diangkut entah ke mana, tidak ada yang tahu terlalu banyak karena perusahaan HPH superbesar itu  milik saudara tiri “DIA YANG TIDAK BOLEH DISEBUT”, dan berkolaborasi dengan pengusaha besar masih orang dekat “KAU TAHU SIAPA”.

Dusun Betang Nalong, tempat aku lahir dan dibesarkan adalah sebuah dusun kecil yang terletak di pinggir jalan HPH yang sangat besar. Selain dapat debu yang tebal dari jalanan HPH, dusun ini adalah dusun terindah yang pernah aku kenal. Sebuah tempat dimana aku bisa menikmati embun pagi dalam kesahajaannya, dimana aku bisa merasakan kebahagian tanpa harus memiliki banyak uang, di mana aku bisa memandang belantara hijau yang ramah, tempat aku melihat binatang liar, dan burung burung  selalu riang menyambut surya.

Pandanganku terhenti, sebuah mobil Hardtop berhenti, ada orang aneh keluar dari sana, benar benar aneh, tubuhnya luar biasa tinggi, hidup mancung dan kemerahan persis monyet merah yang kami sebut dengan “bekantan”, rambutnya? Ha ha ha persis jerami padi di ladang..putih keruh kemerahan. Dia menenteng  sebuah kamera bagus yang kami sebut sebagai “tustel”, lebih lucu lagi dengan bahasa Indonesianya yang aneh, aku bingung, orang darimanakah ini? Mengapa aneh? Apakah dia terserang penyakit?. Si bule itu, bersama istrinya, ikut bergabung ke acara siawet, memotret segala sesuatu dengan teliti. Aku melihatnya dengan kagum. Si Orang Buler aneh ini ternyata orang belanda, yang lagi bantu bantu kegiatan sebuah gereja di Desa Lalap, desa berjarak 12 km dari Dusunku. Aku terfana dengan kilatan bliz yang laksana kilatan petir dari kameranya, jauh lebih hebat daripada kamera kamera foto biasa yang aku lihat.

Tiba tiba si Bule yang kata mereka orang  Belanda itu tertarik melihat aku, si anak dayak berkulit legam, berambut kemerahan, dan terkadang bicara sendiri he he. Dia membidik kemeranya dengan hati hati ke arahku. Aku hanya bisa berdiam, pasrah dan tetap pada posisi semula. Dia datang mendekatiku yang tetap duduk di bangku kayu dengan angkuh, sementara teman sebayaku memilih kabur. Si bule dengan ramah menanyakan namaku, memberi sepotong cokelat kecil, berbasa basi dengan ramah menggunakan bahasa Indonesia yang aneh. Satu percakapan terahir yang saya ingat adalah “ kamu harus suka melihat wadian bawo, semoga suatu saat nanti kamu menari wadian bawo di negara saya yang sangaaaaaaat jauh yaitu Belanda”. Aku tertawa dalam hati, harapan yang sangat aneh dan tidak masuk akal pada seorang bocah yang baru sebulan masuk sekolah Dasar di Dusun terpencil. Menari wadian bawo? Tidak mungkin!, hanya Busu Ammah Gantar yang sakti mandraguna itu bisa melakukannya, meliukkan badan, menghentak kaki, seiring dengan bunyi kangkanung dan gemericing gelang bawo? lebih tidak mungkin lagi jika di Belanda? Sejauh apa tempat itu dari Dusun pedalaman Kalimantan ini? Yang bisa aku bayangkan, pasti negara  Belanda itu berisi orang bertubuh aneh seperti bapak ini. Aku tertawa dalam hati, dan tetap pada keyakinanku bahwa itu adalah harapan basa basi yang TIDAK AKAN MUNGKIN TERJADI…..siapakah aku? Anak petani karet di Dusun terpencil, tidak ada bayangan akan pergi jauh dan menari wadian bawo.

27 Desember 2012

Arnhem, The Netherlands,

Winter……

Aku berjalan pelan dari ruang ganti, tubuh tambunku kini telanjang dada, hanya berkalung “taring wawui”, badan digores dengan kapur sirih, kepalaku tertutup lawung berwarna kuning, tanganku memegang daun lawang dan “tatungkau’ dari janur kuning, tanpa alas kaki, mengikuti langkah Kak Rachma di depan membawa “tadamuan dan tatungkau”, dibelakang aku ada Emilus pemuda Dayak membawa mandau, Ryan, Karin, Anna, Alex dan anaknya, Nuki, Leni, Daniella berjalan beriring di ikuti pandangan beratus ratus pasang mata bule yang berdecak kagum, di antara hujan kilatan bliz laksana  petir menuju panggung pembukaan acara. Ya! Hari ini, di sini, di Burger Zoo, sebuah kawasan maha luas (45 ha) yang dibuat dalam rumah kaca besar, sehingga beriklim tropis di musim dingin yang suhu udara selalu berada dekat titik beku. Ya aku di sini!, di sebuah kota bernama Arnhem, Belanda, aku tidak tahu apakah harapan orang bule 25 tahun silam yang tercapai? Ataukah itu sebuah kutukan? Ataukah memang takdirku sebagai  pemuda dayak yang terjadi, yang pasti di sini saat ini, aku akan jadi “wadian pamungkur” dalam acara Iruang wundrung, kombinasi wadian dadas dan bawo jauh dari Dusun Betang   Nalong yang selalu aku rindukan. Aku di sini!, berjalan menuju panggung, di mana ribuan orang telah menanti, aku tidak merasakan apa apa. Kaki kaki lemahku ikut terus maju bersama denting bunyi kangkanung dan agung bertalu talu.

Acara dimulai, Karin, Leni, Anna dan Daniella berperan sebagai wadian dadas berdiri di belakang, sebelah kiri ada Emilus dengan mandaunya yang berkilat, sebelah kanan ada Ryan juga bersiaga dengan mandaunya, kak Rachma menjadi “manung wadian” maju pertama membawa tadamuan dan tatungkau. Kini saatnya, aku harus bisa!, akan aku genapi takdir ini, akan aku genapi harapan dan “kutukan “ dari Bule Belanda iseng 25 tahun silam. Aku  harus bisa, aku pemuda Dayak yang berdarah biru, dibesarkan oleh alam Kalimantan, harus bisa memperkenalkan betapa indahnya budaya kalimantan, di hadapan orang Eropa yang aku anggap manusia aneh 25 tahun silam.  Musik mengalun, sesaat aku pejamkan mata, aku biarkan musik Dayak Maanyan yang dinamis, mistis, dan misterius itu menuntun kaki kakiku, membawa tangan tanganku, meliukan tubuhku sebagaimana seharusnya wadian bawo bergerak, aku seolah sakti menyamakan Busu Ammah Gantar, wadian pamungkur paling terkenal di daerah kami.  Sesaat kemudian, anganku pergi jauh…melayang bersama bintang….kembali menembus ruang dan waktu.. kembali ke tahun 1986, kembali ke sebuah dusun yang indah dan damai, udara tropis memenuhi hidungku, bunyi burung burung diatas pohon juga terdengar. Perlahan, aku merasakan kedamaian, yang tidak pernah bisa aku jelaskan dengan kata kata. Semua terjadi begitu saja. Mengalir.

Tiba tiba aku teringat kembali, Dusunku yang aku cintai dulu, kini sudah berubah…sudah maju namun tak memiliki keindahan alami dulu, tambang tambang batu bara memperkosa segalanya. Meluluh lantak alam dengan keserakahan yang tak berujung. Aku tiba tiba marah!, aku murka!, aku sedih! Aku mengutuk diri….aku ingin Dusunku tetap indah seperti dulu!

Perlahan musik berubah, kini tarian Mandau Dayak Kalbar yang harus ditampilkan, kini aku bawa semua emosi dalam perang mandau dengan Emilius, pemuda Dayak Kanayatn,Kalbar yang juga sama seperti aku, anak Dayak mengapai mimpi yang nyaris tak mungkin, yang berperan sebagai “musuh”ku, seiring dengan musik yang misterius, aku salurkan emosi diri lewat sabetan mandau yang berkilatan, mata yang awas dan tajam, teriakan yang penuh kekuatan. Aku ingin, seperti ini di depan para pengusaha batu bara dan pejabat yang serakah, aku ingin beteriak dengan mandau di tangan! JANGAN!!  JANGAN KAU RUSAK KAMPUNG HALAMANKU!…

Sesaat musik berahir..aku terpaku..dingin..hampa…

 (Photo by Eko Harsono)Image

 1 Januari 2012


4 Comments

Hidupku Yang Ajaib

April …1986

Angin sepoi musim kemarau menerpa tubuh mungilku yang duduk bertelanjang dada di beranda depan pondok kami di ladang. Bau padi  yang baru dipanen aku hirup sedalam dalamnya, ada wangi kehidupan di sana, ada harapan dan kegembiraan dalam bulir bulir padi keemasan itu. Hari ini adalah hari terahir bagi kami dalam memanen padi (masi), padi masih bertumpuk bersama tangkainya. Mulai besok  Ammah (Ayah), abang Joko dan aku yang berumur  5 tahunan ini akan merontokkan dan memisahkan bulir padi dari tangkainya yang dalam bahasa Dayak Maanyan disebut “maureh”. Padi ditumpuk diatas wadah dr ayaman bambu yang tidak terlalu rapat, diletakkan pada sebuah panggung yang tingginya sekita 1,5 meter dari tanah, diacak acak dan diayak dengan kaki. Di bawahnya, dihampar tikar pandan atau “patah anihing” untuk menampung bulir bulir padi yang jatuh.

Ladang kami sangat luas, daerah ini disebut dengan “waluh papuan” yang letaknya sekitar 2 Km dari rumah kami di Dusun. Tepat di tengah ladang terdapat pondok kami, besar, tinggi, berlantai bambu, berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia. Pondok ini sangat tinggi karena lantai bawah dijadikan lumbung padi atau “karangking” parei, lantai atas buat kami istriahat dan tidur, terus ada bangunan samping buat dapur dan tempat makan, bangunan samping lagi diperuntuk sebagai tempat penyimpanan alat alat perladangan (tikar, parang, wadiung/beliung, lanjung, dahuru, patah, dan lain sebagainya). Di depan ada beranda juga, kami gunakan untuk bersantai sekaligus tempat pemantauan terhadap Gangguan, Hambatan, Tantangan dan Ancaman (he he he) bagi ladang kami nan luas ini, semisal gerombolan monyet ekor panjang, monyet ekor hitam, burung pipit merah yang jumlahnya bisa ribuan, serta babi hutan yang nekad, semua terpantau oleh aku- si bocah 5 tahun yang punya sebuah ketapel dan sebakul batu kerikil sebagai amunisi-dengan seksama. Saking waspadanya aku, kadang ada juga terpantau bocah bocah dari kampung sebelah (Pulau Padang) nekad mencuri semangka dan tebu yang memang bergelimpangan di bagian timur ladang.

Ladang kami ini sangat luas, sudah 3 tahun kami berladang di sini, ladang tahun pertama sekarang sudah menjadi kebun pisang dan karet yang terhampar luas di sebelah utara, ladang tahun kedua sekarang jadi kebun sayur mayur, ada puluhan sayuran tropis tumbuh subur di sana, terong belang, tomat, katuk, singkong, gambas, pare, keladi, dan banyak lagi, sedangkan ladang tahun ketiga di sebelah selatan yang hari ini adalah hari terahir panen padi, tersisa jerami yang kuning keputihan. Walau belum sekolah (aku akan masuk kelas I SD Inpres bulan Juli mendatang..horayyyyyyyy…), aku udah tahu mana Timur, Barat Utara dan Selatan loh…Timur tempat matahari terbit, lalu lawannya adalah Barat, ketika berdiri membelakangi matahari terbit daerah tangan kiri saya adalah Selatan, dan daerah tangan kanan adalah Utara, itu aku dengar dari pelajaran kakakku perempuan yang bersekolah kelas 5 SD di Desa Matarah, desa yang terletak 4 Km dari rumah, yang artinya kakak saya harus jalan kaki minimal 8 km/hari jika ingin bersekolah. Aku sendiri sudah sangat sangat ingin bersekolah, aku lihat abang Joko yang sudah kelas 2 SD sudah pintar menghitung harga pisang hasil penjualan Ineh (mamah), dia juga dengan sigap merekap hasil penjualan jamur kecil (kulat tarisip), aku terkagum kagum dengan kemampuannya menghitung lembaran uang seratus rupiah warna merah laksana bunga papaken (durian khas Kalimantan), aku iri dengan kemampuannya menulis nama sendiri  dengan arang di dinding pondok kami yang terbuat dari kulit kayu rurei (sejenis kayu berkulit tebal dan liat, pohon dari genus Artocarpus). Sementara aku? Hanya akan…sekali lagi AKAN!, akan bersekolah bulan Juli nanti, kemarin Inehku sudah “mendaftar” dengan Pak Wahatin Siuk (Ammah Kris) sebagai Kepala Sekolah dan orang sangat terhormat dan berpendidikan di Dusun kami yang kecil dan terpencil itu.

Sore ini, aku bersantai saja…dengan perut buncit karena kekenyangan setelah makan sebanyak banyaknya dengan menu burung punai yang dimasak dengan sulur keladi plus nasi dari beras baru yang harum wangi. Aku duduk termangu, termenung dan bernafas lega karena hasil panen padi kami tahun ini sangat sangat banyak, buktinya lumbung padi di bawah pondok tidak mampu lagi menampungnya. Aku tersenyum melihat daun daun karet yang gugur, menjelang musim kemarau pohon karet daunnya akan memerah dan meranggas, daun daun merah itu gugur dengan indah laksana hujan daun dari langit. Aku terbayang dengan bunyi buku cerita abangku tentang musim gugur di negari Belanda, ada gambar anak kecil bule berlarian dengan riang di antara hamparan daun maple yang gugur di musim gugur.

Aku ingin cepat bersekolah, aku ingin cepat bisa membaca dan membaca banyak buku cerita tentang musim gugur dan musim salju di negeri-yang aku anggap waktu itu-adalah negeri dongeng, toh aku udah tau 26 huruf latin walau sering dengan enteng ketukaran huruf O dan U serta -P dengan -V, aku sudah tahu bentuk bentuk angka dari angka 1 sampai 10 (heran ya? Kok diajarkan dari 1-10 bukan dari 0-9?). Aku tidak membayangkan sekolah tinggi dan jauh, cukup sekolah bisa membaca, menulis dan berhitung itu sudah luar biasa, apalagi kemarin aku menyimak pembiacaraan ayah dengan Ammah Rundun-rekan gaul ayah, sesama petani dan peladang- bahwa kami hanyalah anak peladang, tidak akan dan tidak mungkin sekolah tinggi setingginya, aku hanya diam, pasrah dan menganggap itulah kehidupanku.

………………………………………………………

Minggu, 9 September 2012

Aku berlari kecil diantara pohon mample yang daunnya sudah mulai tidak hijau lagi, pertanda summer akan segera berahir-sepulang dari Misa di gereja santo Bonafatius, Leeuwarden , Belanda.  Sudah hampir 3 minggu aku terdampat di sini, di sebuah kota ibu kota propinsi Friesland, bagian Utara Belanda yang terkenal dengan produk pertanian dan peternakannnya.  Aku tarik sweaterku sampai menutupi leher,  gerimis mulai turun, sehingga suhu udara hanya sekitar 14 derajat celcius-suhu yang sangat nyaman buat orang Eropa dan sangat tidak nyaman buat orang dari daerah garis katulististiwa seperti aku.

Sekali kali orang belanda tersenyum dan menyapa, sementara aku sibuk menguyah kue panekoek, kue khas Belanda yang rasanya enak sekali, yang boleh diambil sebanyak banyaknya di depan gereja seusai misa tadi. Sudah 2 minggu ini aku ikut misa dalam bahasa Belanda, karena tidak ada misa (Sunday mass), dalam bahasa Inggris atau Spanyol. Alhasil, selama khotbah berlangsung dari Uskup Groningen-Leuwarden-Mrg. Gerardus, aku hanya bisa melongo indah tidak mengerti apa apa.

Melihat pohon maple yang daunnya mulai berubah menjadi merah, serta hamparan ladang gandung yang sudah menguning, tiba tiba aku teringat pada kejadian puluhan tahun silam, saat aku bocah kecil yang bertelanjang dada, hanya menatap hampa hamparan jerami padi kami yang habis dipanen dan pohon karet yang berdaun merah dan mulai gugur. Mataku tiba tiba berkaca kaca, kini aku di sini sekarang, sebuah negeri  yang aku anggap sebagai negeri dongen saat aku berumur 5 tahun, kini aku berlari kecil men yusuri trotooar di pinggiran kanal yang bersih. Aku juga tidak bisa memahami  sebuah misteri Ilahi, bagaimana mungkin aku bisa di Eropa yang jelas jelas sesuatu yang sangat sangat tidak mungkin jika dilihat dari sudut pandangku sebagai bocah 5 tahunan dulu.

Gerimis sudah menghilang, aku mencoba duduk di bawah bangku di bawah pohon maple. Burung gagak hitam berkeliaran mencari makan di dekat kakiku, aku tersenyum menatap langit. Kini aku di sini!, sebuah tempat yang tidak pernah aku mimpikan dalam hidupku, kini aku bisa sekolah-yang bagi aku- sudah cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari yang aku bayangkan ketika bocah, yaitu sekolah agar bisa berhitung dan menjual pisang dan jamur, bisa menulis dan mencoret dinding pondok kami dengan arang.  Hatiku bergerumuh, terima kasih ya Allah atas keajaiban ini, terima kasih ya Tuhan atas cinta dan anugerahmu, terima kasih ya Tuhan atas kehidupan ini. Dahan maple terus bergoyang, anggun, lembut, dibelai angin ahir musim panas, aku tiba tiba sangat merindukan anakku-Joseph-yang berumur 2 tahun dan lagi sangat sangat lucu, aku rindu akan istriku yang selalu mencintaiku sebagaimana adanya, yang selalu menenangkan jiwaku, aku kangen pada wajah tua ammah dan inneh (ayah dan ibu) yang sejak puluhan tahun lalu berkerja keras di ladang agar kami bisa hidup. Perlahan butir butir bening jatuh dari sudut mataku………..

Aku beranjak pergi menuju rumah sewaan kami…..aku diam…..gundah..resah….dalam rindu dan haru yang tak bertepi…..

 

 

 

Leeuwarden, The Netherlands

 

September 2012-09-12

David


1 Comment

Perbedaan…..Huan Idarangan andri 10 taun Idarangan

Perbedaan…..Huan Idarangan andri 10 taun Idarangan

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

 

Dami sa wawei batang kingking :

 

Wawei : “Yang, kingkingku batan” (*lengan na ulah ulah numpan hedu)

Upu : “aduh, sayang…puang malu leh sayang” (*nyesep bureh ira kingking, masang uruwawa raja panik)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

Wawei : “Pah, kingkingku batan” (*magun hamen hedu xi xi)

Upu :  “Temeh………hang awe sa nganak mate??, luwan eauku ada hanrias bawang nelang nonton sinetron!”

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa lagi hang mall atau pasar :

 

Wawei : “Yang, aku hamen gaun yeru..” (*kuit kuit kingking nutui gaun rarang)

Upu : “Demi sayang…ayo tarueh midini, pasti sayang magin mawiney” (*ngungkar duit pateke-an gaji erang wulan bagawi)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

Wawei : “Pah, aku hamen gaun yeru..” (*kuit kuit kingking nutui gaun rarang)

Upu :  “Inun sa wangunnu mamah? Aur  hamen midi gaun eleh, baju hang lewu puang muat lamari???”

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa wawei bapupur bagincu tamam, wiwi mariyang marede hindra:

 

Wawei : “Yang……” (*kitik kitik hindra jalan paunan hamen ngantelui)

Upu : “wow sayang lah..ane puang kataru aku, mawiney tuu hanyu yang, wiwini jalah wiwi Angelina Jolie hindra” (*mawiney atau puang, puang masalah penting menggombal)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

Wawei : “Pah, “Yang……” (*kitik kitik hindra jalan manu waukan ete)

Upu :  “ngunu ma awe sa hanyu mah?? riyang gincu kayiri? Jalah sa artis hindra!?”

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa wawei makai gaun seksi, sepatu amau tumit jalah jarangkang, make up iri2 hi Syahrini:

 

Wawei : “Yang……” (*jay jay jangkau ngalut jangkau Model hang Elite Model Inc)

Upu : “Gilaaaaaaa…..Astaga…..bauntung tuu aku na, upu biasa biasa ai, tau memiliki hanyu sa mawiney jalah hi Nadya Hutagalung” (*rayuan pulau angang kaluar

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

 

Wawei : “Pah, ……..” (*jap jap jangkau na ulah2 numpan anggun jalah di Titik Puspa)

Upu :  “ngunu ma awe sa hanyu mah?? Ulah makai baju dinung ulun saparu umu ape hang luar kayiri? Ang itatuehan hindra!, hinang sandri!”

 

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa wawei padangan, lalu ngundang pacar/tunanganni kuman hang lewu dengan menu “saluang baya tuku na sumap baya teung asem”

 

Wawei : “Yang, marauh kalo luenku? Kuman wahai wahai yang lah?……” (*;puang iyuh puang harus nyakui nahi luen ma lumah sa upu

Upu : “bauntung tuu aku na, sagar uweng darangan mawiney nelang pannai padangan jalah Chef Marinka hindra “(*padahal ikere budas, erang luen ang kakudarat budas)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

 

Wawei : “Pah…! Kuman haut! Ada aur Facebookan tarus!! ……..” (*sakuy nahi ma lumah masing masing he he he)

Upu :  “Inun ngulah sa erang luen nu mah? Hampe sa mapait budas..puang ule kuta…awe luen kalumpe penah andrau nien, aku kakan sa hiye” (*padahal kalumpe nien ulahan darangan pada eh)

 

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa upu tamam agak iri2 jalah aktor  Korea hindra, jambul jalah udi kekeh manu, parfum Perancis mampaur hindra enguhni……..

 

Wawei : “Yang, hanyu ngunu ma awe? Bangga nanamni kadinung sayang rapi nelang wangi (*dami la lagi jatuh cinta, inun sa taruni la arti kata “wangi” ru basa maanyan”

 

Upu : (*suni, tersipu malu…..

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

 

Wawei : “Pah…! ngunu ma awe sa hanyu tamam agak jalah Abege hindra? Inun yiri ngunu ngantara sa anum lagi sah??? (*ngadidit tanpa alasan).

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa upu hobby tuu niba elektronik, tiao andrau garuit garuwak makai obeng ma kawan TV, Radio, Tape dan lain lain

 

Wawei : “Calonku ru wahai ketampilanni, selain pintar hantek hanye kuliah yari, hanye pannai barang tangakaeh kawan TV, Radio “ (*bangga, iwawara ma kawan hengau wawey sa huan kahaba calon)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

 

Wawei : “Pah…ada aur igaruit kawan TV yiri emah magin rusak!!, atet ma hi Rahmat hang pasar ru, elah hanye nangkaehni, duhu sa bayar ekat 50 ribu (*marempeng hindra iraraat penah malem, daya aheng sa hanye wuah garuit, inna sa butuk TV na garuit he he).

 

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

Dami sa upu aur ngurus satua keleleuanni, 2 kaukui jagau mariyang, 2  kaukui wurung, erang kaukui duyu”

 

Wawei : “Calonku ru halus perasaanni, pe nyanyang binatang bo…., ulunni pembersih tuu” (*bangga, iwawara ma kawan hengau wawey sa huan kahaba calon nelang gemai mutu pusuk suku hang lehung watang he he)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

Wawei : “Pah…ada aur ngurus situa tarus, teka kaiyat hampe kamalem aur sa ngurus duyu katiya duyu eleh, jalah puang uweng anak darangan hindra!!” (*mamperat ngunyak ammau malem).

 

Hantek huan idarangan, alias masih pacaran atawa tunangan :

 

Upu :  “yang….aku haus…”

Wawei : “andrey erang itus lah sayang….(*badadas ngulah es teh erang galas hante nelang mamis bangat he he)

Hantek 10 taun Haut Idarangan :

 

Upu :  “Mah….aku haus…”

Wawei : “NAH ULAH RAERAIIIIIIIIII…PUANG KADINUNG SA HANYU AKU LAGI NGAMPUMU GENNA???”

 

 

#@%^%(**_)+_*&(&%^&(

 

Ha ha ha ha

 

 

 

 

 

 


38 Comments

Who Am I???

inilah dirikuNama saya David Suwito, terlahir sebagai Putra Dayak Maanyan sebuah sub suku Dayak di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan di sebuah dusun kecil (sekarang desa) Betang Nalong, 18 Km dari Pusat Kota Tamiang Layang Barito Timur. Sebagai Putra Dayak Maanyan Benua Lima (Warukin-Tewah Pupuh-Bentot-Pulau Padang), saya sangat mencintai budaya Dayak Maanyan Benua Lima, melalui blog yang sangat sederhana saya ingin berbagi dengan semua tentang kekayaan budaya Dayak Maanyan baik kulinernya, adat istiadat, tradisi, seni  dan sebagainya.

Lama bekerja sebagai conservatoris di NGO Internasional The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Regional kalteng, dan latar belakang pendidikan bidang kehutanan juga membuat saya sangt mencintai Hutan ,Lingkungan,  kehidupan masyarakat Dayak pedalaman, kearifan lokal masyarakat Dayak, Konservasi hidupan liar khas Kalimantan, upaya upaya advokasi terhadap keberadaan dan kehidupan masyarakat di dalam hutan.

Saya seorang pengais ilmu, selalu belajar dari segala hal, tidak mementingkan gelar akademik sama sekali….belajar dari siapa saja…pendidikan formal saya mulai dari belajar Manajemen Hutan, Universitas Palangka Raya, kemudian Diklat Fungsional Widyaiswara, kembali lagi mengais ilmu Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Padjajaran,Bandung, belajar Manajemen Lingkungan dan Energi Twente Universiteit, Enchede, The Netherlands, belajar juga di Van Laurenstein Hoge School, Leeuwarden, The Netherlands, dan saya tetap berharap bisa belajar kembali di Universitas Idaman saya : Leiden University di Leiden The Netherlands, atau di Brisbane, Australia.
Saya juga sebagai suami, dan ayah dari satu orang anak (untuk sementara, semoga bisa cepat nambah anak lagi he he he), “profesi” sebagai kepala rumah tangga merupakan suatu yang paling saya banggakan, tentu saja saya bukan suami dan ayah sempurna, tapi setidaknya saya berusaha, belajar, dan memperbaiki diri dari kesalahan sehari hari.
Sebagai Pelayan Masyarakat, saya yang beker ja di Depertemen Kehutanan Republik Indonesia, yang di tempatkan pada bagian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Kehutanan, saya juga suka belajar dan berdiskusi tentang upaya upaya meningkatkan profesionalitas aparatur kehutanan/PNS kehutanan dalam melaksanakan tugasnya. Melalui blog ini saya berharap dapat berbagi pengetahuan tentang kediklatan dan pendidikan Orang dewasa dengan para pendidik Dosen, Guru, Widyaiswara, Guru Besar Kependidikan dan Praktisi Pendidikan, untuk kemajuan bersama

Salam

David. S


1 Comment

Mengenang mereka yang telah pergi

Mereka yang telah mendahului aku……..
Besok adalah hari ulang tahunku. Aku dilahirkan pada tanggal 10.10.1980 jam 10.10 WITA di sebuah dusun terpencil pedalaman Kalimantan Tengah. Makanya angka 10 seakan menjadi angka keramat bagi aku hingga pada saat ini. Dilahirkan sebagai anak Dayak Maanyan asli, aku diberi nama yang “aneh” yaitu “Suwito”, nama yang sampai sekarang diprotes teman temanku, karena aku bukan orang Jawa. Padahal penyandang nama Suwito bukan hanya orang Jawa tetapi juga orang Dayak dan warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
Aku lahir dan tumbuh menjadi bayi yang sehat, gemuk dan gemar menangis, di sebuah dusun kecil. Dusun ini terletak di pinggir jalan HPH yang berdebu. Tiap hari kami hanya melihat dan menonton, ratusan batang kayu kayu meranti yang berdiameter lebih dari 1 meter diangkut entah kemana. Kami tidak boleh protes, tidak boleh mempertanyakan kemana kayu kayu itu dibawa, karena pemilik perusahaannya adalah keluarga pak “Dia yang Tak Boleh Disebut”, bapak yang sangat dihormati sangat bapak pembangunan.
Aku tumbuh menjadi anak yang kritis, sering mengajukan pertanyaan yang “berbahaya” tentang eksploitasi hutan yang barbar itu. Tapi jawabannya sama, kayu ditebang untuk membangun negeri tercinta nusantara, dengan tujuan mewujudkan manusia yang adil dan makmur. Walaupun kemakmuran orang orang disekitar hutan meranti nan kaya raya itu tak masuk hitungan.

Saat ini, di kamar kosku yang terletak di lantai dua dengan pemadangan kota Bandung yang hiruk pikuk, sesaat aku termenung, merenungi arti 31 tahun perjalanan hidupku, suka duka, perjuangan penuh liku, keringat dan air mata, dan yang paling penting adalah penuh keajaiban!!, in GOD everything is possible…!. Saya bersyukur, apapun yang telah saya dapatkan saat ini, walau dengan sangat banyak kekurangan yang saya miliki.
Dalam ketermenungan, aku terkenang kepada mereka meraka yang telah mendahului aku….mereka yang pernah hadir dalam kehidupanku, dan terenggut dari kenangan, mereka yang harus mengahiri perjalanan hidup didunia ini, karena ajal telah menjemput.

Aku pertama kali mengenal arti kehilangan saat berumur 4 tahunan, saat itu saya mempunya sepupu yang umurnya hanya terpaut beberapa bulan dengan aku. Namanya Gatot (*lagi lagi mirip nama Jawa”), dia anak kakak tertua mamahku yang kami panggi Ammah Tueh Ammah Semek. Ammah Tueh ini, selain seorang petani ulung dan penyadap karet juga paranormal yang paling terkenal di daerah kami (*jadi aku masih ada keturunan paranormal). Setiap hari, rumah Ammah Tueh yang terletak di Desa Pulau Padang, sangat banyak dikunjungi orang untuk meminta “bantuan”, yang paling sering adalah minta kesembuhan, ada beberapa kasus minta agar suami/istri menjadi setia, ada yang minta “dimudahkan” jodoh. Pokoknya rumah Ammah Tueh selalu penuh dengan tamu tamu dari berbagai penjuru. Kembali ke Gatot, sepupuku sekaligus anak paranormal nan terkenal itu, tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, gemuk, suka memimpin, pemberani dan sangat egois dan tidak mau mengalah (*aku biasa salah satu korbannya).
Saat itu semua keluarga besar dari Ineh (mamah) berkumpul di rumah Ineh Tueh, atau kakak mamahku yang lain (adiknya papah Gatot) karena ada acara keluarga, aku lupa acara apa, yang pasti ada memotong beberapa ekor iwek dan puluhan ekor ayam kampung. Gatot sangat dominan dan egois, dia meminta potongan daging bakar terbesar, dia harus pertama membuka dan memakan durian papaken nan kuning tebal itu, anehnya aku gak protes, dan rela mengalah. Setelah kekenyangan kami duduk di sebuah batang kayu yang membujur membelah ladang Inneh tueh. Saat itu Gatot, menanyakan kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi apa?, dan aku jawab dengan sangat yakin, aku ingin menjadi sopir logging truk yang mengangkut kayu meranti yang besar.
“Aku tidak ingin jadi siapa siapa, walapun ingin, juga tak ada gunanya, aku tahu..tak lama lagi aku pergi, pergi ke suatu tempat baru, dimana aku harus mengawali semuanya dari awal, tanpa siapa siapa” kata Gatot dengan mata menerawang. Saat itu aku tidak terlalu mengerti, sebagai anak umur 4,5 tahun, mungkin aku tak secerdas Gatot dalam mencerna kata kata, namun yang aku tahu, mukanya benar benar sedih tak berujung…..

Keesok harinya, Ineh berkata bahwa hari ini kami harus ke Pulau Padang, tempat Ammah Tueh karena Gatot telah meninggal dunia tadi malam. Aku terhenyak, aku kalut, aku bingung, itu saat pertama aku mendengar kata “kematian”. Sebuah kata yang tidak bisa aku definisikan dengan tepat. Kakak Sepupuku, Keye, yang berumur 7 tahun mendefinisikan “mati” adalah tidur dan tidak bangun lagi, sehingga badannya harus dikubur dan rohnya telah pergi kea lam lain seperti angin. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa arti kehilangan. Aku tak menangis. Aku hanya diam terpaku, melihat jenazah Gatot yang gemuk itu dimasukkan ke dalam peti mati yang terbuat dari kayu gaharu. Wajahnya sperti tidur, senyumnya masih ada…dan sesaat kemudian dia dibawa ke ujung kampung, tempat pekuburan orang Kaharingan, dalam senyum dan sepinya, dalam kesendiriannya, dia dikubur..dikubur!….sungguh menakutkan. Saat ini Gatot mungkin dilupakan oleh sepupu sepupu yang lain, tapi masih hidup dalam sanubariku..masih jelas tawa riang dan lompatan tingginya saat mandi di sungai patangkep…sudah 26 tahunan….Gatot masih ada di sini. Di sanubari yang terdalam. Dalam kenangan getir dan kelabu. Satu hal yang tidak bisa aku lakukan adalah membayangkan bagaimana kalau dia masih hidup sampai sekarang, akan kah kami akan berdiskusi membahas isu isu politik dan lingkungan? Ataukah curhat masalah keluarga masing masing?. Aku tak bisa membayangkan seperti itu, yang ada di benakku adalah Gatot kecil, hitam manis dan gemuk, lincah dan dominan. Saat ini, aku tahu Gatot sudah bahagia di alam sana.

Kehilangan kedua adalah ketika teman sebangku SMPku meninggal dunia. Namanya “Manduh”, berasal dari desa sebelah yang disebut “DESA MATARAH”,namanya yang lebih dayak dari aku, dengan pipi yang tembem dan mata yang bulat dan bersinar. Manduh adalah orang yang periang, selalu bersiul siul dan hidup tanpa beban. Pun bila mendapat kesulitan dalam pelajaran, dia selalu riang dan tanpa beban, beda dengan aku yang cenderung mudah stress. Hal paling saya ingat adalah bahwa Mandoh tidak pernah khawatir akan segala sesuatu. Dia percaya bahwa segala sesuatunya ada yang mengatur. Yang paling saya ingat perkataannya adalah “Tertawalah dan bergembiralah….buatlah orang lain juga bergembira dan bersuka cita, karena hidup kita singkat, jangan pernah ada air mata”. Setamat SMP, kami memilih sekolah yang berbeda, dia memilih sekolah di SMK Pertanian, sementara aku ke SMU.

Tiga bulan pertama di SMU, aku ketemu Mandoh sebuah acara, tawanya masih riang seperti dulu, badannya semakin tinggi, setelah ngobrol panjang lebar, satu hal yang aku ingat dia katakan malam itu. “Vid…..entah mengapa, aku merasa dunia ini seakan semakin asing, seolah aku tak cocok lagi di sini, hatiku berdebar debar, seolah ada yang akan menjemput aku, untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak aku kenal”, aku terhenyak, dan dengan bercanda aku katakana bahwa dia korban sinetron murahan, tapi oh Tuhan…mukanya serius, dan muka serius itu baru aku lihat untuk pertama dan terahir kalinya.

Seminggu kemudian firasat buruk itu terbukti, Mandoh meninggal dunia dengan tenang. Sekali lagi aku terpukul, aku tak sanggup secara mental untuk melihat dia untuk terahir kalinya. Aku hanya berdoa, agar dia dapat kebahagian abadi di sorga.

Itu hanya 2 dari teman dekat aku yang telah pergi untuk selama lamanya. Saat ulang tahunku ini, aku masih ingin mengenang mereka.

Kini, waktu menunjukkan pukul 20. 48, beberapa jam lagi ulang tahunku ke 31. Aku ingin bersujud dan bersyukur kepada Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Atau kesehatan, atau kebahagian, atas penyertaan dan mujizat mujizat nyata yang telah aku terima hingga pada saat ini. Dalam segala kekuranganku, aku boleh memilik pekerjaan, aku memilikin anak istri yang sangat mencintai dan aku cintai, aku punya keluarga besar yang saling mengasihi, aku punya pekerjaan sederhana sebagai jalan untuk mendapat rejeki, aku punya banyak teman saling berbagi dan menguatkan. Terima Kasih ya Allah…aku percaya mujizatnya-Mu akan terus mengikuti langkahku, aku percaya rencana-MU selalu indah. Aku ingin seperti Bunda Maria yang penuh iman berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut Kehendak-Mu” atau seperti Mother Teresha “ hidup dalam kasih dan mengasihi…melayani Tuhan melalui sesame, orang orang yang kelaparan dan terbuang…., cinta tak pernah habis..cinta adalah segalanya”

“Tuhanlah Gembalaku, aku terjamin selalu…meskipun di dalam gulita, akupun tak gantar, karena Tuhanku selalu…membimbing jalanku”

Terima Kasih Tuhan

Bandung 09.10.2010


4 Comments

Kenangan masa kecil anak Dayak

Kenangan itu muncul kembali Setiap tahun Ammah (ayah), sebagaimana keluarga Dayak Maanyan tahun 1980-an, membuat ladang yang luas, ditanam padi, jagung dan sayuran untuk tahun pertama, tahun kedua ditanam pisang, ubi ubian dan aneka sayuran dan tahun ketiga yang tersisa hanya tanaman karet yang akan dipelihara dengan sebaik baiknya, karena menurut Ammah di situlah masa depan saya. Saya protes keras, tidak pernah dalam impian saya untuk menggantungkan masa depan di pohon karet. Aku seorang pemimpi ayah….aku punya banyak cita cita, aku ingin naik pesawat, aku ingin makan kue kue enak, aku ingin pergi ke kota kota besar, aku ingin bertemu dengan orang dari berbagai belahan dunia, aku ingin ke ujung dunia, karena saat itu aku tidak percaya sama sekali bahwa bumi itu bulat, sangat tidak masuk akal (aku suka senyum sendiri kalo ingat “impian” saya waktu kecil). Biar punya cita cita yang “berbeda” dengan anak anak sebaya, aku tetap dapat tugas yang sama yaitu menjaga ladang, ketika orang tua punya “urusan penting”. Setahu saya urusan penting orang tua paling berkisar antara melayat orang meninggal, menghadiri undangan pernikahan dan acara lain, atau diwajibkan pemerintah orde baru untuk “pengarahan” di balai desa menjelang Pemilu agar memilih Partai “pendukung pemerintah” dan seterusnya, pokoknya kalau ada “urusan” maka kami anak anak di bawah umur jadi korban, harus ke ladang. Berhubung si hama bandel alias Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)gak peduli si empunya ladang ada “urusan” atau tidak, tetap saja berniat merusak ladang saban hari. Untuk menjaga ladang kami yang super luas itu, saya dan abang saya berbagi “wilayah kerja”, saya di sebelah barat yang menghadap lembah dan sungai, sedangkan abang saya di bagian timur yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Waktu itu koloni monyet ekor panjang memang banyak, dan entah bagaimana mereka bisa sepakat tentang “pembagian” wilayah kekuasaan, pokoknya as the result, sekoloni monyet seolah “berhak” merusak ladang bagian barat dan yang satu koloni lagi di bagian timur. Ladang bagian barat memang sangat subur, di sini tamanan ayah saya tumbuh subur mulai dari aneka sayuran, palawija, buah buahan dan tentu saja padi gunung atau dalam bahasa Dayaknya “parei lungkung”. Saya ingat tandan pisang “buhuk mariyang”, alias pisang termahal, terenak dan endemik Kalimantan menjuntai panjang dan besar. Ataupun tomat cherry (Gycopersicum esculentum Mill) yang bau daunnya benar benar tajam sangat lebat merah merona, sayur katuk tumbuh gemuk dan hijau, semuanya sayur organik, bebas pupuk organik maupun pestisida. Tempat favoritku terletak sebuah batang kayu Rurei atau Terap (Artocarpus sp ), kayu yang kira kira berdiameter 50 cm ini terletak di tengah ladang, terkulai di tanah karena ditebang saat pembukaan ladang, dengan cabang cabang yang besar, tempat aku duduk dan menaruh “bakatung” (sejenis ransel yang terbuat dari anyaman bamban/kulit perdu) yang di dalamnya berisi golok kecil, ketapel dan batu kerikil sebagai amunisi jika aku harus berhadapan dengan monyet ekor panjang alias warik dan monyet hitam alias weruk (Macaca pagensis). Pokoknya begitu mereka memasuki ladang kami, aku langsung menyatakan perang tanpa persetujuan DPR (he he). Monyet hitam dan monyet belanda atau bekantan (Nasalis larvatus)tidak terlalu bandel mereka masuk ladang hanya untuk mendapat makanan, kenyang dan dan pulang ke hutan. Monyet ekor panjang alias warik? Nanti dulu…ini monyet memang betul betul jahat, jahil, usil, iseng dan kurang ajar, makan tidak seberapa banyak tapi benar benar having fun dengan merusak semua tanaman, cabut sana sini, patahkan itu itu dan seterusnya. Koloni monyet ini dipimpin oleh seorang monyet jantan, yang kadang kadang nekat mengancam aku, untunglah ada Mas Bagyo, anjing hitam besarku, yang langsung menyerang jika monyet monyet itu berani mendekati tuan mudanya yang tampan ini he he Ketika “gencatan senjata” dengan musuh alias monyet monyet ini lagi tidak punya nyali untuk mengganggu ladang, aku selalu duduk di cabang pohon Rurei dengan banyak lamunan, kadang aku bicara sama Tuhan, memprotes sana sini, mengapa dulu menciptakan monyet dan hama hama pengganggu yang membuat saya dan anak anak sebaya harus “wajib militer” di usia sangat sangat dini menjaga ladang, kadang aku protes sama Tuhan mengapa hari mendung, sehingga aku tidak bisa menikmati awan putih berarak biru. Di batang pohon ini aku sering bicara sendiri, berbaring memandang langit biru. Aku anak kelas 2 SD, di sebuah SD kecil di dusun terpencil dengan guru guru lulusan SPG, yang hari demi hari hanya belajar reading-writing and counting. Sekolah di sekolah “pelayanan minimal” begini tak menghalangi aku, si bocah berpipi tembem, untuk mengukir mimpi dan cita cita setinggi langit, lha wong cuma mimpi kok ya setinggi tingginya lah, lagian aku tidak perlu malu, tidak ada orang lain yang tahu, hanya batang pohon Rurei, pohon pisang dan langit biru yang mendengar cita citaku. Monyet monyet di pinggir ladang? Aku sangat yakin mereka tidak mengerti masalah cita cita. Aku terlahir sebagai bocah yang lebih banyak berfikir bukan tangkas dan gesit sepeti abangku. Kepada Ineh (mama) dan Ammah (papa) aku bilang jangan samakan aku dengan abangku, abangku memang tipe pekerja, sementara aku tipe pemikir (padahal tidak jelas apa yang difikir he he). Singkat kata singkat cerita di batang pohon ini aku bicara sesuka hatiku, sepuas hatiku, dengan suara lirih atau keras, lepas, bebas, tanpa sensor, tanpa intimidasi dan tanpa ketakutan terjadi “grammatical error” he he. Sekarang terkadang aku iri dengan masa kecilku, penuh keceriaan, penuh mimpi, tanpa persoalan tanpa memikirkan hal hal yang berat. aku memang anak petani, tapi aku bukan anak fakir miskin atau peminta minta yang sering aku temui di Bogor, Jakarta atau Bandung. Aku bukan anak yang terancam kurang gizi. Ladang kami yang subur penuh buah buahan, sayur sayuran, padi yang wangi. Pun ketika kebuh buah buahan atau disebut “pulau” lagi berbuah, ada puluhan jenis buah di sana, manggis, rambutan Kalimantan atau “tanreket”, leycee Kalimantan atau “awiran” dan beberapa jenis durian (ada sekita 10 spesies, seperti papaken, maharawen, taitungan-pokoknya banyak-,manggis, langsat manis, dan puluhan jenis buah buhan lain. Sumber protein kami banyak sekali, tanpa harus membeli. Daging segar tersedia 2 kali seminggu-wawui, kakawe, parang, panaluk, termasuk ikan sungai yang besar besar dengan mudah didapatkan,dijebak, atau ditangkap, mau ikan segar? tinggal meriksa “wuwu” atau “tangakala”, (sebuah alat yang terbuat dari bambu dan digunakan untuk menjebak ikan). Memang aku tidak ingat apalah waktu itu aku ada uang atau tidak, tapi apa juga guna uang, credit card, debet card di tengah hutan belantara Kalimantan ini? Di ladang terpencil ini? He he Buah Favoritku waktu itu adalah taitungan (Durio borneensis), yaitu sejenis durian yang mempunyai duri yang panjang dan sangat tajam serta tidak mempunyai “ruangan yang teratur” dalam buahnya seperti kebanyakan durian, sehingga harus ditebas menggunakan golok untuk bisa mengambil dagingnya. Rasa buahnya sangat enak, dengan daging yang tebal, aroma durian yang tajam. Buah ini tersedia melimpah musimnya, sehingga aku dan abangku harus membawa ember besar sebagai tempat mengumpulkan daging duriannya dan akan dijadikan tempoyak. Tempoyak ini disimpan dalam stoples stoples kaca dan bisa bertahan sampai 6 bulan. Selain itu buah yang paling saya sukai buah damuran () atau sejenis salak hutan. Buah dan pohonnya memang mirip salak, namun biasanya tumbuh di daerah rawa rawa yang gelap, dan rasa buahnya berbeda dengan salak, damuran dagingnya lebih halus dan sangat manis. Suatu hari aku dengan membawa golok kecil dan “bakatung”, memasuk hutan damuran di dekat ladang. Buah damuran memang lagi banyak banyaknya, dan tanpa ketakutan dan banyak pertimbangan, dengan gagah berani aku masuk ke “hutan berduri” ini. Luar biasa, aku dengan mudah mendapatkan buah damuran di “hutan terlarang” ini. Disebut hutan terlarang karena tidak ada satupun orang tua mengijinkan anaknya untuk mendekati hutan ini, karena dikenal sebagi habitatnya ular “tadung mariyang” alias Tedung Merah, ular sejenis kobra ini, oleh orang tua tua jaman dulu dianggap ular “keramat” dengan bisa yang mematikan. Dihari yang bersejarah itu, aku benar benar berdiri dengan jarak 1 meter dengan ular “tadung mariyang” yang hanya aku dengar dari cerita cerita seram dan horror dari orang orang tua. Ular itu dalam posisi “setengah berdiri” atau posisi siap menyerang, atau paling tidak akan menyemburkan bisanya. Kakiku mendadak kaku, bibirku kelu, aku hanya bisa tetap berdiri dengan kondisi nyawa yang terancam. Orang tua dulu bilang, kalau ketemu ular “keramat” ini, walaupun tidak dipatuknya, ada kemungkinan akan meninggal 2-3 hari kemudian atau paling tidak sakit keras. Maka saat itu, aku hanya berfikir inilah ahir dari hidupku, aku tidak takut mati, namun aku tidak mau mati karena cita cita dan mimpi mimpiku banyak dan harus aku capai. Rupanya Tuhan berkehendak lain, pada detik berikutanya, si Tadung Mariyang nan berwibawa itu memutuskan untuk berpaling muka dan menyambar tupai merah yang kebetulan sama dengan aku yaitu sedang mencari buah damuran. Sejak kejadian itu sampai sekarang aku sangat phobia dengan buah “damuran”, suatu Phobia yang aneh dan susah dijelaskan dari sudut pandang ilmu psikologi, karena harusnya aku phobia ular tedung bukan phobia buah. Dibangku kuliah aku baru tahu, ulat tadung merah bukanlah sebuah species ular yang “keramat”, memang benar binatang itu sangat berbisa, dan jarang dijumpai, karena memang habitatnya di hutan yang gelap. Ular ini selalu jadi penghuni tetap hutan damuran atau salak hutan pada musim berbuah, karena mangsa utamanya adalah tupai, yang merupakan penggemar utama dari buah damuran. Sebenarnya ular ini sangat pemalu, dan hanya akan menyerang manusia ketika telornya terancam. Ular ini menjaga telornya dengan telaten dan rela kehilangan nyawanya demi menjaga telurnya. Lucunya ular ini akan meninggalkan telornya 1-2 hari sebelum anaknya lahir eh telornya menetas, artinya mereka tidak pernah bertemu anaknya. Si anak yang baru lahir dengan ukuran jari kelingking begitu keluar dari telornya langsung menjadi pribadi yang mandiri, pergi terpisah dengan saudara saudaranya, entah kemana dan mewujudkan impian apa, aku tidak bisa menduga lagi he he. Tahun 2011 Suatu hari di bulan Maret 2011, segera setelah mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, aku segera melanjutkan perjalanan ke kota Buntok, sebuah kota kecil ibu kota Kabupaten, tempat anak dan istriku tinggal. Perjalanan di tempuh dengan menggunakan travel mobil kijang Inova selama 4 jam melalu jalan yang sepi (Palangka Raya-Timpah-Kalahien-Buntok), jalan trans Kalteng ini baru di bangun beberapa tahun sebelumnya sehingga masih sepi dan jarang ada perkampungan. Rute ini aku tempuh nyaris tiap bulan sejak tahun 2010 ahir. Berawal dari Bogor ke Jakarta, terbang ke Palangka Raya, terus ke Buntok melalui jalan ini, seterusnya dari Buntok saya ke Samarinda, dari Samarinda ke Balikpapan, terbang ke Jakarta dan mayun di Bus Damri ke Bogor, begitulah bolak balik kayak sterikaan. Hari itu benar benar sial, mobil ban pecah di daerah padang ilalang antara Kampung Timpah dengan Lungkuh Layang. Ahirnya kami harus menepi dan mengganti ban. Sambil menunggu waktu aku nekat online menggunakan modem dengan kartu “merah”, modem ini pemberian temanku seorang peneliti hasil hutan dari Kupang, NTT. Aneh bin ajaib, sinyalnya penuh dan internetannya lancar. Pada saat itu seorang anak lewat, jantungku seakan berhenti berdetak, mukaku pias seketika. Lihatlah anak itu membawa golok kecil, sebuah “bakatung” dan ketapel beserta kerikil, mukanya bulat dengan pipi tembem, rambut kemerahan terbakar matahari. Anak ini persis aku hampir seperempat abad silam. Aku sapa dia dengan menggunakan bahas Dayak Ngaju dialek Kapuas (itulah hebatnya diriku menguasai 6 bahasa dunia-di kalteng, kalsel dan kaltim maksudnya he he). Namanya Penyang, kelas 3 SD umur 9 tahun dan mau ke ladang, menjaga ladang dari serangan monyet ekor panjang alias warik. Bener benar fotokopiku waktu kecil. Dia mau berhenti dan bercerita sebentar karena ingin melihat laptopku. Ku tawarkan roti “kartika Sari” pemberian temanku dari Bandung, untunglah dia tidak menolaknya. Saat aku tanya mimpi dan cita citanya. Persis sama dengan cita cita aku dulu. Betul betul pertemuan yang luar biasa. Saatnya kami berpisah, karena aku harus melanjutkan perjalanan ke Buntok, dan si kecil harus ke ladang, sendirian, dengan wajah ceria, menumbus jalan setapak di antara padang ilalang yang luas. Pergilan ke ladang dik, tapi tetap bermimpi dan berjuang…semoga cita citamu tercapai.